RADAR KUDUS - Krisis pribadi Pep Guardiola ternyata ikut membuka sisi paling manusiawi dari perjalanan terakhirnya bersama Manchester City. Dalam dokumenter Prime Video A Beautiful Obsession, Guardiola mengungkap kepada para pemain bahwa perpisahannya dengan Cristina Serra terjadi ketika gairah dalam hubungan mereka memudar. Pengakuan itu disampaikan setelah City kalah 0-2 dari Juventus pada fase liga Liga Champions, Desember 2024.
Guardiola kemudian menjadikan pengalaman pribadinya sebagai pesan untuk skuad. Ia meminta para pemain tidak sekadar bermain dengan kemampuan teknis, tetapi juga menghadirkan gairah dan dorongan dari dalam diri. Bagi Guardiola, sepak bola membutuhkan energi emosional yang sama kuatnya dengan kualitas taktik dan teknik.
Pengungkapan tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam A Beautiful Obsession, serial dokumenter empat bagian yang mengikuti dua musim terakhir Guardiola di Manchester City. Produksi ini dibuat dengan akses langsung ke kehidupan internal klub dan menampilkan ruang ganti, hubungan Guardiola dengan pemain, hingga proses perpisahannya dengan City.
Baca Juga: 27 Gol Musim Lalu, Haaland Terancam? Ini 10 Penantang Sepatu Emas Premier League
Pada periode yang sama, Manchester City memang sedang berada dalam situasi yang sangat sulit. Antara akhir Oktober dan Desember 2024, City hanya meraih satu kemenangan dalam 13 pertandingan di seluruh kompetisi dan menelan sembilan kekalahan. Kekalahan dari Juventus semakin memperbesar tekanan karena posisi mereka di fase liga Liga Champions ikut terancam.
Di tengah tekanan tersebut, Guardiola ternyata juga menghadapi persoalan besar dalam kehidupan pribadinya. Ia dan Cristina Serra mengakhiri hubungan setelah lebih dari tiga dekade bersama. Keduanya mulai menjalin hubungan sejak 1990-an, menikah pada 2014 dan memiliki tiga anak. Kabar perpisahan mereka pertama kali muncul pada Januari 2025 setelah keputusan berpisah diambil pada Desember 2024.
Guardiola tidak banyak membuka detail mengenai kehidupan rumah tangganya kepada publik. Karena itu, pengakuan yang terekam dalam dokumenter tersebut menjadi salah satu gambaran paling terbuka mengenai kondisi emosionalnya saat masih menangani Manchester City.
Tekanan pribadi itu juga beriringan dengan persoalan di lapangan. Guardiola dalam dokumenter mengakui dirinya mengalami kelelahan emosional. Setelah periode buruk City, ia bahkan mempertanyakan apakah dirinya masih mampu memberikan energi yang dibutuhkan klub.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa musim terakhir Guardiola di Manchester City bukan sekadar persoalan taktik, hasil pertandingan, atau pergantian pemain. Di balik keputusan-keputusan di pinggir lapangan, sang pelatih juga sedang menghadapi perubahan besar dalam kehidupan pribadinya. The Guardian menilai dokumenter tersebut secara khusus memperlihatkan sisi Guardiola yang lebih rentan dan jauh dari citra pelatih yang selalu tenang serta dominan.
Salah satu momen lain yang ikut mencuri perhatian terjadi dalam final Piala FA 2026 ketika Guardiola berhadapan dengan Erling Haaland di ruang ganti. Ia menuntut penyerang Norwegia tersebut meningkatkan intensitas permainan dan mempertanyakan apakah Haaland benar-benar kelelahan.
Guardiola meminta Haaland lebih aktif mengejar bola, menyerang ruang dan menunjukkan kualitasnya di kotak penalti. Teguran tersebut menggambarkan karakter Guardiola yang tetap menuntut standar tinggi meski dirinya sendiri berada dalam periode emosional yang berat.
Pada akhirnya, Manchester City memenangkan final Piala FA 1-0. Antoine Semenyo mencetak gol penentu kemenangan. Trofi tersebut menjadi salah satu penutup perjalanan Guardiola bersama City setelah hampir satu dekade menangani klub.
Guardiola bergabung dengan Manchester City pada 2016 dan membangun salah satu era paling sukses dalam sejarah klub. Selama masa kepemimpinannya, City meraih enam gelar Premier League, Liga Champions pertama dalam sejarah klub pada 2023, serta sejumlah trofi domestik lainnya. Total, Guardiola meninggalkan City dengan koleksi 20 trofi.
Namun, dokumenter tersebut tidak hanya bercerita tentang keberhasilan. Guardiola justru terlihat sedang mencari kembali keseimbangan hidupnya setelah bertahun-tahun menempatkan sepak bola sebagai pusat kehidupannya.
Dalam pengakuannya, mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munich itu mengatakan dirinya membutuhkan waktu untuk membereskan berbagai persoalan pribadi, menenangkan diri, dan menemukan kembali dirinya. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa kembali ke dunia kepelatihan bukan sesuatu yang mudah dilakukan dalam waktu dekat.
Dengan demikian, A Beautiful Obsession tidak sekadar menjadi dokumentasi tentang akhir era Guardiola di Manchester City. Serial tersebut juga memperlihatkan harga emosional yang harus dibayar seorang pelatih ketika pekerjaan, keluarga, tekanan prestasi, dan kehidupan pribadi bertemu dalam satu periode yang sama.
Pengakuan Guardiola tentang perceraian bukan sekadar cerita pribadi yang muncul di ruang ganti. Ia menggunakannya untuk menyampaikan pesan kepada para pemain: kemampuan saja tidak cukup tanpa gairah. Ironisnya, pesan itu sekaligus menggambarkan kondisi dirinya sendiri ketika memasuki penghujung perjalanan bersama Manchester City.
Editor : Mahendra Aditya