JAKARTA — Tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin besar. Perselisihan yang semula dipicu kontroversi rencana investasi Piala Dunia kini berkembang menjadi pertarungan terbuka soal kepemimpinan dan tata kelola sepak bola dunia.
Presiden UEFA Aleksander Čeferin bersama Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa dan Presiden CONCACAF Victor Montagliani menandatangani surat terbuka yang berisi kritik keras terhadap kepemimpinan FIFA. Para sekretaris jenderal konfederasi kontinental tersebut juga ikut membubuhkan tanda tangan.
Surat itu tidak menyebut nama Infantino secara langsung. Namun, sasaran kritiknya sangat jelas, terutama terkait proses pengambilan keputusan di FIFA dan kontroversi rencana pengalihan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Reuters melaporkan, rencana tersebut diproyeksikan dapat menghimpun sekitar US$4,2 miliar dari investor.
Baca Juga: Dua Transfer Sekaligus? Juventus dan PSG Libatkan Zion Suzuki hingga Jonathan David
Para pemimpin konfederasi menilai persoalan yang terjadi bukan lagi sekadar kesalahan teknis dalam menjalankan sebuah proyek bisnis. Mereka mempertanyakan prinsip transparansi, konsultasi, akuntabilitas, serta batas kewenangan pimpinan FIFA.
Kontroversi tersebut bermula ketika FIFA mengembangkan rencana membentuk struktur komersial baru yang akan melibatkan investor swasta dan memberikan kepemilikan atas sebagian hak komersial kompetisi FIFA. Proposal itu mendapat penolakan keras dari UEFA dan sejumlah asosiasi nasional karena dianggap disusun tanpa konsultasi memadai dengan pihak-pihak yang menjadi bagian dari ekosistem sepak bola dunia.
Tekanan semakin kuat setelah FIFA akhirnya menarik kembali proposal tersebut. Namun, keputusan membatalkan proyek tidak menghentikan polemik. Justru, pembatalan itu menjadi bahan baru bagi para pengkritik Infantino untuk mempertanyakan bagaimana rencana bernilai miliaran dolar tersebut bisa berkembang sedemikian jauh sebelum memperoleh dukungan luas dari anggota FIFA.
Dalam surat terbuka terbaru, para pemimpin konfederasi menegaskan bahwa pertumbuhan FIFA dalam beberapa tahun terakhir tidak boleh dipandang sebagai hasil kerja satu orang. Mereka menekankan bahwa perkembangan organisasi merupakan hasil kontribusi seluruh keluarga sepak bola.
Baca Juga: Marmoush Cetak Brace, tapi Maresca Belum Jamin Masa Depannya di Manchester City
Pesan politik di balik pernyataan itu cukup kuat. Para konfederasi ingin menegaskan bahwa otoritas sepak bola dunia tidak boleh terpusat pada satu figur ataupun satu institusi tanpa mekanisme kontrol yang memadai.
Persoalan tersebut juga menyentuh masa depan kepemimpinan FIFA. Infantino telah mengumumkan dirinya akan kembali maju dalam pemilihan presiden FIFA 2027. Pengumuman itu disampaikan dalam Kongres FIFA di Vancouver pada Mei 2026, ketika ia meminta dukungan dari 211 asosiasi anggota FIFA.
Jika sebelumnya Infantino terlihat berada dalam posisi kuat menuju periode berikutnya, konflik terbaru membuat peta politik sepak bola dunia menjadi jauh lebih rumit. Dukungan terhadapnya memang masih besar, tetapi oposisi dari UEFA dan sejumlah federasi nasional menunjukkan bahwa pemilihan 2027 berpotensi berlangsung dalam atmosfer yang jauh lebih panas.
Reuters melaporkan bahwa FIFA saat ini masih memperoleh dukungan kuat dari sejumlah konfederasi dan federasi, termasuk CAF dan CONMEBOL. Hampir 70 dari 211 anggota FIFA disebut telah menyatakan dukungan kepada Infantino, sehingga tekanan dari Eropa belum otomatis berarti posisi presiden FIFA berada di ujung tanduk.
FIFA sendiri sebelumnya membalas kritik tersebut dengan menyebut adanya upaya yang terkoordinasi dan berkelanjutan untuk melemahkan organisasi serta presidennya. FIFA menegaskan bahwa setiap perubahan kepemimpinan harus dilakukan melalui mekanisme demokratis dan sesuai statuta organisasi.
Di sisi lain, kritik terhadap Infantino tidak hanya datang dari UEFA. Presiden LaLiga Javier Tebas bahkan menyatakan bahwa “era Infantino” telah berakhir dan menilai persoalan yang terjadi menyangkut arah tata kelola sepak bola secara lebih luas.
Norwegia juga menjadi salah satu pihak yang paling vokal. Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia Lise Klaveness telah menyerukan agar Infantino mengundurkan diri. Sementara itu, UEFA disebut tengah mempertimbangkan langkah lebih jauh sebagai bentuk tekanan politik terhadap FIFA.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kontroversi rencana investasi Piala Dunia telah berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar. Yang diperebutkan bukan lagi sekadar apakah proyek bisnis bernilai miliaran dolar itu layak atau tidak, melainkan siapa yang berhak menentukan arah masa depan sepak bola dunia.
Bagi UEFA dan sekutunya, masalah utamanya adalah proses dan akuntabilitas. Mereka menginginkan keputusan strategis FIFA dibuat melalui konsultasi yang lebih terbuka dengan konfederasi dan asosiasi anggota.
Bagi kubu Infantino, persoalannya berbeda. FIFA menilai keberhasilan finansial dan perkembangan organisasi selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa model kepemimpinan saat ini telah memberikan hasil. FIFA juga menolak tudingan bahwa proses politik di luar mekanisme resmi dapat digunakan untuk menggoyahkan kepemimpinan organisasi.
Karena itu, surat terbuka terbaru menjadi sinyal bahwa pertarungan kekuasaan di sepak bola dunia belum selesai. Rencana investasi yang sudah dibatalkan mungkin tidak lagi berjalan, tetapi dampak politiknya justru semakin besar.
Infantino masih memiliki waktu hingga Kongres FIFA 2027 untuk mempertahankan dukungan dari 211 anggota. Namun, dengan UEFA, AFC, CONCACAF, sejumlah federasi nasional, serta tokoh sepak bola lainnya mulai memperdebatkan arah kepemimpinannya, pemilihan presiden FIFA berikutnya berpotensi menjadi salah satu pertarungan politik paling sengit dalam sejarah sepak bola modern.
Editor : Mahendra Aditya