RADAR KUDUS - FIFA mulai melakukan kajian terhadap insiden pembentangan spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas" oleh para pemain Timnas Argentina setelah kemenangan dramatis 2-1 atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026. Aksi yang terjadi sesaat setelah peluit panjang dibunyikan itu memicu perhatian dunia karena menyentuh isu sensitif yang telah menjadi sengketa diplomatik selama puluhan tahun antara Argentina dan Inggris.
Spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas" atau "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina" dibentangkan para pemain ketika mereka merayakan keberhasilan melaju ke final. Momen tersebut langsung menjadi viral di media sosial dan memunculkan berbagai reaksi, mulai dari dukungan publik Argentina hingga kritik dari sejumlah pihak di Inggris.
Pemerintah Inggris kemudian meminta FIFA melakukan penyelidikan terhadap aksi tersebut. London menilai pembentangan spanduk berisi klaim teritorial itu berpotensi melanggar prinsip netralitas politik dalam olahraga yang selama ini dijunjung FIFA.
Menanggapi polemik tersebut, badan sepak bola dunia menyatakan belum mengambil keputusan apa pun. FIFA menegaskan bahwa Komite Disiplin Independen saat ini masih mempelajari laporan resmi pertandingan beserta seluruh fakta yang berkaitan sebelum menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA.
Dalam pernyataannya, FIFA menyebut proses evaluasi dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan seluruh keadaan yang terjadi di lapangan maupun setelah pertandingan usai. Apabila ditemukan indikasi pelanggaran terhadap regulasi yang berlaku, FIFA memiliki kewenangan untuk menjatuhkan berbagai bentuk sanksi sesuai tingkat pelanggaran.
Kode Disiplin FIFA sendiri mengatur bahwa kompetisi sepak bola harus terbebas dari segala bentuk pesan politik, diskriminatif, maupun provokatif. Federasi internasional itu selama bertahun-tahun berupaya menjaga agar ajang sepak bola tidak dijadikan ruang untuk menyampaikan kepentingan politik suatu negara atau kelompok tertentu.
Kontroversi ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang sengketa Kepulauan Malvinas, yang oleh Inggris disebut Falkland Islands. Wilayah di Samudra Atlantik Selatan tersebut menjadi sumber perselisihan kedaulatan antara kedua negara sejak abad ke-19. Konflik memuncak pada 1982 ketika pecah Perang Falklands atau Perang Malvinas yang berlangsung selama sekitar 10 minggu dan menewaskan ratusan personel dari kedua belah pihak. Hingga kini Inggris masih menguasai wilayah tersebut, sementara Argentina tetap mengklaim Malvinas sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya.
Karena memiliki nilai historis dan emosional yang sangat kuat bagi masyarakat Argentina, isu Malvinas kerap muncul dalam berbagai momentum nasional, termasuk dalam dunia olahraga. Namun, penyampaiannya di ajang internasional sering kali memicu perdebatan karena bersinggungan dengan aturan netralitas yang diterapkan organisasi olahraga dunia.
Di sisi lain, dukungan terhadap aksi para pemain justru mengalir dari dalam negeri Argentina. Di Buenos Aires dan sejumlah kota lainnya, banyak warga menilai pembentangan spanduk tersebut merupakan bentuk ekspresi patriotisme yang mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat mengenai status Kepulauan Malvinas.
Sejumlah warga menyatakan bahwa Malvinas merupakan bagian penting dari identitas nasional Argentina. Bagi mereka, aksi para pemain tidak dimaksudkan sebagai provokasi, melainkan simbol kecintaan terhadap negara setelah tim nasional berhasil memastikan tiket menuju partai final Piala Dunia 2026.
Meski demikian, sejumlah pengamat hukum olahraga menilai keputusan FIFA nantinya akan menjadi preseden penting dalam penerapan aturan terkait ekspresi politik di arena sepak bola. Selama ini FIFA dikenal konsisten menerapkan regulasi mengenai larangan pesan politik, baik melalui atribut, spanduk, slogan, maupun gestur tertentu yang dilakukan pemain, ofisial, ataupun suporter.
Apabila Komite Disiplin menyimpulkan terdapat pelanggaran, sanksi yang dapat dijatuhkan bervariasi, mulai dari teguran resmi, denda kepada federasi nasional, hingga tindakan disiplin lainnya sesuai tingkat pelanggaran dan dampak yang ditimbulkan. Namun hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang dikeluarkan FIFA.
Di tengah polemik tersebut, fokus Timnas Argentina tetap tertuju pada persiapan menghadapi partai final Piala Dunia 2026. Albiceleste berpeluang mempertahankan gelar juara dunia setelah sebelumnya menyingkirkan Inggris dalam laga semifinal yang berlangsung sengit. Sementara itu, FIFA diperkirakan akan menyampaikan hasil evaluasi setelah seluruh laporan pertandingan dan bukti pendukung selesai dipelajari secara menyeluruh.
Editor : Mahendra Aditya