LEVERKUSEN — Rencana Bayer Leverkusen memulangkan Moussa Diaby mendapat gangguan serius dari Inter Milan. Winger Prancis tersebut kembali menjadi incaran klub-klub Eropa setelah masa depannya bersama Al-Ittihad memasuki persimpangan, dengan Leverkusen dan Inter sama-sama berusaha mengamankan tanda tangannya.
Leverkusen memiliki modal emosional sekaligus historis. Diaby pernah menjadi salah satu pemain paling berbahaya di Bundesliga ketika membela klub tersebut pada 2019 hingga 2023. Dalam periode itu, ia tampil 172 kali di seluruh kompetisi dan menghasilkan 49 gol serta 47 assist.
Performa tersebut membuat Aston Villa berani mengeluarkan sekitar €55 juta untuk memboyongnya pada 2023. Hanya setahun berselang, Al-Ittihad kembali menggelontorkan sekitar €60 juta untuk mendapatkan pemain Prancis tersebut. Reuters mengonfirmasi Diaby pindah ke klub Arab Saudi dengan kontrak lima tahun setelah menjalani musim di Villa yang menghasilkan 10 gol dan sembilan assist dari 54 penampilan.
Baca Juga: Ferran Torres Pilih PSG, Barcelona Pasang Harga €65 Juta
Kini, setelah dua tahun di Arab Saudi, Diaby kembali membuka pintu menuju Eropa.
Bayer Leverkusen menjadi salah satu tujuan yang paling masuk akal. Laporan Kicker menyebut klub Jerman tersebut telah melakukan pembicaraan lanjutan untuk membawa kembali mantan pemainnya. Namun, hingga perkembangan terbaru, belum ada kesepakatan baik dengan Diaby maupun Al-Ittihad. Nilai transfer yang diperkirakan berada di bawah €30 juta membuat kepulangan tersebut semakin menarik bagi Leverkusen.
Masalahnya, Leverkusen tidak sendirian.
Baca Juga: Mengejutkan! Werder Bremen Bidik Eks Striker €16 Juta Bologna untuk Perkuat Lini Depan
Inter Milan kembali muncul sebagai pesaing. Nerazzurri sebenarnya sudah mencoba merekrut Diaby pada Januari 2026. Saat itu, Inter bahkan disebut telah mencapai kesepakatan personal dengan sang pemain untuk kembali ke Eropa.
Sky Sport melaporkan Inter menginginkan skema peminjaman dengan opsi pembelian. Namun, Al-Ittihad menolak struktur tersebut karena klub Arab Saudi lebih menginginkan kepastian transfer permanen. Pada akhirnya, negosiasi gagal dan Diaby tetap bertahan di Jeddah.
Inter sendiri pernah mengajukan proposal sekitar €28 juta dalam skema pinjaman dengan kewajiban membeli, tetapi Al-Ittihad menolaknya dan disebut menetapkan valuasi sekitar €40 juta. Diaby akhirnya tidak pindah dan tetap terikat kontrak hingga 2029.
Kegagalan tersebut tidak menghilangkan ketertarikan Inter.
Justru profil Diaby sangat sesuai dengan kebutuhan permainan Nerazzurri. Ia mempunyai kecepatan tinggi, kemampuan melakukan duel satu lawan satu, serta fleksibilitas bermain melebar atau bergerak ke area tengah. Gazzetta dello Sport menilai karakter tersebut cocok dengan kebutuhan Inter terhadap pemain sayap kanan yang agresif dan mampu menyerang ruang.
Baca Juga: Roger Ibáñez Perpanjang Kontrak Al-Ahli hingga 2030, Sang Bek Brasil: “Keluargaku Ada di Rumah”
Bagi Inter, ada satu keuntungan besar: Diaby sudah menunjukkan bahwa dirinya bersedia kembali ke Eropa.
Pada Januari lalu, laporan Sky Sport menyebut sang winger telah mencapai kesepakatan dengan Inter. Persoalan utamanya bukan lagi meyakinkan pemain, melainkan mencapai titik temu dengan Al-Ittihad mengenai formula transfer.
Leverkusen mempunyai daya tarik yang berbeda.
Diaby tidak perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia sudah memahami Bundesliga, mengenal klub, dan pernah memainkan sepak bola terbaik dalam kariernya di BayArena.
Baca Juga: Mourinho Temukan Kunci Baru di Tengah: Bernardo Silva Mulai Tata Permainan Real Madrid
Empat musim bersama Leverkusen menjadi fondasi utama reputasinya di Eropa. Kecepatan, akselerasi, kemampuan membawa bola, dan kontribusinya di sepertiga akhir membuat Diaby menjadi salah satu winger paling menonjol di Bundesliga sebelum memutuskan pindah ke Premier League.
Karena itu, kepulangan ke Leverkusen bukan sekadar transfer nostalgia.
Klub Jerman tersebut berpotensi mendapatkan pemain yang sudah matang secara pengalaman tetapi masih memiliki kemampuan untuk memberikan perbedaan di level tertinggi.
