Final Mubadala DC Open Sempat Tertunda Hujan, Alexandra Eala Libas Pegula 6-0 di Set Penentuan

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 07:17 WIB
Alexandra Eala.
Alexandra Eala.

RADAR KUDUS - Hujan deras di Washington DC sempat menahan final Mubadala DC Open antara Jessica Pegula dan Alexandra Eala. Pertandingan yang seharusnya tuntas pada Minggu, 2 Agustus 2026, terpaksa dihentikan dan dilanjutkan sehari kemudian setelah cuaca buruk mengganggu jalannya pertandingan.

Duel antara unggulan pertama sekaligus petenis nomor tiga dunia Jessica Pegula dan Alexandra Eala, yang saat itu berada di peringkat 28 dunia, awalnya dijadwalkan berlangsung pada Minggu siang. Namun, badai petir yang melanda kawasan Washington DC membuat pertandingan baru dimulai sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

Pegula langsung mengambil keuntungan pada set pertama. Petenis Amerika Serikat itu mengamankan set pembuka dengan skor 6-4. Memasuki set kedua, Eala menunjukkan perlawanan dan sempat unggul 2-1 ketika pertandingan kembali dihentikan akibat hujan.

Pertandingan akhirnya secara resmi ditangguhkan pada pukul 21.06 waktu setempat. Penyelenggara kemudian menjadwalkan pertandingan kembali pada Senin, 3 Agustus pukul 12.00 siang waktu lokal. Pegula dijadwalkan melakukan servis ketika pertandingan kembali dimulai.

Penundaan tersebut bukan sekadar persoalan jadwal. Bagi kedua pemain, jeda panjang mengubah momentum pertandingan final. Pegula kehilangan kesempatan untuk segera mempertahankan tekanan setelah memenangkan set pertama, sementara Eala memperoleh waktu untuk memulihkan kondisi dan menyusun kembali strategi menghadapi petenis unggulan teratas.

Eala kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut dengan luar biasa. Ketika pertandingan dilanjutkan pada Senin, petenis Filipina berusia 21 tahun itu berhasil membalikkan keadaan dan akhirnya menumbangkan Pegula dalam tiga set, 4-6, 6-4, 6-0.

Kemenangan itu jauh lebih besar daripada sekadar trofi turnamen. Eala mencatat sejarah sebagai petenis Filipina pertama yang memenangkan gelar tunggal level WTA Tour. Ia juga mengalahkan petenis nomor tiga dunia dalam pertandingan yang sempat tertunda akibat hujan.

Setelah tertinggal pada set pertama, Eala menunjukkan perubahan permainan yang signifikan. Ia semakin agresif dari baseline dan mampu memanfaatkan servis kidalnya untuk menekan Pegula. Pada set penentuan, Eala bahkan tampil dominan dan menyapu bersih enam gim tanpa memberikan satu gim pun kepada lawannya.

Hasil 6-0 pada set ketiga menjadi gambaran betapa drastis perubahan momentum final tersebut. Pegula yang sebelumnya memegang kendali pertandingan justru tidak mampu membendung laju Eala setelah laga dilanjutkan.

Bagi Eala, gelar di Washington menjadi pencapaian terbesar dalam karier tunggalnya di WTA. Kemenangan tersebut juga memperpanjang catatan impresifnya menghadapi pemain papan atas. Menurut laporan Reuters, kemenangan atas Pegula merupakan kemenangan kelima beruntun Eala atas lawan yang berada di 10 besar dunia.

Keberhasilan tersebut juga berdampak langsung pada peringkat dunia Eala. Setelah menjadi juara di Washington, posisinya diproyeksikan naik ke peringkat 20 dunia, yang menjadi peringkat tertinggi sepanjang kariernya.

Sementara bagi Pegula, kekalahan tersebut menjadi pukulan setelah tampil sebagai unggulan utama turnamen. Petenis Amerika itu datang dengan status pemain nomor satu di daftar unggulan dan memiliki sejarah kuat di Washington. Ia sebelumnya pernah menjuarai turnamen tersebut pada 2019 dan kembali mengejar gelar keduanya di ajang yang sama.

Pegula sebenarnya memulai final dengan sangat baik. Keunggulan 6-4 pada set pertama menunjukkan bahwa Eala menghadapi tantangan besar dari pemain berpengalaman tersebut. Namun, jeda akibat hujan justru menjadi titik balik pertandingan.

Cuaca memang menjadi faktor dominan sepanjang hari final. Selain pertandingan putri, laga final sektor putra antara Taylor Fritz dan Rafael Jodar juga ikut terdampak penundaan. Penyelenggara harus mengatur ulang jadwal agar pertandingan dapat diselesaikan setelah kondisi lapangan memungkinkan.

Gangguan cuaca bukan hanya terjadi di Washington. Pada hari yang sama, hujan juga menghambat pertandingan di Canadian Open yang berlangsung di Toronto dan Montreal. Sejumlah pertandingan di kedua lokasi tersebut ikut tertunda atau dihentikan.

Mubadala DC Open sendiri merupakan turnamen lapangan keras yang digelar di Washington DC. Ajang tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian turnamen musim panas menuju US Open. Situs resmi turnamen mencatat ajang Washington sebagai turnamen ATP 500 di sektor putra, sementara kompetisi putri juga menjadi bagian dari rangkaian WTA yang berlangsung bersamaan.

Kondisi tersebut membuat kemenangan Eala semakin bernilai. Ia bukan hanya mampu mengatasi unggulan utama, tetapi juga harus menjaga konsentrasi setelah pertandingan terhenti selama berjam-jam. Dalam situasi seperti itu, pemain harus mampu mengelola kondisi fisik dan mental sekaligus mempertahankan fokus pertandingan.

Eala akhirnya membuktikan bahwa jeda panjang tidak mematahkan momentumnya. Sebaliknya, ketika pertandingan kembali dimainkan, ia tampil lebih agresif dan mampu memaksa Pegula kehilangan kendali.

Final yang semula menjadi panggung bagi Pegula untuk mengejar gelar Washington keduanya berubah menjadi malam bersejarah bagi Eala. Dari posisi tertinggal satu set, petenis Filipina tersebut bangkit, merebut set kedua, lalu mengunci pertandingan dengan kemenangan telak 6-0 pada set penentuan.

Kemenangan itu sekaligus mengubah cerita final yang sempat didominasi persoalan cuaca. Hujan memang menghentikan pertandingan, tetapi tidak menghentikan perjalanan Eala menuju gelar WTA pertamanya.

Dengan trofi Mubadala DC Open, Eala kini memasuki fase baru dalam kariernya. Kemenangan atas Pegula, ditambah keberhasilan menundukkan sejumlah pemain papan atas sepanjang turnamen, menjadi sinyal bahwa petenis muda Filipina tersebut mulai mampu bersaing secara konsisten di level elite WTA.

Bagi Pegula, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa keunggulan satu set belum menjamin kemenangan, terutama dalam pertandingan yang sempat terhenti karena faktor eksternal. Bagi Eala, penundaan justru menjadi bagian dari perjalanan menuju salah satu kemenangan terbesar dalam kariernya.

Final Washington 2026 akhirnya bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang trofi. Pertandingan tersebut menjadi cerita tentang perubahan momentum, ketahanan mental, dan kebangkitan spektakuler Eala dari ketertinggalan hingga mencetak sejarah sebagai juara WTA dari Filipina.

Editor : Mahendra Aditya
Jessica Pegula Mubadala DC Open 2026 Alexandra Eala juara Eala vs Pegula Alexandra Eala