Debut Asian Games Berbuah Perunggu, Leica Lubis Akui Target Pribadinya Belum Tercapai

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 17:41 WIB
Leica Lubis Persembahkan Perunggu untuk Indonesia, Kegagalan ke Final Jadi Pelajaran.
Leica Lubis Persembahkan Perunggu untuk Indonesia, Kegagalan ke Final Jadi Pelajaran.

JAKARTA — Karateka Indonesia, Leica Al-Humaira Lubis, mengakhiri debutnya di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan medali perunggu. Meski berhasil membawa pulang medali dari nomor kumite +68 kilogram putri, atlet berusia 22 tahun itu mengaku pencapaiannya belum sepenuhnya memuaskan karena target pribadinya adalah menembus final.

Medali perunggu tersebut dipastikan Leica setelah mengalahkan karateka Kirgizstan, Begimai Orozalieva, dengan skor 6-1 dalam pertandingan perebutan tempat ketiga di Toyohashi Gymnasium, Aichi, Jepang, Minggu (20/9/2026). Hasil itu menjadi medali pertama Leica pada penampilan perdananya di Asian Games.

Bagi Leica, keberhasilan naik podium tetap menjadi pencapaian yang patut disyukuri. Namun, rasa kecewa masih tersisa karena ia merasa memiliki peluang untuk tampil dalam perebutan medali emas.

"Kalau bicara bersyukur, pasti bersyukur banget sama medali yang diperoleh. Soalnya sebenarnya untuk target yang dipublikasikan, itu memang medali target. Tapi kalau target diri sendiri, sebenarnya pengennya sampai ke final," ujar Leica dalam keterangan yang diterima media.

Target meraih medali memang berhasil diwujudkan. Akan tetapi, ambisi pribadi Leica lebih tinggi. Ia ingin melangkah hingga partai puncak dan mendapatkan kesempatan bertarung untuk emas. Kesempatan itu sebenarnya terbuka setelah ia berhasil melewati fase-fase awal kompetisi, tetapi langkahnya terhenti di semifinal.

Leica menghadapi wakil Thailand, Maneevan Butsuwan, pada babak empat besar. Dalam pertarungan yang berlangsung ketat, Leica kalah tipis dengan skor 3-4. Kekalahan tersebut membuatnya gagal melaju ke final dan harus turun di pertandingan perebutan medali perunggu.

Hasil semifinal itu menjadi bagian yang paling disesalkan Leica. Ia menilai peluang untuk mencapai final sebenarnya masih terbuka lebar berdasarkan bagan pertandingan yang dijalaninya.

"Kalau melihat bagan, untuk melaju ke babak final persentasenya masih besar. Peluangnya masih ada, besar banget. Tapi karena tadi saya meleset di semifinal, ya itu nggak bisa melaju ke final," tutur Leica.

Meski kecewa, Leica tidak membiarkan hasil semifinal mengganggu pertandingan berikutnya. Ia segera mengalihkan fokus ke perebutan medali perunggu. Langkah tersebut membuahkan hasil ketika ia tampil lebih baik dan mampu mengatasi Begimai Orozalieva dengan skor meyakinkan 6-1.

Kemenangan atas Orozalieva memastikan Leica tetap berdiri di podium Asian Games 2026. Medali itu sekaligus menjadi sumbangan dari cabang karate untuk kontingen Indonesia.

Perubahan situasi dalam waktu singkat menjadi bagian penting dari perjalanan Leica di Aichi-Nagoya. Setelah kehilangan kesempatan menuju final, ia harus segera mengembalikan fokus untuk menjalani pertandingan yang menentukan apakah dirinya pulang tanpa medali atau membawa perunggu.

Leica mampu melakukan hal tersebut. Ia mengakui pertandingan perebutan perunggu membuat dirinya dapat bermain lebih lepas setelah sebelumnya menghadapi tekanan besar pada semifinal.

