Timnas Indonesia diprediksi menjadi salah satu finalis FIFA ASEAN Cup 2026 dan berpeluang menghadapi Thailand pada pertandingan puncak. Analisis ASEAN Football menempatkan skenario Indonesia versus Thailand sebagai duel final yang paling banyak dijagokan, dengan persentase 29 persen. Skenario Indonesia melawan Vietnam berada di urutan berikutnya dengan 20 persen.
Prediksi tersebut muncul menjelang bergulirnya edisi perdana FIFA ASEAN Cup. Turnamen baru yang digelar FIFA itu akan berlangsung pada 24 September hingga 5 Oktober 2026, dengan Divisi 1 dimainkan di Indonesia. Delapan tim akan bersaing dalam dua grup untuk memperebutkan tiket ke final, sehingga jalan Indonesia menuju partai puncak akan sangat ditentukan oleh hasil pertandingan di Grup A.
Indonesia berada di Grup A bersama Malaysia, Singapura, dan Bangladesh. Sementara itu, Grup B dihuni Vietnam, Thailand, Filipina, dan Pakistan. Dua grup tersebut menggunakan format satu putaran, sehingga setiap tim akan saling berhadapan satu kali. Juara masing-masing grup kemudian bertemu di final, sedangkan tim peringkat kedua dari kedua grup akan memainkan pertandingan perebutan tempat ketiga.
Bagi Indonesia, prediksi tersebut menjadi tambahan sorotan sebelum turnamen dimulai. Skuad Garuda tidak sekadar berstatus sebagai tuan rumah Divisi 1, tetapi juga membawa target untuk meraih gelar pada penyelenggaraan pertama FIFA ASEAN Cup. Ketua Umum PSSI Erick Thohir bahkan menyebut turnamen tersebut sebagai kesempatan bagi Indonesia untuk meraih trofi. “Ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk memenangkan FIFA ASEAN Cup,” kata Erick seperti dikutip situs resmi AFF.
Prediksi ASEAN Football menempatkan Thailand sebagai lawan yang paling mungkin bertemu Indonesia di final. Skenario tersebut memperoleh angka 29 persen. Sementara kemungkinan Indonesia berhadapan dengan Vietnam di partai puncak berada di angka 20 persen. Angka itu merupakan hasil analisis atau prediksi, bukan hasil pertandingan maupun kepastian mengenai tim yang akan lolos ke final.
Peluang tersebut baru akan terwujud apabila Indonesia mampu menjadi juara Grup A dan Thailand atau Vietnam berhasil memuncaki Grup B. Format kompetisi membuat posisi akhir di fase grup sangat penting karena tidak ada semifinal. Tim yang finis di posisi pertama langsung mendapatkan tiket ke pertandingan perebutan gelar.
Indonesia akan memainkan seluruh pertandingan Divisi 1 di tanah air. Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta dan Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung ditetapkan sebagai dua venue pertandingan. FIFA mencatat Divisi 1 berlangsung di Indonesia, sedangkan pertandingan Divisi 2 dimainkan di Hong Kong China.
Pertandingan pertama Indonesia dijadwalkan menghadapi Singapura pada 25 September 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Setelah itu, skuad Garuda akan menghadapi Malaysia dan Bangladesh dalam rangkaian pertandingan Grup A. Jadwal tersebut menempatkan Indonesia dalam persaingan yang langsung menentukan peluang menuju final sejak laga pertama.
John Herdman tidak ingin timnya terlalu terbebani oleh siapa lawan yang akan dihadapi. Pelatih asal Kanada tersebut justru menyebut tantangan terbesar Indonesia berada pada kemampuan tim untuk menjaga standar permainan dan mentalitas sendiri.
“Saya pikir lawan terberat kami di turnamen ini adalah diri kami sendiri. Tim kami sendiri, mentalitas kami, standar kami sendiri,” ujar Herdman dalam konferensi pers FIFA ASEAN Cup di Jakarta.
