RADAR KUDUS - Wacana memperbesar peserta Piala Dunia menjadi 64 negara kembali memanaskan perdebatan di dunia sepak bola internasional. Presiden FIFA Gianni Infantino membuka peluang perubahan besar tersebut dengan alasan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada negara-negara berkembang.
Namun, di balik narasi pemerataan, muncul kekhawatiran bahwa ekspansi ini justru lebih didorong oleh kepentingan komersial daripada kualitas kompetisi.
Selama hampir satu dekade memimpin FIFA sejak terpilih pada 2016, Infantino dikenal sebagai sosok yang mendorong berbagai reformasi besar. Di bawah kepemimpinannya, jumlah peserta Piala Dunia bertambah dari 32 menjadi 48 tim mulai edisi 2026.
Baca Juga: Final Piala Dunia 2026 Berujung Chaos, FIFA Resmi Investigasi Insiden Pemain Argentina dan Spanyol
Ia juga meluncurkan format baru Piala Dunia Antarklub yang jauh lebih besar, memperbanyak jumlah pertandingan internasional, hingga memperkenalkan konsep hiburan ala Super Bowl pada final Piala Dunia.
Pada final Piala Dunia 2026, misalnya, jeda turun minum diperpanjang hingga lebih dari 27 menit untuk memberi ruang bagi pertunjukan musik yang menghadirkan artis-artis internasional. Langkah tersebut menuai pro dan kontra karena dianggap mengubah tradisi sepak bola demi kepentingan hiburan dan komersial.
Kini, Infantino kembali memunculkan ide yang jauh lebih ambisius, yakni memperbesar jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 negara. Menurutnya, semakin banyak negara yang mendapat kesempatan tampil di putaran final, semakin besar pula motivasi mereka untuk mengembangkan sepak bola di level domestik.
FIFA berpendapat bahwa turnamen yang lebih inklusif akan mempercepat pertumbuhan sepak bola global, terutama di kawasan yang selama ini jarang tampil di panggung dunia. Negara-negara dengan perkembangan pesat dinilai membutuhkan kesempatan lebih besar untuk bersaing dengan kekuatan tradisional.
Namun, argumen tersebut langsung mendapat tanggapan kritis dari banyak kalangan. Sejumlah pengamat menilai negara-negara kecil sebenarnya sudah memiliki peluang lolos melalui babak kualifikasi apabila mampu menunjukkan performa yang cukup baik.
Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa negara-negara nonunggulan mampu mencuri perhatian. Tanjung Verde (Cape Verde), misalnya, sukses menahan imbang Spanyol dan Uruguay pada fase grup sebelum memberikan perlawanan sengit kepada Argentina di babak 16 besar. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu cerita terbesar dalam turnamen.
Di sisi lain, tidak semua debutan mampu bersaing. Haiti, Irak, Yordania, Panama, Tunisia, dan Uzbekistan gagal meraih satu poin pun sepanjang fase grup. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah penambahan peserta benar-benar meningkatkan kualitas kompetisi atau justru memperlebar kesenjangan kemampuan antarnegara.
Usulan Piala Dunia 64 tim pertama kali mendapat dukungan kuat dari Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL). Organisasi tersebut mengajukan proposal agar edisi 2030, yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun Piala Dunia, digelar dengan format khusus berisi 64 peserta.
Piala Dunia 2030 sendiri dijadwalkan berlangsung di Maroko, Portugal, dan Spanyol sebagai tuan rumah utama. Sementara Uruguay, Argentina, dan Paraguay akan menggelar tiga pertandingan pembuka sebagai penghormatan terhadap sejarah turnamen pertama yang digelar di Uruguay pada 1930.
Presiden CONMEBOL Alejandro Dominguez menilai format 64 tim akan memungkinkan lebih banyak negara ikut merasakan atmosfer Piala Dunia. Menurutnya, momentum satu abad turnamen layak dirayakan dengan melibatkan sebanyak mungkin peserta.
Baca Juga: Viral! Argentina Membelakangi Spanyol Saat Angkat Trofi Piala Dunia 2026, Tuai Hujan Kritik
Meski demikian, dukungan terhadap gagasan tersebut masih sangat terbatas. Presiden UEFA Aleksander Ceferin secara terbuka menyebut ide itu sebagai langkah yang buruk, baik bagi kualitas Piala Dunia maupun sistem kualifikasi.
Penolakan juga datang dari Presiden CONCACAF Victor Montagliani. Ia menilai ekspansi lebih lanjut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem sepak bola global, memperpadat kalender pertandingan, serta meningkatkan beban fisik para pemain.
Pandangan serupa disampaikan Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa. Ia memperingatkan bahwa penambahan peserta secara berlebihan berpotensi menciptakan kekacauan dalam penyelenggaraan turnamen.
