RADAR KUDUS - Liga Primer Inggris masih menjadi mesin uang terbesar dalam sepak bola Eropa. Hak siar bernilai miliaran pound, sponsor global terus berdatangan, harga tiket meningkat, sementara investor dari berbagai penjuru dunia berlomba mendapatkan kepemilikan klub.
Namun, di balik angka-angka fantastis tersebut, ada paradoks yang sulit diabaikan. Semakin besar uang yang berputar di sepak bola Inggris, semakin besar pula tekanan biaya yang harus ditanggung klub.
Laporan konsultan BDO bahkan memperkirakan sekitar 90 persen klub di empat kasta profesional teratas Inggris akan mencatat kerugian sebelum pajak pada 2025. Proyeksi tersebut sudah memperhitungkan keuntungan dari aktivitas jual-beli pemain. Artinya, persoalannya bukan sekadar klub gagal mendapatkan pemasukan, melainkan biaya untuk mempertahankan daya saing sudah terlalu tinggi.
Baca Juga: Di Balik Transfer Gila-gilaan Premier League: Tapi Kenapa Klub Bisa Rugi Hampir £1 Miliar?
Di sinilah pertanyaan besarnya muncul: bagaimana mungkin kompetisi dengan nilai ekonomi terbesar justru menghadapi persoalan profitabilitas?
Jawabannya terletak pada satu fakta sederhana: sepak bola Inggris memang kaya, tetapi untuk menang di level tertinggi juga membutuhkan biaya yang luar biasa mahal.
Data Deloitte memperkuat paradoks tersebut. Pendapatan gabungan klub-klub Premier League pada musim 2024/25 mencapai £6,8 miliar, naik 8 persen atau sekitar £490 juta dibandingkan musim sebelumnya yang berada di angka £6,3 miliar.
Namun, pada periode yang sama, laba operasional gabungan turun £274 juta menjadi £263 juta. Yang lebih mengejutkan, kerugian sebelum pajak melonjak dari £135 juta menjadi £948 juta. Jumlah klub yang membukukan laba operasional juga turun dari 13 menjadi hanya delapan klub.
Jadi, persoalannya bukan karena uang tidak masuk.
Uang justru mengalir deras.
Masalahnya adalah biaya yang keluar ikut membesar.
Salah satu beban terbesar adalah gaji. Deloitte mencatat total biaya gaji klub Premier League mencapai rekor £4,4 miliar pada 2024/25, meningkat £381 juta dalam satu musim. Rasio gaji terhadap pendapatan secara agregat berada di sekitar 65 persen.
Belum selesai.
Klub juga harus membayar biaya transfer, amortisasi kontrak pemain, staf kepelatihan, akademi, perjalanan, pengelolaan stadion, infrastruktur, bunga utang, hingga biaya lain yang mengikuti ambisi untuk terus bersaing.
Dalam industri sepak bola, keberhasilan di lapangan sering kali membutuhkan investasi besar sebelum hasilnya bisa dirasakan.
Klub ingin masuk Liga Champions? Mereka harus membangun skuad yang cukup kuat.
Ingin bertahan di Premier League? Mereka harus mengeluarkan uang untuk mendatangkan pemain.
Ingin mengejar gelar? Mereka harus berhadapan dengan klub yang juga memiliki kemampuan finansial luar biasa.
Akhirnya terbentuk lingkaran yang sulit dihentikan: semakin tinggi standar kompetisi, semakin mahal biaya untuk sekadar bertahan di dalamnya.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Premier League. BDO menemukan bahwa tekanan finansial juga menyebar ke Championship, League One, dan League Two. Bahkan, hampir 90 persen klub yang disurvei menyatakan mereka kemungkinan membutuhkan tambahan pendanaan dari pemegang saham dalam waktu dekat.
Ini menjadi alarm yang jauh lebih besar.
Sebab, klub-klub di kasta bawah memiliki sumber pendapatan yang jauh lebih terbatas dibandingkan Premier League. Namun, mereka tetap harus mengeluarkan uang untuk mengejar promosi.
Promosi ke Premier League bisa membawa lonjakan pendapatan yang sangat besar. Karena itu, sebagian klub Championship berani mengambil risiko finansial dengan meningkatkan belanja pemain dan gaji.
Masalahnya, promosi tidak pernah dijamin.
Jika gagal naik kasta, klub tetap harus membayar tagihan yang sudah terlanjur membengkak.
Jika berhasil promosi, investasi tersebut bisa terlihat masuk akal karena mereka mendapatkan akses ke pendapatan Premier League.
Inilah yang membuat sistem sepak bola Inggris begitu kompetitif sekaligus berisiko.
BDO juga menemukan kesenjangan finansial yang semakin lebar antara klub-klub dan antarkasta. Bahkan, laporan tersebut menyoroti bahwa tiga klub yang promosi ke Premier League dalam dua musim terakhir langsung terdegradasi pada musim berikutnya. Kesenjangan biaya antara Premier League dan Championship menjadi salah satu faktor yang memperumit persaingan.
Sementara itu, Premier League sendiri masih terus mencetak rekor pendapatan.