Herdman tetap mengakui bahwa beberapa peserta memiliki kualitas yang patut diperhitungkan. Dia menilai Vietnam memiliki organisasi permainan yang kuat, disiplin, dan berpengalaman. Sementara Malaysia dan Thailand disebut memiliki pemain naturalisasi berkualitas.
“Saya pikir kami mempunyai tim yang kuat. Jika kami menjaga standar yang sudah kami tentukan sendiri dan bermain dengan semangat yang mencerminkan bangsa kita, serta dengan optimisme dan keyakinan bahwa kami mampu, tidak ada lawan yang seharusnya kami takuti,” kata Herdman.
“Di turnamen ini ada lawan-lawan kuat. Vietnam sangat terorganisasi, disiplin, dan berpengalaman. Malaysia dan Thailand juga akan membawa pemain naturalisasi yang berkualitas. Namun bagi kami, ini tentang mengalahkan diri sendiri lebih dulu,” lanjutnya.
Pernyataan Herdman tersebut menjadi konteks penting di balik prediksi Indonesia menuju final. Meski analisis eksternal menempatkan Garuda sebagai salah satu kandidat utama, jalan menuju partai puncak tetap bergantung pada hasil pertandingan di lapangan. Indonesia harus terlebih dahulu melewati persaingan dengan Malaysia, Singapura, dan Bangladesh.
Komposisi Grup B juga membuat skenario final Indonesia versus Thailand menarik perhatian. Thailand dan Vietnam berada dalam grup yang sama sehingga keduanya tidak mungkin bertemu Indonesia di final apabila salah satu dari mereka gagal menjadi juara Grup B. Persaingan di grup tersebut juga melibatkan Filipina dan Pakistan.
Thailand sendiri datang dengan komposisi yang cukup menarik perhatian. Pelatih Anthony Hudson telah mengumumkan 23 pemain untuk FIFA ASEAN Cup 2026, termasuk sejumlah nama berpengalaman seperti Chanathip Songkrasin dan Supachok Sarachat serta Jude Soonsup-Bell. Thailand juga membawa pemain yang berkarier di luar negeri.
Kehadiran nama-nama tersebut menjadi salah satu alasan Thailand masuk dalam skenario final yang banyak diperbincangkan. Namun, status sebagai tim yang diprediksi tampil di final tetap berbeda dengan kepastian lolos. Thailand harus lebih dulu bersaing dengan Vietnam, Filipina, dan Pakistan untuk merebut posisi teratas Grup B.
Vietnam juga tidak bisa dikesampingkan dari persaingan. Tim tersebut baru saja mempertahankan gelar ASEAN Hyundai Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand dengan agregat 4-2 pada final yang berlangsung pada Agustus. Catatan tersebut menunjukkan Vietnam datang dengan pengalaman sebagai juara regional terbaru.
Namun, FIFA ASEAN Cup memiliki konteks berbeda dari ASEAN Hyundai Cup. Turnamen ini merupakan kompetisi baru yang diselenggarakan FIFA dan melibatkan 14 tim dari kawasan Asia Tenggara serta tiga tim undangan. Kompetisi dibagi menjadi dua divisi, dengan delapan tim berada di Divisi 1 dan enam tim di Divisi 2.
Format tersebut membuat FIFA ASEAN Cup tidak bisa disamakan begitu saja dengan turnamen regional sebelumnya. FIFA menjelaskan kompetisi ini dirancang untuk memberikan kesempatan pertandingan internasional yang lebih kompetitif dalam kalender pertandingan internasional putra, sekaligus memperkuat hubungan sepak bola di kawasan Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, status sebagai tuan rumah Divisi 1 memberikan keuntungan dari sisi venue dan dukungan penonton. Namun, Herdman juga menyadari atmosfer pertandingan di Indonesia dapat menghadirkan tekanan tersendiri. Dia bahkan memanfaatkan pengalamannya menyaksikan pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung di SUGBK untuk memahami situasi yang mungkin dihadapi pemainnya.
