Viral! Argentina Membelakangi Spanyol Saat Angkat Trofi Piala Dunia 2026, Tuai Hujan Kritik

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 08:17 WIB
KAWINKAN: Timnas Spanyol berhasil menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan 1-0. Catatan ini sekaligus membuat mereka mengkawinkan gelar Piala Dunia Wanita yang telah menjadi juara di tahun 2023 yang lalu. (FOTO: IG sefutbol)
KAWINKAN: Timnas Spanyol berhasil menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan 1-0. Catatan ini sekaligus membuat mereka mengkawinkan gelar Piala Dunia Wanita yang telah menjadi juara di tahun 2023 yang lalu. (FOTO: IG sefutbol)

RADAR KUDUS - Final Piala Dunia 2026 tidak hanya dikenang karena keberhasilan Spanyol merebut gelar juara dunia, tetapi juga karena kontroversi yang terjadi seusai pertandingan. Sorotan publik dunia justru tertuju pada sikap para pemain Argentina yang memilih membelakangi podium ketika skuad La Roja mengangkat trofi juara, sebuah momen yang memicu perdebatan luas di media sosial dan kalangan pengamat sepak bola.

Laga puncak yang berlangsung di New York New Jersey Stadium berjalan dengan tensi tinggi sejak menit awal. Kedua tim sama-sama tampil disiplin sehingga pertandingan harus berlanjut hingga babak perpanjangan waktu setelah skor tetap imbang selama 90 menit.

Spanyol akhirnya memastikan kemenangan berkat gol Ferran Torres pada menit ke-106. Gol tersebut menjadi pembeda sekaligus mengantarkan La Roja meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah mereka, setelah sebelumnya menjadi juara pada edisi 2010 di Afrika Selatan.

Baca Juga: Boikot Final Piala Dunia 2026! Presiden UEFA Tolak Hadiri Laga Puncak

Di sisi lain, hasil tersebut mengakhiri perjalanan Argentina sebagai juara bertahan. Tim asuhan Lionel Scaloni gagal mempertahankan mahkota yang mereka raih pada Piala Dunia 2022 setelah harus mengakui keunggulan Spanyol dalam pertandingan yang berlangsung ketat hingga menit-menit akhir.

Namun, perhatian publik bergeser dari hasil pertandingan ke prosesi penyerahan medali dan trofi. Setelah menerima medali perak dari Presiden FIFA Gianni Infantino bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang hadir dalam seremoni tersebut, para pemain Argentina bergerak menjauh dari panggung utama.

Saat para pemain Spanyol bersiap menerima dan mengangkat trofi Piala Dunia, mayoritas pemain Argentina terlihat berdiri membelakangi podium. Mereka memilih menghadap ke arah tribun yang dipenuhi para pendukung Albiceleste, sehingga tidak menyaksikan secara langsung momen pengangkatan trofi oleh lawannya.

Rekaman kejadian itu dengan cepat beredar di berbagai platform media sosial seperti X, Instagram, TikTok, hingga Facebook. Video tersebut ditonton jutaan kali hanya dalam hitungan jam dan memunculkan beragam tanggapan dari penggemar sepak bola di seluruh dunia.

Banyak pihak menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan semangat sportivitas yang selama ini dijunjung tinggi dalam sepak bola internasional. Dalam tradisi olahraga, tim yang kalah umumnya tetap memberikan penghormatan kepada lawan yang berhasil menjadi juara sebagai bentuk respek terhadap hasil pertandingan.

Komentator talkSPORT, Stuart Pearce, menjadi salah satu sosok yang menyoroti insiden tersebut dalam siaran langsung. Menurutnya, gestur para pemain Argentina memberikan gambaran mengenai suasana hati tim yang masih sulit menerima kekalahan.

Rekan komentatornya, Adrian Durham, bahkan melontarkan kritik lebih tajam. Ia menyebut tindakan membelakangi prosesi pengangkatan trofi sebagai sikap yang tidak berkelas dan tidak pantas diperlihatkan pada panggung sebesar final Piala Dunia.

Kontroversi semakin membesar karena sebelumnya beredar informasi bahwa para pemain Spanyol memberikan penghormatan kepada Argentina sebagai runner-up melalui gestur yang dianggap menunjukkan rasa hormat kepada lawan. Hal itu membuat sebagian publik menilai sikap Argentina seharusnya dapat menunjukkan penghargaan serupa ketika Spanyol merayakan gelar juara.

Ketegangan di lapangan ternyata belum benar-benar mereda setelah peluit panjang dibunyikan. Beberapa pemain dari kedua tim sempat terlibat adu mulut yang nyaris berubah menjadi keributan terbuka.

Gelandang Argentina Leandro Paredes menjadi salah satu pemain yang paling disorot setelah terlibat konfrontasi dengan Gavi dan Eric Garcia. Sementara itu, Nahuel Molina juga disebut bersitegang dengan Rodri dalam suasana yang berlangsung cukup panas.

Petugas keamanan bersama ofisial kedua tim akhirnya turun tangan untuk memisahkan para pemain sehingga situasi dapat kembali terkendali sebelum upacara penyerahan trofi berlangsung.

Di media sosial, reaksi publik terhadap gestur Argentina terbelah. Sebagian besar netizen menganggap tindakan tersebut sebagai contoh buruk tentang bagaimana menerima kekalahan di level tertinggi kompetisi sepak bola.

Istilah sore loser banyak digunakan untuk menggambarkan sikap sejumlah pemain Argentina. Menurut mereka, rasa kecewa setelah kalah di final memang wajar, tetapi tetap tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap lawan yang tampil lebih baik pada pertandingan tersebut.

Sejumlah pengguna media sosial juga mengaitkan insiden itu dengan permainan keras yang diperagakan Argentina selama pertandingan. Mereka menilai rangkaian peristiwa tersebut semakin memperburuk citra Albiceleste setelah laga usai.

Namun, tidak sedikit pula yang memberikan pembelaan. Sebagian penggemar Argentina berpendapat bahwa para pemain masih larut dalam kesedihan karena gagal mempertahankan gelar juara dunia. Mereka menilai membelakangi podium belum tentu dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan kepada Spanyol, melainkan ekspresi emosional setelah kehilangan kesempatan mempertahankan trofi.

Dalam sepak bola internasional, ekspresi emosional usai final memang kerap terjadi. Beberapa tim besar pada edisi-edisi sebelumnya juga pernah menunjukkan kekecewaan mendalam setelah gagal menjadi juara. Meski demikian, tindakan yang dianggap tidak menghormati lawan hampir selalu memicu perdebatan dan kritik dari publik maupun mantan pemain.

Hingga kini, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai gestur para pemain Argentina saat upacara penyerahan trofi. Insiden tersebut juga tidak termasuk pelanggaran disiplin yang secara spesifik diatur dalam regulasi pertandingan, sehingga kecil kemungkinan memunculkan sanksi.

Terlepas dari kontroversi yang mengiringinya, kemenangan Spanyol tetap menjadi pencapaian bersejarah. La Roja sukses menambah koleksi gelar Piala Dunia menjadi dua trofi dan mengukuhkan diri sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia.

Sebaliknya, Argentina harus menerima kenyataan pahit gagal mempertahankan status juara bertahan. Selain kehilangan trofi, momen kontroversial setelah pertandingan membuat perhatian dunia tidak hanya tertuju pada hasil akhir laga, tetapi juga pada bagaimana sebuah tim menunjukkan sikap ketika menghadapi kekalahan di panggung terbesar sepak bola internasional.

Editor : Mahendra Aditya
final Piala Dunia 2026 piala dunia 2026 Argentina Spanyol ferran torres