Pendapatan komersial klub-klub Premier League mencapai sekitar £2,4 miliar pada 2024/25, naik 13 persen. Pendapatan matchday juga meningkat 15 persen menjadi lebih dari £1 miliar untuk pertama kalinya. Pendapatan siaran mencapai sekitar £3,4 miliar.
Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya bisnis sepak bola Inggris.
Tetapi justru karena pendapatannya besar, ekspektasi terhadap klub juga semakin tinggi.
Pemilik klub tidak hanya dituntut menjaga neraca keuangan. Mereka juga dituntut menghadirkan pemain bintang, memenangkan pertandingan, lolos ke kompetisi Eropa, menjaga hubungan dengan suporter, dan terus meningkatkan nilai komersial klub.
Salah satu konsekuensinya terlihat di bursa transfer.
Klub-klub Inggris tetap menjadi kekuatan belanja terbesar di pasar pemain Eropa. Namun, BDO juga memberikan catatan penting: hubungan antara besarnya pengeluaran pemain dan hasil di lapangan tidak selalu kuat.
Analisis Twenty First Group yang dikutip BDO menunjukkan korelasi antara belanja pemain dan performa di lapangan hanya sekitar 57 persen, bahkan turun menjadi 35 persen jika klub-klub superbesar dikeluarkan dari perhitungan. Artinya, uang besar tidak otomatis menghasilkan kesuksesan olahraga.
Ini yang membuat risiko semakin besar.
Klub bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta pound untuk pemain, tetapi tidak mendapatkan hasil yang sebanding.
Jika pemain gagal tampil sesuai harapan, cedera, pelatih berganti, atau klub gagal lolos ke kompetisi Eropa, investasi tersebut dapat berubah menjadi beban.
Namun, anehnya, investor justru semakin tertarik masuk ke sepak bola Inggris.
Kasus Liverpool menjadi salah satu contohnya. Konsorsium yang dipimpin Amit Bhatia dan didukung keluarga Mittal dilaporkan tengah bernegosiasi untuk membeli saham minoritas Liverpool. Nilai klub dalam potensi transaksi tersebut diperkirakan bisa menembus US$6 miliar. Fenway Sports Group mengonfirmasi adanya ketertarikan investasi strategis minoritas tersebut, meski kesepakatan belum final.
Di sinilah paradoks sepak bola modern kembali terlihat.
Sebuah klub bisa menghadapi tekanan profitabilitas, tetapi pada saat yang sama nilai asetnya terus meningkat.
Mengapa?
Karena investor tidak hanya melihat laba-rugi satu musim.
Mereka melihat merek.
Mereka melihat basis penggemar global.
Mereka melihat hak siar.
Mereka melihat potensi sponsor.
Mereka melihat stadion.
Mereka melihat peluang komersial.
Dan yang paling penting, mereka melihat Premier League sebagai salah satu produk hiburan olahraga paling kuat di dunia.
Jadi, klub sepak bola modern tidak lagi hanya dipandang sebagai tim yang bermain 90 menit di lapangan.
Mereka adalah perusahaan hiburan global.
Namun, status tersebut juga membuat klub menghadapi tekanan yang berbeda. Ketika nilai bisnis meningkat, tuntutan untuk terus tumbuh juga semakin besar.
Karena itulah regulasi finansial menjadi semakin penting.
Mulai musim 2026/27, Premier League menerapkan Squad Cost Ratio (SCR) sebagai bagian dari sistem pengawasan keuangan baru. Aturan tersebut membatasi biaya yang berkaitan dengan skuad hingga 85 persen dari pendapatan sepak bola klub ditambah keuntungan atau kerugian bersih dari penjualan pemain, dengan mekanisme allowance tertentu.
Angka 85 persen ini penting untuk diluruskan.
Ini bukan berarti klub hanya boleh menghabiskan 85 persen dari seluruh pendapatannya untuk semua kebutuhan.
SCR secara khusus mengatur biaya skuad yang berkaitan dengan pemain dan performa di lapangan.
Tujuan utamanya adalah mencegah klub memasuki perlombaan pengeluaran tanpa batas.
Regulasi tersebut datang ketika data keuangan menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan tidak otomatis menghasilkan profit.
Deloitte mencatat kerugian sebelum pajak Premier League meningkat lebih dari £800 juta dalam satu musim, terutama dipengaruhi keputusan transaksi pemain dan aset serta tidak adanya keuntungan penjualan pemain dalam skala besar seperti musim sebelumnya.
Bahkan, utang bersih klub Premier League juga meningkat menjadi sekitar £3,6 miliar pada akhir 2024/25 dari £3,5 miliar pada musim sebelumnya.
Ini bukan berarti Premier League berada di ambang kehancuran.
Justru sebaliknya.
Dari sisi bisnis, Premier League masih sangat kuat.
Deloitte memperkirakan pendapatan klub-klub Premier League bahkan dapat menembus £7 miliar pada 2025/26, didorong oleh peningkatan nilai hak siar dan performa klub-klub Inggris di kompetisi Eropa.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut harus diimbangi dengan pertumbuhan efisiensi.