“Saya mendapatkan pengalaman di GBK yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya,” kata Herdman setelah menyaksikan pertandingan Persija melawan Persib.
“Sekitar 60 ribu atau 70 ribu orang dengan atmosfer seperti itu berbeda dari semua yang pernah saya alami dalam karier sepak bola. Itu sangat intens. Melihat pemain tim nasional bermain dalam tekanan seperti itu dan diawasi begitu banyak orang membuat saya belajar banyak,” ujarnya.
Persoalan lain yang harus dihadapi Indonesia adalah kondisi skuad. Kapten tim nasional Jay Idzes dipastikan tidak dapat memperkuat Garuda di FIFA ASEAN Cup setelah mengalami cedera ketika membela Sassuolo melawan Juventus pada 14 September 2026. Idzes mengalami masalah otot dan ditarik keluar setelah bermain sekitar 80 menit.
Absennya Idzes menjadi kehilangan penting dari sisi pengalaman di lini belakang. Bek berusia 26 tahun tersebut sebelumnya menjadi bagian penting dalam pertahanan Indonesia. Namun, cedera membuatnya harus melewatkan agenda internasional kali ini.
Melalui media sosialnya, Idzes menyampaikan kekecewaannya karena kembali harus absen dari tim nasional akibat cedera. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sangat menantikan kesempatan untuk kembali membela Indonesia setelah sebelumnya melewatkan jeda internasional karena persoalan serupa.
Kondisi tersebut menambah pekerjaan rumah bagi Herdman sebelum pertandingan pertama. Pelatih harus menentukan komposisi pertahanan yang mampu menjaga keseimbangan tim tanpa kehadiran salah satu pemain yang selama ini menjadi bagian penting dari lini belakang.
Di sisi lain, absennya seorang pemain tidak mengubah format maupun target Indonesia di turnamen. Herdman tetap menekankan pentingnya kesiapan seluruh tim. Baginya, tantangan utama bukan sekadar mencari pengganti satu pemain, melainkan memastikan standar permainan tetap terjaga.
FIFA ASEAN Cup juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk tampil di hadapan pendukung sendiri dalam sebuah turnamen internasional yang baru. FIFA memastikan SUGBK dan Stadion Si Jalak Harupat menjadi venue Divisi 1. Pertandingan Grup A akan berlangsung di Jakarta, sedangkan Grup B dimainkan di Bandung.
Keuntungan sebagai tuan rumah tersebut membuat atmosfer pertandingan berpotensi menjadi salah satu faktor penting. Erick Thohir menilai kepercayaan FIFA kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional.
“Ini tentu merupakan sebuah kehormatan bagi kita semua. Saya berharap seluruh pemangku kepentingan sepak bola dapat bersatu untuk mendukung FIFA ASEAN Cup,” kata Erick.
Erick juga menyebut pengalaman Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 2023 sebagai salah satu alasan kepercayaan untuk menyelenggarakan turnamen tersebut. Menurut dia, pengalaman itu menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengelola infrastruktur stadion, keamanan, pelayanan pertandingan, dan kebutuhan logistik yang sesuai dengan standar FIFA.
Target menjadi juara juga memiliki arti tersendiri bagi sepak bola Indonesia. Tim nasional senior Indonesia terakhir kali meraih medali emas SEA Games pada 1991 ketika ajang tersebut masih menggunakan tim senior. Dalam perkembangannya, SEA Games kini menggunakan batasan usia U-23 untuk cabang sepak bola putra. Karena itu, target di FIFA ASEAN Cup menjadi kesempatan bagi tim senior Indonesia untuk mengejar gelar di level internasional regional.
Meski demikian, target dan prediksi harus dipisahkan dari hasil pertandingan. Analisis ASEAN Football yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu kandidat utama serta memprediksi final melawan Thailand hanyalah gambaran sebelum kompetisi berlangsung. Hasil sebenarnya akan ditentukan melalui pertandingan fase grup dan posisi akhir setiap tim.
