Infantino Mulai Terdesak! Rencana Komersialisasi FIFA Gagal, Dukungan untuknya Rontok

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 16:05 WIB
Presiden FIFA Gianni Infantino mewacanakan penambahan peserta dari 48 menjadi 64 tim. Usulan tersebut akan dibahas usai Piala Dunia 2026.
Presiden FIFA Gianni Infantino mewacanakan penambahan peserta dari 48 menjadi 64 tim. Usulan tersebut akan dibahas usai Piala Dunia 2026.

JAKARTA – Rencana besar Gianni Infantino untuk membuka sebagian aset komersial FIFA kepada investor swasta berakhir dengan kegagalan. Namun, persoalan yang ditinggalkan justru jauh lebih besar: masa depan Infantino sebagai Presiden FIFA kini mulai dipertanyakan menjelang pemilihan 2027.

FIFA telah menarik kembali proposal pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas komersial yang dirancang untuk mengelola berbagai aktivitas penghasil pendapatan seperti hak siar, sponsorship, dan tiket. Dalam rancangan awal, FIFA disebut berencana menjual hingga 20 persen saham entitas tersebut kepada investor eksternal dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai US$4,2 miliar.

Proposal tersebut memicu penolakan keras dari sejumlah konfederasi dan asosiasi sepak bola. UEFA menjadi penentang paling vokal. Bahkan, seluruh 55 anggota UEFA sempat menyepakati ancaman boikot terhadap kompetisi FIFA apabila rencana tersebut tidak dihentikan.

Tekanan itu akhirnya membuat FIFA mundur. Proposal tersebut ditarik sebelum benar-benar masuk ke tahap implementasi.

Namun, penarikan rencana tidak otomatis mengembalikan posisi Infantino seperti semula. Justru sebaliknya, kontroversi tersebut membuka persoalan yang lebih dalam mengenai tata kelola, transparansi, cara pengambilan keputusan, dan hubungan FIFA dengan enam konfederasi anggotanya.

Reuters melaporkan bahwa UEFA dan CONCACAF telah menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. AFC juga menyampaikan penolakan keras terhadap proses penyusunan proposal tersebut, meski tidak mengambil langkah sejauh ancaman boikot yang dilakukan UEFA.

Sejumlah asosiasi sepak bola nasional di Eropa bahkan mulai menarik dukungan yang sebelumnya diberikan kepada Infantino untuk pemilihan presiden FIFA berikutnya.

Wales menjadi salah satu yang pertama mencabut dukungannya secara terbuka. Serbia dan Swedia kemudian mengambil langkah serupa. Inggris juga disebut bergerak untuk mengikuti keputusan tersebut. Kritik mereka tidak hanya diarahkan kepada rencana komersialisasi, tetapi juga menyangkut kepemimpinan, transparansi, dan cara Infantino mengambil keputusan.

Situasi tersebut sangat berbeda dibanding beberapa bulan lalu ketika peluang Infantino untuk mendapatkan masa jabatan berikutnya terlihat sangat kuat.

Pada Mei 2026, Infantino secara resmi menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA. Ia menyampaikan rencana tersebut dalam Kongres FIFA di Vancouver dan menyebut dukungan dari 211 asosiasi anggota FIFA. Pemilihan berikutnya akan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Rabat, Maroko.

Kini jalan menuju pemilihan itu tidak lagi sesederhana yang diperkirakan.

Infantino membutuhkan dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA untuk kembali terpilih. Sistem FIFA memberikan satu suara kepada setiap anggota, sehingga jumlah anggota dari kawasan kecil sekalipun tetap memiliki bobot politik yang sama dengan negara-negara sepak bola besar.

Di sinilah pertarungan politik menjadi menarik.

UEFA memang memiliki 55 anggota dan merupakan blok terbesar dalam FIFA. Namun, kehilangan dukungan Eropa saja belum otomatis menjatuhkan Infantino. Konfederasi lain dan asosiasi anggota di berbagai kawasan masih memiliki suara yang menentukan.

Reuters melaporkan bahwa Infantino kini harus mengandalkan dukungan dari negara-negara yang selama ini menerima manfaat besar dari program pengembangan FIFA. Negara-negara kecil dan berkembang memiliki posisi strategis karena seluruh anggota FIFA memiliki satu suara dalam pemilihan presiden.