Jika tidak, klub akan terus berada dalam situasi aneh: omzet naik, valuasi meningkat, tetapi laba justru sulit ditemukan.
Inilah alasan mengapa istilah “krisis finansial” perlu digunakan secara hati-hati.
Yang terjadi bukan kehancuran finansial Premier League secara keseluruhan.
Lebih tepat disebut sebagai krisis keberlanjutan dan profitabilitas di tengah pertumbuhan ekonomi yang sangat besar.
Liga ini menghasilkan uang dalam jumlah luar biasa, tetapi struktur biaya sepak bola profesional juga terus meningkat.
Dan BDO memberikan peringatan yang sangat jelas: hampir 90 persen klub di empat kasta profesional diperkirakan mengalami kerugian sebelum pajak pada 2025. Hampir jumlah yang sama juga menyatakan membutuhkan pendanaan pemegang saham dalam waktu dekat.
Jika tren tersebut terus berlangsung, ketergantungan klub terhadap pemilik dan investor akan semakin besar.
Artinya, klub tidak cukup hanya memiliki suporter dan pendapatan tiket.
Mereka membutuhkan pemilik yang mampu menyuntikkan modal ketika kondisi memburuk.
Persoalannya, tidak semua pemilik memiliki sumber daya tanpa batas.
Jika investor berhenti memasukkan uang, klub yang memiliki struktur biaya terlalu besar bisa langsung menghadapi masalah.
Itulah mengapa aktivitas investasi di sepak bola Inggris juga menjadi fenomena tersendiri.
Investor tidak selalu datang karena klub sedang menghasilkan laba.
Mereka datang karena percaya nilai klub akan meningkat di masa depan.
Namun, model seperti itu memiliki risiko.
Jika pertumbuhan valuasi melambat sementara biaya tetap tinggi, tekanan terhadap klub bisa meningkat.
Di sisi lain, Liga Primer juga sedang berusaha memperbaiki hubungan finansial dengan klub-klub EFL. Pada akhir Juli 2026, klub Premier League menyepakati proposal untuk memberikan tambahan £1,5 miliar selama 10 tahun kepada klub-klub English Football League. Proposal tersebut masih harus melalui proses di EFL. Salah satu sumber pendanaannya adalah kenaikan levy transfer Premier League dari 4 persen menjadi 6 persen.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan finansial sepak bola Inggris tidak hanya berada di ruang rapat klub Premier League.
Kesehatan kompetisi secara keseluruhan bergantung pada hubungan antara Premier League dan kasta di bawahnya.
Sebab, jika klub Championship, League One, atau League Two mengalami tekanan berat, dampaknya pada akhirnya bisa merambat ke seluruh piramida sepak bola Inggris.
Premier League membutuhkan klub-klub yang sehat di bawahnya.
Sebaliknya, klub-klub EFL membutuhkan aliran dana dari kompetisi yang memiliki pendapatan terbesar.
Masalahnya adalah bagaimana membagi kekayaan tersebut tanpa menghilangkan insentif untuk berinvestasi dan bersaing.
Pada akhirnya, persoalan sepak bola Inggris bukanlah kekurangan uang.
Justru uangnya terlalu besar.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana uang tersebut digunakan.
Premier League menghasilkan £6,8 miliar dalam satu musim. Klub-klubnya memiliki sponsor kelas dunia, stadion modern, basis penggemar global, dan daya tarik investor yang luar biasa. Tetapi pada saat yang sama, kerugian sebelum pajak mencapai £948 juta dan biaya gaji menyentuh rekor £4,4 miliar.
Angka-angka tersebut memperlihatkan satu paradoks besar.
Liga Inggris semakin kaya, tetapi biaya untuk menjadi kompetitif juga semakin mahal.
Klub tidak sedang kehabisan pemasukan.
Mereka sedang berlari dalam perlombaan yang harga tiket masuknya terus naik.
Dan selama setiap klub merasa harus mengeluarkan lebih banyak untuk mengejar kemenangan, pendapatan besar belum tentu berarti keuntungan besar.
Itulah alasan proyeksi BDO mengenai 90 persen klub yang berpotensi merugi menjadi alarm penting.
Bukan karena Premier League sedang bangkrut.
Bukan pula karena industri sepak bola Inggris kehilangan daya tarik.
Justru karena liga tersebut semakin bernilai, tetapi model pengeluarannya harus mulai dikendalikan.
Jika tidak, sepak bola Inggris bisa menghadapi paradoks yang semakin ekstrem: liga paling kaya di dunia, tetapi semakin banyak klub yang membutuhkan uang pemilik untuk tetap bertahan.
Tantangan terbesar Premier League ke depan akhirnya bukan sekadar mencetak pendapatan baru.
Tantangannya adalah memastikan pendapatan tersebut cukup untuk membayar ambisi yang terus membesar.
Karena dalam sepak bola modern, menang memang mahal.
Tetapi jika setiap kemenangan harus dibayar dengan kerugian, pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang paling kaya.
Melainkan, siapa yang masih mampu bertahan ketika uang besar itu mulai tidak cukup menutup biaya yang jauh lebih besar.
Editor : Mahendra Aditya