RADAR KUDUS - Chelsea harus menelan kekecewaan dalam upaya memperkuat lini tengah pada bursa transfer musim panas 2026. Klub asal London Barat itu gagal mendapatkan Alex Scott setelah Bournemouth secara tegas menolak tawaran senilai 64 juta poundsterling atau sekitar Rp1,4 triliun.
Tak hanya menolak proposal tersebut, Bournemouth juga mengirimkan pesan yang jelas kepada Chelsea bahwa mereka tidak berniat membuka negosiasi lanjutan. Manajemen The Cherries menegaskan Alex Scott merupakan bagian penting dari proyek jangka panjang klub dan tidak tersedia untuk dijual pada musim panas ini.
Sikap Bournemouth menjadi sinyal bahwa mereka ingin mempertahankan fondasi skuad setelah sukses mencatatkan sejarah dengan lolos ke kompetisi Liga Europa musim depan. Keberhasilan tersebut membuat kondisi finansial klub jauh lebih stabil sehingga mereka tidak berada dalam tekanan untuk melepas pemain bintang demi menyeimbangkan neraca keuangan.
Baca Juga: Chelsea Habiskan Rp2,6 Triliun untuk Morgan Rogers, Arsenal Gigit Jari usai Gagal Membajak
Meski demikian, situasi Alex Scott tetap menarik perhatian banyak klub besar Inggris. Gelandang berusia 22 tahun itu diketahui belum menerima tawaran kontrak baru yang diajukan Bournemouth sejak sekitar dua bulan lalu. Kontraknya saat ini masih berlaku hingga musim panas 2028, namun belum adanya kesepakatan baru memunculkan spekulasi mengenai masa depannya.
Sumber-sumber di Inggris menyebutkan Scott memilih menunda pembahasan kontrak karena ingin fokus pada perkembangan kariernya, meski hingga kini belum ada indikasi bahwa ia secara terbuka meminta untuk dijual.
Chelsea bukan satu-satunya klub yang mengincar tanda tangan sang pemain. Sebelum The Blues mengajukan penawaran resmi, Arsenal lebih dulu mencoba membuka negosiasi dengan Bournemouth pada Juni lalu. Namun pendekatan tersebut juga langsung ditolak.
Selain Arsenal dan Chelsea, Manchester United, Tottenham Hotspur, hingga Manchester City turut memantau perkembangan Scott sepanjang bursa transfer musim panas ini. Persaingan memperebutkan gelandang muda Inggris tersebut menunjukkan tingginya nilai yang dimilikinya di mata klub-klub elite Premier League.
Alex Scott dianggap sebagai salah satu gelandang muda paling menjanjikan di Inggris. Kemampuannya bermain sebagai gelandang tengah, gelandang serang, maupun pemain box-to-box membuatnya menjadi aset yang sangat fleksibel.
Ia dikenal memiliki kualitas dalam membawa bola dari lini tengah, akurasi umpan yang baik, kemampuan membaca permainan, serta etos kerja tinggi ketika membantu pertahanan. Kombinasi atribut tersebut membuatnya sering dibandingkan dengan sejumlah gelandang modern yang mampu berkontribusi dalam dua fase permainan sekaligus.
Chelsea sendiri melihat Scott sebagai pemain yang sesuai dengan proyek jangka panjang klub di bawah pelatih Xabi Alonso. Kehadirannya diyakini dapat menambah kreativitas sekaligus kedalaman skuad di sektor tengah.
Namun Bournemouth tidak bergeming.
Keputusan mempertahankan Scott juga didukung kondisi ekonomi klub yang sehat. Pada bursa transfer sebelumnya, Bournemouth memperoleh pemasukan besar dari penjualan beberapa pemain utama, termasuk Dean Huijsen, Milos Kerkez, Illia Zabarnyi, dan Dango Ouattara. Pendapatan tersebut memberikan ruang finansial sehingga klub tidak dipaksa melepas pemain demi memenuhi aturan keuangan.
Pendekatan serupa juga diterapkan terhadap pemain muda berbakat lainnya. Penyerang Junior Kroupi, yang juga menjadi incaran Arsenal dan Tottenham, dinyatakan tidak akan dilepas. Begitu pula dengan winger asal Brasil, Rayan, yang baru bergabung pada Januari lalu dan disebut masih berkomitmen penuh bersama Bournemouth.
Saat ini Scott bersama Junior Kroupi sedang mengikuti pemusatan latihan pramusim di Austria di bawah arahan pelatih anyar Marco Rose. Sementara Rayan dijadwalkan bergabung belakangan setelah membela Timnas Brasil pada Piala Dunia 2026.
Karier Alex Scott terus menunjukkan perkembangan sejak meninggalkan Bristol City. Pemain asal Guernsey itu bergabung dengan akademi Bristol City pada 2020 sebelum mencuri perhatian di Championship.
Penampilannya yang konsisten membuat Scott dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Championship musim 2022/2023, penghargaan yang kemudian membuka jalan menuju kepindahan ke Bournemouth pada musim panas 2023 dengan nilai transfer sekitar 25 juta poundsterling.
Sejak tiba di Vitality Stadium, Scott berkembang menjadi salah satu pemain inti. Hingga musim panas 2026, ia telah mencatatkan 89 penampilan di semua kompetisi dan menyumbangkan enam gol, selain sejumlah assist dan kontribusi penting dalam membangun serangan.
Performa impresif tersebut juga membawanya menembus skuad Inggris U-21 sebelum mendapat panggilan pertama ke tim senior pada November 2025. Ia kemudian masuk dalam pemusatan latihan yang dipimpin Thomas Tuchel menjelang Piala Dunia 2026, meski belum menjalani debut bersama tim nasional senior.
Bursa transfer musim panas 2026 memang diwarnai lonjakan harga pemain tengah berkualitas. Chelsea baru saja memecahkan rekor transfer domestik Inggris dengan merekrut Morgan Rogers dari Aston Villa seharga 117 juta poundsterling. Manchester City dikabarkan hampir merampungkan transfer Elliot Anderson dari Nottingham Forest senilai 116 juta poundsterling.
Sementara itu, Tottenham Hotspur telah menggelontorkan dana sekitar 100 juta poundsterling untuk mendatangkan Sandro Tonali dari Newcastle United dan 85 juta poundsterling guna memboyong Mateus Fernandes dari West Ham United.
Kenaikan harga tersebut membuat Bournemouth semakin percaya diri mempertahankan aset berharganya. Dengan usia yang masih muda, pengalaman di Premier League, dan potensi yang terus berkembang, nilai pasar Alex Scott diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa musim ke depan.
Meski gagal pada upaya pertama, Chelsea diyakini belum sepenuhnya menyerah. Namun selama Bournemouth tetap mempertahankan sikap bahwa Scott tidak dijual, peluang terjadinya transfer pada musim panas ini masih sangat kecil. Fokus Bournemouth kini adalah menjaga kekuatan skuad agar mampu bersaing di Premier League sekaligus tampil kompetitif dalam debut mereka di Liga Europa.
Editor : Mahendra Aditya