"Untungnya di bronze medal, bisa setting ulang diri sendiri lagi, setting mood-nya bisa lebih lepas main di bronze medal," kata Leica.

Perunggu tersebut menjadi hasil yang cukup berarti dalam debut Leica di Asian Games. Sebelumnya, ia juga mencatat prestasi penting pada penampilan perdananya di SEA Games. Pada SEA Games 2025 di Thailand, Leica meraih medali emas nomor yang sama, kumite +68 kilogram putri.

Rangkaian pencapaian tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Leica di level multiajang terus berkembang. Namun, pengalaman di Asian Games memberikan tantangan tersendiri, terutama karena atmosfer dan tekanan kompetisinya berbeda dari kejuaraan yang selama ini diikutinya.

Leica merasakan perbedaan tersebut sejak keberangkatan menuju Jepang. Ia melihat sendiri bagaimana atlet dari berbagai cabang olahraga berkumpul dalam satu kontingen dan menjalani perjalanan sebagai bagian dari delegasi Indonesia.

Menurut Leica, suasana tersebut membuat pengalaman Asian Games terasa berbeda dibandingkan kompetisi tunggal cabang olahraga. Kebersamaan dengan atlet dari cabang lain turut memperkuat rasa sebagai bagian dari kontingen Merah Putih.

Atmosfer multievent itu menjadi pengalaman tambahan bagi Leica di luar pertandingan. Sebagai atlet yang baru pertama kali tampil di Asian Games, ia tidak hanya berhadapan dengan lawan di arena, tetapi juga merasakan lingkungan kompetisi yang mempertemukan atlet dari berbagai disiplin olahraga.

Namun, bagi Leica, nilai medali perunggu tidak hanya terletak pada hasil yang tercatat di podium. Ia memandang medali tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap perjalanan panjang yang telah dilalui sebelum sampai ke Asian Games 2026.

Latihan rutin, tuntutan menjaga kondisi fisik, serta disiplin menjalani persiapan menjadi bagian dari proses yang menurutnya tidak selalu terlihat oleh orang lain. Karena itu, ia memilih mempersembahkan medali tersebut terlebih dahulu untuk dirinya sendiri.

"Yang pertama pastinya balik lagi buat diri sendiri. Karena yang tahu bagaimana prosesnya itu, menurut saya, ya saya sendiri. Yang tahu bagaimana sakit-sakit badannya, bagaimana susahnya bangun pagi setiap hari, bagaimana susahnya nge-push diri sendiri setiap hari," kata Leica.

Pernyataan tersebut menggambarkan sisi lain dari keberhasilan seorang atlet. Medali yang terlihat di podium merupakan hasil akhir dari proses panjang yang berlangsung jauh sebelum pertandingan dimulai. Bagi Leica, hanya dirinya yang benar-benar mengetahui seluruh tahapan dan pengorbanan yang harus dilewati untuk sampai ke titik tersebut.

Setelah untuk dirinya sendiri, Leica mendedikasikan medali itu kepada keluarga, terutama ayah dan ibunya. Dukungan orang tua disebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai atlet.

Leica mengatakan kedua orang tuanya selalu hadir dalam berbagai situasi, baik ketika dirinya mengalami masa sulit maupun ketika berhasil mencapai prestasi. Karena itu, medali perunggu Asian Games 2026 juga menjadi bentuk penghargaan untuk mereka.

"Yang kedua, pasti buat keluarga. Buat ayah, buat umi yang selalu dukung, di manapun, kapanpun. Dalam titik terendah ataupun saat-saat seperti ini, mereka selalu ada," ujar Leica.

Bagi kontingen Indonesia, medali Leica juga menambah perolehan medali pada Asian Games 2026. Hingga laporan setelah kompetisi karate tersebut, Indonesia telah mengumpulkan satu medali perak dan empat medali perunggu. Perunggu Leica menjadi tambahan dari cabang karate setelah sebelumnya Indonesia memperoleh medali dari teqball, wushu, dan soft tenis.