Program FIFA Forward menjadi salah satu faktor penting dalam hubungan tersebut.

FIFA menyatakan program Forward 3.0 memberikan dukungan kepada seluruh 211 asosiasi anggota. Untuk periode 2023–2026, setiap asosiasi dapat memperoleh kontribusi hingga US$8 juta, dengan alokasi untuk operasional, proyek pembangunan sepak bola, perjalanan, akomodasi, dan peralatan.

Karena itu, dukungan terhadap presiden FIFA bukan semata-mata soal popularitas. Ada kepentingan pembangunan sepak bola, pendanaan, infrastruktur, kompetisi usia muda, sepak bola perempuan, hingga pengembangan tim nasional yang ikut membentuk peta politik FIFA.

Namun, kontroversi FFE membuat hubungan tersebut kembali dipertanyakan.

Dalam proposal awal, FIFA Forward Enterprise dirancang sebagai perusahaan komersial yang akan mengonsolidasikan aktivitas penghasil pendapatan FIFA. FIFA berargumen bahwa langkah tersebut dapat membuka potensi komersial yang lebih besar dan menghasilkan tambahan dana bagi asosiasi anggota.

FIFA sebelumnya memperkirakan pendapatan organisasi pada siklus 2023–2026 akan menembus US$15 miliar. Presiden Infantino bahkan menyebut kesuksesan Piala Dunia 2026 membuka peluang investasi dan komersialisasi yang lebih besar bagi FIFA.

Namun, ambisi bisnis tersebut justru berubah menjadi krisis politik.

Penolakan terhadap FFE tidak hanya berkaitan dengan persoalan uang. Kritik terbesar menyasar proses pengambilan keputusan yang dinilai kurang transparan dan minim konsultasi dengan pihak-pihak yang terdampak.

AFC secara terbuka menyebut proses tersebut tidak dapat diterima dan meminta adanya reformasi kelembagaan, transparansi, serta konsultasi yang lebih baik di FIFA.

UEFA bahkan bergerak lebih jauh. Selain menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino, badan sepak bola Eropa tersebut telah mengambil langkah untuk menjaga dokumen dan bukti yang berkaitan dengan proposal tersebut karena kemungkinan adanya proses hukum. Laporan terbaru menyebut UEFA sedang mempertimbangkan langkah hukum terhadap FIFA.

Artinya, meskipun ancaman boikot terhadap kompetisi FIFA telah mereda setelah proposal ditarik, konflik antara FIFA dan UEFA belum benar-benar berakhir.

Justru babak baru kemungkinan segera dimulai.

Tekanan politik tersebut juga terjadi menjelang serangkaian agenda besar sepak bola perempuan dan usia muda. Dalam beberapa bulan mendatang, FIFA akan menghadapi sejumlah turnamen yang membutuhkan stabilitas organisasi dan koordinasi dengan asosiasi anggota.

Situasi ini membuat persoalan kepemimpinan menjadi semakin sensitif. FIFA membutuhkan dukungan konfederasi untuk memastikan kompetisi berjalan normal, sementara hubungan dengan salah satu konfederasi terbesar justru berada dalam kondisi paling tegang dalam beberapa tahun terakhir.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang bisa menggantikan Infantino jika perlawanan terhadapnya berkembang menjadi gerakan politik yang lebih besar?

Untuk saat ini belum ada satu kandidat yang benar-benar menjadi penantang tunggal dan mendapatkan dukungan luas.

Beberapa nama telah muncul dalam pembicaraan internal sepak bola internasional. Presiden UEFA Aleksander Čeferin disebut sebagai salah satu figur yang berpotensi, meski sejauh ini ia belum menunjukkan keinginan untuk mengambil posisi tersebut. Presiden CONCACAF Victor Montagliani dan Presiden AFC Salman bin Ibrahim Al Khalifa juga termasuk nama yang kerap disebut dalam spekulasi mengenai masa depan kepemimpinan FIFA. Reuters turut menyebut Lise Klaveness dari Norwegia sebagai salah satu figur yang memiliki pendukung.

Nasser Al-Khelaifi, Presiden Paris Saint-Germain, juga sempat disebut dalam spekulasi. Namun, pihak Al-Khelaifi telah membantah bahwa dirinya memiliki ambisi atau ketertarikan untuk menjadi Presiden FIFA.