Meski banyak konfederasi menyuarakan keberatan, peluang perubahan tetap terbuka karena keputusan akhir berada di tangan Dewan FIFA yang beranggotakan 37 orang.
Jika menggunakan hasil kualifikasi Piala Dunia 2026 sebagai simulasi, sejumlah negara yang gagal lolos diperkirakan akan mendapatkan tiket apabila format 64 tim diterapkan.
Dari Asia, Indonesia, Oman, dan Uni Emirat Arab berpotensi tampil di putaran final. Dari Eropa, Italia, Denmark, dan Polandia juga diperkirakan memperoleh tempat tambahan. Afrika kemungkinan mendapat tambahan wakil seperti Nigeria, Kamerun, Burkina Faso, dan Gabon, sedangkan Amerika Selatan berpeluang diwakili Bolivia dan Venezuela.
Masuknya negara-negara tersebut tentu memberi peluang baru bagi perkembangan sepak bola global. Namun, banyak analis mempertanyakan apakah penambahan peserta akan membuat fase grup kehilangan daya saing karena semakin banyak tim dengan kualitas yang belum setara.
Dalam format 48 tim saja, sebagian besar negara unggulan mampu lolos ke fase gugur tanpa menghadapi ancaman serius. Dengan 64 peserta, peluang munculnya kejutan seperti tersingkirnya Jerman pada 2018, Belgia pada 2022, atau Spanyol pada 2014 diperkirakan semakin kecil.
Selain aspek kompetitif, tantangan logistik juga menjadi perhatian utama. Penambahan 16 negara berarti bertambahnya 24 pertandingan dibanding format 48 tim. Akibatnya, durasi turnamen diperkirakan harus diperpanjang sekitar lima hari atau lebih, tergantung jadwal pertandingan.
Hal tersebut akan berdampak pada kalender kompetisi domestik dan internasional yang sudah sangat padat. Klub-klub Eropa selama beberapa tahun terakhir berulang kali menyuarakan kekhawatiran mengenai meningkatnya jumlah pertandingan yang harus dijalani pemain setiap musim.
Penyelenggaraan Piala Dunia 64 tim juga membutuhkan lebih banyak stadion, lapangan latihan berstandar internasional, hotel, jaringan transportasi, hingga infrastruktur pendukung lain. Tidak semua negara memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga peluang menjadi tuan rumah tunggal semakin kecil.
Baca Juga: Boikot Final Piala Dunia 2026! Presiden UEFA Tolak Hadiri Laga Puncak
Perubahan iklim turut menjadi tantangan baru. Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa tahun terakhir membuat penyelenggara harus mempertimbangkan jadwal pertandingan secara lebih cermat.
Piala Dunia 2026 masih terbantu oleh stadion beratap di beberapa kota Amerika Utara, tetapi fasilitas serupa belum tentu tersedia di negara tuan rumah edisi berikutnya.
Di balik seluruh perdebatan tersebut, banyak pihak meyakini faktor ekonomi menjadi alasan utama FIFA terus mendorong ekspansi turnamen. Semakin banyak pertandingan berarti semakin besar potensi pendapatan dari hak siar televisi, sponsor global, penjualan tiket, lisensi komersial, hingga pemasaran digital.
FIFA sebelumnya memperkirakan format 48 tim mampu menghasilkan pendapatan sekitar 9 miliar dolar AS selama siklus Piala Dunia 2026. Dengan 64 peserta, angka tersebut diperkirakan akan meningkat secara signifikan karena jumlah pertandingan, jam siaran, dan eksposur sponsor menjadi lebih besar.
Pendapatan tersebut kemudian digunakan FIFA untuk mendanai program pengembangan sepak bola di lebih dari 200 asosiasi anggota di seluruh dunia. Organisasi itu berpendapat bahwa semakin besar pemasukan, semakin luas pula investasi yang dapat diberikan kepada negara-negara berkembang.
Meski demikian, para kritikus mengingatkan bahwa pertumbuhan sepak bola tidak selalu harus diukur dari jumlah pertandingan atau besarnya pendapatan. Mereka menilai Piala Dunia selama ini memiliki daya tarik karena eksklusivitas dan kualitas persaingan yang tinggi.
Jika peserta terus diperbanyak, ada kekhawatiran turnamen paling bergengsi di dunia itu justru kehilangan nilai kompetitif yang selama puluhan tahun menjadi identitas utamanya.
Perdebatan mengenai Piala Dunia 64 tim diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Di satu sisi, FIFA ingin membuka pintu lebih lebar bagi negara-negara berkembang. Di sisi lain, banyak pemangku kepentingan menilai bahwa menjaga kualitas kompetisi dan kesehatan ekosistem sepak bola dunia harus tetap menjadi prioritas utama.
Editor : Mahendra Aditya