Di nomor kumite +68 kilogram putri, perjalanan Leica sebenarnya masih menyisakan peluang lebih tinggi. Kekalahan tipis 3-4 dari Maneevan Butsuwan membuatnya harus mengubah target dari perebutan emas menjadi perebutan perunggu. Maneevan kemudian melaju ke final, tetapi kalah dari karateka Kazakhstan Sofya Berultseva dengan skor 0-8 dan harus puas dengan medali perak.

Dengan demikian, perunggu Leica bukan sekadar hasil dari pertandingan terakhir. Medali tersebut merupakan hasil dari kemampuannya bangkit setelah kegagalan di semifinal. Dalam rentang pertandingan yang singkat, ia harus mengesampingkan kekecewaan dan kembali bertanding dengan target mempertahankan peluang naik podium.

Hal itu menjadi salah satu bagian paling penting dari debut Leica di Asian Games. Ia memang belum mendapatkan kesempatan bertarung di final, tetapi tetap berhasil mengamankan medali setelah melewati pertandingan perebutan tempat ketiga.

Pengalaman tersebut juga memberi Leica gambaran mengenai aspek yang masih perlu diperbaiki. Ia sendiri merasa peluang menuju final sebenarnya cukup besar. Karena itu, kekalahan di semifinal tidak hanya menjadi hasil pertandingan, tetapi juga evaluasi untuk menghadapi kompetisi berikutnya.

Rasa tidak puas yang disampaikan Leica tidak menghapus rasa syukurnya atas medali perunggu. Dua hal tersebut berjalan bersamaan. Ia menghargai pencapaian yang sudah diraih, tetapi tetap menyimpan ambisi untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.

Sikap tersebut terlihat dari cara Leica memaknai medali yang dibawanya pulang dari Jepang. Perunggu menjadi bukti bahwa kerja kerasnya menghasilkan podium, sedangkan kegagalan menembus final menjadi pengingat bahwa masih ada ruang untuk berkembang.

Pada usia 22 tahun, Leica juga masih memiliki kesempatan untuk mengumpulkan pengalaman di berbagai kejuaraan berikutnya. Debut di Asian Games memberinya pengalaman bertanding di salah satu ajang olahraga terbesar di Asia sekaligus menghadirkan pelajaran mengenai tekanan pada babak-babak penting.

Perjalanan Leica di Aichi-Nagoya 2026 akhirnya berakhir dengan dua sisi. Di satu sisi, ia berhasil memenuhi target medali yang telah dipublikasikan dan membawa pulang perunggu untuk Indonesia. Di sisi lain, ia harus menerima kenyataan bahwa target pribadinya untuk mencapai final belum terwujud.

Kemenangan 6-1 atas Begimai Orozalieva menjadi penutup yang positif setelah kekalahan tipis di semifinal. Leica berhasil mengubah kekecewaan menjadi medali dan memastikan debutnya di Asian Games tidak berakhir tanpa podium.

Kini, perunggu tersebut menjadi bagian dari perjalanan karier Leica Al-Humaira Lubis. Medali itu dipersembahkan untuk dirinya sendiri sebagai penghargaan atas seluruh proses yang telah dijalani, sekaligus untuk ayah dan umi yang terus memberikan dukungan.

Bagi Leica, hasil tersebut memang belum menjadi akhir yang sempurna. Ia masih merasa mampu mencapai final. Namun, pengalaman di Asian Games 2026 memberikan modal penting untuk melangkah ke kompetisi berikutnya: sebuah medali di debut Asian Games, pengalaman menghadapi tekanan semifinal, serta pelajaran untuk kembali bangkit ketika target utama belum tercapai.

Editor : Mahendra Aditya
Karate Indonesia Leica Al-Humaira Lubis Leica Lubis Asian Games 2026 karate Asian Games 2026 perunggu Asian Games 2026