Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Terlalu Cepat Puas: Keputusan Tuchel Parkir Bus usai Unggul 1-0 Jadi Biang Kegagalan Inggris ke Final Piala Dunia 2026

uinbroadcasting • Kamis, 16 Juli 2026 | 10:39 WIB
Unggul 1-0, eh malah parkir bus...
Keputusan Tuchel bertahan usai gol Gordon berujung petaka — Argentina balikkan keadaan 2-1 dalam 7 menit terakhir! @433
Unggul 1-0, eh malah parkir bus... Keputusan Tuchel bertahan usai gol Gordon berujung petaka — Argentina balikkan keadaan 2-1 dalam 7 menit terakhir! @433

RADAR KUDUS - Timnas Inggris harus menelan kekecewaan mendalam usai gagal melaju ke partai final Piala Dunia 2026.

Setelah takluk 1-2 dari Argentina dalam laga semifinal yang berlangsung di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. 

Yang membuat kekalahan ini terasa lebih menyakitkan adalah fakta bahwa Inggris sebenarnya sempat unggul lebih dulu.

Sebelum keputusan taktik pelatih Thomas Tuchel untuk bermain bertahan justru berbalik menjadi bumerang.

Kronologi: unggul lewat Gordon, lalu memilih bertahan

The Three Lions membuka keunggulan lebih dulu lewat gol Anthony Gordon di awal babak kedua, tepatnya menit ke-55.

Namun, alih-alih terus menekan dan mencoba menambah keunggulan.

Tuchel justru mengambil keputusan mengejutkan dengan mengubah pendekatan permainan timnya menjadi jauh lebih defensif begitu unggul 1-0.

Puncak perubahan taktik ini terlihat jelas pada menit ke-80, ketika Tuchel menarik keluar tiga pemain ofensif dan gelandang kreatif sekaligus Anthony Gordon, Declan Rice, dan Reece James untuk digantikan oleh tiga bek tambahan, yakni Ezri Konsa, Dan Burn, dan Nico O'Reilly.

Perubahan formasi drastis ini secara efektif mengubah skema Inggris menjadi sangat bertahan, sebuah pendekatan yang di kalangan pencinta sepak bola akrab disebut sebagai strategi "parkir bus".

Argentina hukum kelengahan Inggris dalam tujuh menit

Keputusan bertahan sedini itu ternyata tidak berbuah manis.

Alih-alih mengamankan keunggulan, Inggris justru kehilangan kendali permainan dan membiarkan Argentina mengepung pertahanan mereka sepanjang waktu tersisa. 

Lionel Messi dan kawan-kawan memanfaatkan situasi tersebut secara maksimal — Enzo Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85, sebelum Lautaro Martinez memastikan pembalikan skor lewat sundulan pada masa injury time, tepatnya menit ke-90+2.

Kedua gol Argentina tercipta hanya dalam rentang tujuh menit, membalikkan keadaan dari tertinggal menjadi menang 2-1.

Kritik keras dari kapten tim sendiri

Kekalahan menyakitkan ini langsung memicu gelombang kritik, bahkan dari internal skuad Inggris sendiri.

Kapten Timnas Inggris, Harry Kane, secara terbuka mempertanyakan pendekatan yang diambil Tuchel usai timnya unggul lebih dulu. 

"Kami memainkan pertandingan yang bagus hampir sepanjang waktu. Ketika kami unggul 1-0, kami tampaknya mencoba untuk mempertahankan keunggulan, yang di level ini tidak cukup," ujar Kane kepada BBC One usai laga. 

Kritik senada juga membanjiri media sosial. Salah satu warganet,  menyoroti minimnya antisipasi Tuchel terhadap rekam jejak Argentina yang dikenal kerap mencetak gol di menit-menit akhir sepanjang turnamen ini.

"Aneh juga sih, mentalnya sebates menang 1-0 langsung parkir bus, dia nggak liat match argen sebelum-sebelumnya apa ya? Menit akhir selalu nusuk," tulis akun @Ardi648718. 

Pembelaan Tuchel: tidak menyesal meski hasil mengecewakan

Di sisi lain, Tuchel tetap kukuh mempertahankan keputusannya.

Ia beralasan perubahan ke formasi lima bek dilakukan karena melihat lini pertahanan Inggris mulai meninggalkan banyak celah, ditambah penilaiannya bahwa Argentina jauh lebih dominan dalam duel-duel udara sepanjang laga.

"Saya memutuskan beralih ke formasi lima bek karena terlalu banyak celah di lini pertahanan dan Argentina memenangkan hampir setiap duel udara," kata Tuchel, dikutip dari BBC. 

Meski hasil akhirnya mengecewakan, pelatih asal Jerman itu menegaskan tidak menyesali keputusannya.

"Kalau hasilnya tidak berakhir baik, tentu mudah untuk mengatakan bahwa keputusan saya salah. Namun, saya sama sekali tidak menyesal," lanjutnya, bahkan menyebut penampilan timnya melawan Argentina sebagai salah satu yang terbaik sepanjang Piala Dunia 2026.

Ia menambahkan usai laga, "Kami kecewa. Kami sangat dekat tetapi kami menjadi terlalu pasif setelah gol tersebut."

Dampak kekalahan bagi kedua tim

Akibat kekalahan ini, Inggris harus puas melakoni laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis, yang sebelumnya juga kalah di semifinal lain melawan Spanyol dengan skor 0-2.

Sementara itu, Argentina berhasil melaju ke final Piala Dunia untuk dua edisi beruntun sebagai juara bertahan, dan akan menghadapi Spanyol di Stadion MetLife, New Jersey, pada Senin, 20 Juli 2026 pukul 02.00 WIB.

Kekalahan ini turut memperkuat perdebatan lama dalam sepak bola modern: sejauh mana keputusan bermain defensif terlalu dini, sekalipun dengan alasan taktis yang masuk akal, justru dapat membuka celah psikologis dan teknis bagi lawan.

Terlebih ketika berhadapan dengan tim sekelas Argentina yang telah berulang kali terbukti tangguh mencetak gol-gol penentu di masa-masa krusial akhir pertandingan sepanjang Piala Dunia 2026. (wa)

Editor : Ali Mustofa
Inggris vs Argentina parkir bus piala dunia 2026 harry kane thomas tuchel