Namun, ada satu faktor yang membuat Inter tetap menjadi ancaman serius: Liga Champions.
Jika Diaby memilih Inter, ia berpeluang kembali tampil di kompetisi elite Eropa dan bergabung dengan klub yang memiliki ambisi besar di Serie A. Leverkusen sendiri tetap menjadi klub papan atas Jerman, tetapi jalur kompetisi Eropa yang mereka tawarkan menjadi faktor yang dapat memengaruhi keputusan sang pemain.
Dari sisi finansial, situasinya juga tidak sederhana.
Diaby masih memiliki kontrak dengan Al-Ittihad hingga 2029. Klub Arab Saudi tersebut tidak memiliki kewajiban menjualnya dan sudah mengeluarkan investasi besar ketika merekrutnya dari Aston Villa. Karena itu, Al-Ittihad mempunyai posisi tawar kuat untuk menentukan harga.
Baca Juga: Real Madrid Era Mourinho Makin Mengerikan, Cucurella-Konate-Mbappe Sudah Bersatu
Namun, valuasi tersebut kini berbeda dengan dua tahun lalu.
Ketika Al-Ittihad mendatangkannya pada 2024, Diaby masih berada di usia 25 tahun dan baru menyelesaikan satu musim di Premier League. Saat itu, klub Arab Saudi menginvestasikan sekitar €60 juta untuk membawanya dari Aston Villa.
Sekarang Diaby telah berusia 27 tahun dan pasar transfer menilai situasinya berbeda. Penurunan harga menjadi salah satu alasan mengapa Leverkusen melihat peluang untuk memulangkannya.
Bagi Al-Ittihad, menjual Diaby dengan harga yang jauh lebih rendah daripada investasi awal tentu bukan keputusan sederhana. Tetapi keinginan sang pemain untuk kembali ke Eropa dan minat dari sejumlah klub dapat membuat negosiasi semakin terbuka.
Diaby sendiri juga mempunyai alasan olahraga untuk meninggalkan Arab Saudi. Ketika bergabung dengan Al-Ittihad, ia menjadi bagian dari proyek besar yang dihuni sejumlah nama terkenal. Namun, setelah dua musim, kesempatan kembali ke kompetisi elite Eropa dapat menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah berikutnya.
Menariknya, perjalanan Diaby di Arab Saudi tidak sepenuhnya buruk. Pada musim 2025/26, ia mencatat tiga gol dan 11 assist dalam 24 pertandingan di seluruh kompetisi menurut laporan Sky Sport. Angka assist tersebut menunjukkan bahwa kemampuan kreatifnya masih menjadi salah satu kekuatan utama.
Namun, dua klub Eropa melihatnya dari perspektif berbeda.
Inter melihat Diaby sebagai pemain yang dapat menambah kecepatan dan variasi serangan.
Leverkusen melihatnya sebagai pemain yang sudah memahami klub dan Bundesliga serta bisa langsung beradaptasi dengan sistem permainan mereka.
Di sinilah persaingan kedua klub menjadi menarik.
Jika Leverkusen mampu menyelesaikan negosiasi dengan cepat, mereka berpeluang mengembalikan salah satu mantan pemain terbaiknya dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada saat menjualnya. Sebaliknya, jika Inter bergerak lebih agresif dan menawarkan struktur transfer yang lebih menguntungkan Al-Ittihad, rencana reuni di Jerman dapat kembali gagal.
Baca Juga: Perang Kekuasaan FIFA Meledak! UEFA, AFC dan CONCACAF Bersatu Lawan Infantino
Untuk saat ini, belum ada kesepakatan final.
Leverkusen memang disebut sedang melakukan pembicaraan serius, sementara Inter mempunyai sejarah negosiasi langsung dengan pemain dan klubnya. Al-Ittihad tetap menjadi pihak yang memegang kendali karena kontrak Diaby masih berlaku sampai 2029.
Dengan demikian, transfer Diaby kini bukan sekadar cerita tentang pemain yang ingin meninggalkan Arab Saudi. Ini adalah pertarungan dua klub Eropa dengan daya tarik berbeda.
Leverkusen menawarkan nostalgia, lingkungan yang sudah dikenal, dan kesempatan kembali ke tempat ia mencapai level terbaik.
Inter menawarkan tantangan baru, peluang meraih gelar domestik, serta panggung Liga Champions.
Sementara itu, Diaby harus menentukan apakah masa depan terbaiknya berada di klub yang pernah membesarkan namanya atau di proyek baru yang menjanjikan tantangan berbeda.
Jika Leverkusen berhasil memenangkan persaingan, kepulangan Diaby akan menjadi salah satu reuni paling menarik di Bundesliga musim ini. Tetapi jika Inter kembali datang dengan tawaran yang lebih agresif, rencana comeback sang winger ke BayArena bisa kembali berubah menjadi mimpi yang tertunda.
Editor : Mahendra Aditya