Dengan demikian, kubu yang menentang Infantino masih menghadapi persoalan besar: mereka mungkin memiliki ketidakpuasan yang sama, tetapi belum tentu memiliki satu kandidat yang dapat menyatukan seluruh blok oposisi.

Ini menjadi kunci.

Menjatuhkan seorang presiden FIFA bukan sekadar persoalan mendapatkan dukungan dari UEFA. Pemilihan dilakukan oleh 211 asosiasi anggota dan setiap anggota memiliki satu suara.

Karena itu, Infantino masih memiliki peluang mempertahankan kekuasaannya. Tetapi jalannya kini jauh lebih sulit dibanding sebelum kontroversi FFE meledak.

Infantino juga memiliki modal politik dari sejumlah kawasan. Sebelum krisis terbaru, konfederasi Afrika, Asia, dan Amerika Selatan telah memberikan dukungan terhadap pencalonannya. Dukungan tersebut menjadi fondasi penting bagi upayanya mempertahankan jabatan hingga 2031.

Masalahnya, peta dukungan dapat berubah ketika asosiasi nasional mulai menarik endorsement mereka.

Wales, Serbia, Swedia, dan sejumlah negara Eropa lainnya sudah menunjukkan bahwa dukungan yang sebelumnya terlihat solid ternyata dapat berubah dengan cepat. Inggris juga berada dalam tekanan untuk mengambil posisi serupa.

Bagi Infantino, tantangan terbesar sekarang bukan lagi menyelamatkan proposal komersialisasi yang telah ditarik. Tantangannya adalah menyelamatkan modal kepercayaan yang hilang.

Ia harus meyakinkan konfederasi bahwa FIFA masih dapat menjalankan organisasi secara transparan, melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan, serta menjaga kepentingan sepak bola global di atas kepentingan komersial.

Ironisnya, kegagalan FFE bisa menjadi salah satu titik balik terbesar dalam kepemimpinan Infantino.

Sejak menjadi Presiden FIFA pada 2016, Infantino telah berhasil meningkatkan pendapatan organisasi sekaligus memperbesar distribusi dana kepada asosiasi anggota. FIFA sendiri menyebut program Forward telah menyalurkan miliaran dolar untuk pengembangan sepak bola global. Dalam dua siklus pertama saja, sekitar US$2,8 miliar telah tersedia untuk 211 asosiasi anggota, konfederasi, dan organisasi regional.

Namun, keberhasilan finansial tersebut kini berhadapan dengan pertanyaan mengenai tata kelola.

Bagi para penentangnya, masalahnya bukan sekadar apakah FIFA boleh mencari investasi swasta. Yang dipersoalkan adalah bagaimana keputusan sebesar itu dibuat dan siapa yang memiliki kendali terhadap aset komersial sepak bola dunia.

Karena itu, meskipun proposal FFE sudah gagal, efek politiknya belum selesai.

Pemilihan Presiden FIFA pada 18 Maret 2027 di Rabat kini berpotensi menjadi salah satu pemilihan paling menarik dalam satu dekade terakhir. Infantino masih berstatus kandidat dan belum kehilangan jabatannya. Tetapi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, jalan menuju periode berikutnya tidak lagi terlihat mulus.

Batas waktu pengajuan kandidat juga menjadi penting. Para calon penantang harus bergerak sebelum batas pencalonan pada 18 November 2026. Artinya, kubu oposisi memiliki waktu beberapa bulan untuk menentukan apakah mereka hanya akan memberikan tekanan politik atau benar-benar membangun koalisi untuk mengganti Infantino.

Pada akhirnya, kegagalan komersialisasi FIFA mungkin bukan akhir dari karier politik Infantino. Namun, peristiwa ini jelas mengubah medan pertarungan.

Dari sosok yang sebelumnya terlihat hampir tak terbendung untuk kembali memimpin FIFA, Infantino kini harus menghadapi federasi yang menarik dukungan, konfederasi yang mempertanyakan kepemimpinannya, ancaman proses hukum, serta kemungkinan munculnya kandidat alternatif.

Ia masih memiliki waktu untuk membalikkan keadaan.

Tetapi satu hal sudah berubah: pertarungan mempertahankan kursi Presiden FIFA 2027 kini benar-benar dimulai.

Editor : Mahendra Aditya
FIFA Forward Enterprise Presiden FIFA 2027 UEFA vs FIFA pemilihan Presiden FIFA 2027 Gianni Infantino