Jika Indonesia berhasil memuncaki Grup A, barulah skenario menghadapi juara Grup B di final dapat terwujud. Sebaliknya, kegagalan finis di posisi pertama akan membuat prediksi tersebut tidak terjadi. Format satu putaran membuat setiap pertandingan memiliki arti besar karena tidak tersedia babak semifinal untuk memperbaiki posisi.
Pertandingan pertama melawan Singapura akan menjadi ujian awal bagi skuad Garuda. Setelah itu, Indonesia masih harus menghadapi Malaysia dan Bangladesh. Tiga pertandingan tersebut akan menentukan apakah tuan rumah mampu memenuhi prediksi untuk melaju ke partai puncak.
Di atas kertas, skenario yang paling banyak dijagokan saat ini adalah Indonesia bertemu Thailand di final dengan persentase 29 persen. Sementara Indonesia versus Vietnam berada pada angka 20 persen. Kedua angka tersebut memperlihatkan bahwa Thailand dan Vietnam sama-sama dipandang sebagai calon lawan Indonesia di fase akhir, tetapi prediksi tidak menghapus kemungkinan skenario lain.
Khusus Thailand, jalur menuju final harus melewati grup yang juga berisi Vietnam. Artinya, pertandingan antara dua tim tersebut berpotensi menjadi salah satu penentu utama siapa yang akan menjadi juara Grup B. Dengan hanya juara grup yang lolos ke final, kehilangan poin dapat berdampak langsung terhadap peluang menuju partai puncak.
Sementara itu, Indonesia harus berkonsentrasi di Grup A. Malaysia menjadi salah satu lawan yang disebut Herdman memiliki pemain naturalisasi berkualitas, sedangkan Singapura dan Bangladesh juga tidak boleh dipandang sebelah mata dalam format kompetisi yang hanya memberikan tiga pertandingan fase grup.
Herdman memilih menempatkan fokus pada internal tim ketimbang membicarakan calon lawan di final. Sikap tersebut sejalan dengan format turnamen yang membuat Indonesia harus melewati tiga pertandingan terlebih dahulu sebelum memikirkan pertandingan puncak.
FIFA ASEAN Cup 2026 pada akhirnya akan menjadi ujian bagi Indonesia dari berbagai sisi: target prestasi, tekanan sebagai tuan rumah, absennya beberapa pemain, serta tuntutan untuk menjaga konsistensi sepanjang fase grup. Prediksi ASEAN Football memberi gambaran bahwa Indonesia memiliki peluang untuk mencapai final, tetapi status tersebut belum menjadi jaminan.
Turnamen Divisi 1 dijadwalkan dimulai pada 25 September dan berakhir pada 5 Oktober 2026. Secara keseluruhan, FIFA ASEAN Cup berlangsung 24 September hingga 5 Oktober, dengan pertandingan Divisi 2 digelar di Hong Kong China. Sebanyak 14 negara ambil bagian dalam edisi perdana kompetisi ini.
Dengan persaingan yang terbagi dalam dua grup, perjalanan Indonesia menuju final akan dimulai dari pertandingan melawan Singapura. Hasil laga tersebut, dilanjutkan pertemuan dengan Malaysia dan Bangladesh, akan menentukan posisi Garuda di klasemen Grup A.
Untuk sementara, analisis ASEAN Football menempatkan Indonesia sebagai kandidat yang berpotensi melaju ke partai puncak. Skenario final Indonesia melawan Thailand menjadi yang paling dijagokan dengan 29 persen, sedangkan Indonesia versus Vietnam berada di angka 20 persen. Namun, prediksi itu baru akan diuji ketika pertandingan resmi FIFA ASEAN Cup 2026 dimulai.
Dengan target juara yang telah disampaikan PSSI dan fokus Herdman untuk menjaga standar internal tim, Indonesia memiliki agenda yang jelas di turnamen perdana tersebut. Garuda harus lebih dulu melewati persaingan Grup A sebelum dapat membuktikan apakah skenario final melawan Thailand yang paling banyak diprediksi benar-benar terwujud.
Editor : Mahendra Aditya