Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Jaminton Campaz Diancam Dibunuh Usai Kolombia Tersingkir, Tragedi Andrés Escobar Kembali Menghantui

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 13 Juli 2026 | 17:24 WIB
Jaminton Campaz pemain timnas Columbia.
Jaminton Campaz pemain timnas Colombia.

RADAR KUDUS - Kekalahan Kolombia di babak 16 besar Piala Dunia 2026 tak hanya menyisakan kekecewaan bagi para pendukungnya, tetapi juga memunculkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan salah satu pemainnya, Jaminton Campaz.

Penyerang berusia 26 tahun itu dilaporkan menerima ancaman pembunuhan setelah gagal memanfaatkan peluang emas saat menghadapi Swiss.

Situasi tersebut membuat Federasi Sepak Bola Kolombia (FCF) mengambil langkah pengamanan khusus dengan memisahkan Campaz dari rombongan tim nasional saat kepulangan. Langkah itu dilakukan sebagai tindakan preventif menyusul maraknya intimidasi dan ancaman yang beredar melalui media sosial maupun saluran komunikasi lainnya.

Peristiwa ini sekaligus membangkitkan kembali ingatan publik terhadap tragedi kelam yang menimpa bek Kolombia Andrés Escobar pada 1994, sebuah peristiwa yang hingga kini menjadi salah satu bab tergelap dalam sejarah sepak bola dunia.

Baca Juga: Usai Bersinar di Piala Dunia, Johan Manzambi Pilih Aston Villa dan Pecahkan Rekor Transfer Klub

Kolombia Gugur Dramatis Lewat Adu Penalti

Kolombia harus mengakhiri perjuangannya di Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Swiss pada babak 16 besar.

Pertandingan yang berlangsung di BC Place Stadium, Vancouver, Kanada, berakhir imbang 0-0 selama 120 menit sebelum Swiss memastikan kemenangan 4-3 melalui adu penalti.

Jaminton Campaz sebenarnya sukses menjalankan tugasnya sebagai eksekutor penalti. Namun sorotan publik justru tertuju pada peluang emas yang gagal ia konversi menjadi gol pada waktu normal.

Dalam sebuah situasi satu lawan satu dengan kiper Swiss Gregor Kobel, tendangan Campaz melambung di atas mistar gawang. Momen tersebut kemudian menjadi sasaran kritik tajam sebagian pendukung Kolombia di media sosial.

Ancaman Pembunuhan Picu Pengamanan Khusus

Tak lama setelah pertandingan berakhir, berbagai ancaman terhadap Campaz mulai bermunculan.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa ancaman tersebut membuat Federasi Sepak Bola Kolombia mengambil langkah pengamanan ekstra.

Campaz dilaporkan tidak ikut bersama rombongan utama tim nasional dalam perjalanan pulang dan ditempatkan di lokasi yang dirahasiakan demi alasan keamanan.

FCF mengecam keras segala bentuk intimidasi terhadap pemainnya.

Dalam pernyataan resminya, federasi menegaskan dukungan penuh kepada Jaminton Campaz beserta keluarganya, sekaligus mengajak masyarakat menghentikan segala bentuk kebencian yang muncul setelah kekalahan tim nasional.

"Sepak bola seharusnya menjadi ruang yang menghadirkan persatuan, rasa hormat, dan harapan, bukan tempat bagi ancaman, intimidasi, maupun kekerasan," demikian isi pernyataan FCF.

Baca Juga: Japan Open 2026 Dimulai, Moh Zaki Ubaidillah Siap Ukir Sejarah di Level Super 750

Trauma Andrés Escobar Kembali Mencuat

Kasus yang menimpa Campaz langsung mengingatkan banyak pihak pada tragedi Andrés Escobar, salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah sepak bola.

Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Escobar mencetak gol bunuh diri saat Kolombia kalah dari Amerika Serikat. Kekalahan tersebut membuat Kolombia tersingkir lebih awal dari turnamen.

Beberapa hari setelah kembali ke tanah air, Escobar ditembak mati di sebuah tempat parkir di Kota Medellín pada 2 Juli 1994.

Kasus tersebut diduga berkaitan dengan fanatisme ekstrem dan kepentingan kelompok kriminal yang saat itu memiliki pengaruh besar di Kolombia. Peristiwa itu mengguncang dunia sepak bola internasional dan menjadi simbol bahaya kekerasan yang dipicu fanatisme olahraga.

Meski kondisi keamanan Kolombia saat ini jauh lebih baik dibanding tiga dekade lalu, munculnya ancaman terhadap Campaz kembali memunculkan kekhawatiran akan keselamatan para pemain.

Gelombang Kebencian di Media Sosial Jadi Sorotan

Fenomena intimidasi terhadap atlet melalui media sosial kembali menjadi perhatian setelah insiden ini.

Dalam beberapa turnamen besar, sejumlah pemain dari berbagai negara juga pernah menjadi sasaran pelecehan, ancaman, hingga ujaran kebencian setelah tim mereka mengalami kekalahan.

Organisasi sepak bola internasional, termasuk FIFA, selama beberapa tahun terakhir terus mengampanyekan perlindungan terhadap pemain dari serangan daring, termasuk bekerja sama dengan platform digital untuk memantau konten yang mengandung ancaman maupun ujaran kebencian.

Kasus Campaz kembali menunjukkan bahwa tekanan terhadap atlet profesional tidak hanya terjadi di dalam lapangan, tetapi juga berlanjut di ruang digital.

Dukungan Mengalir untuk Campaz

Di tengah derasnya kritik, banyak mantan pemain, suporter, hingga tokoh sepak bola Kolombia memberikan dukungan kepada Jaminton Campaz.

Mereka mengingatkan bahwa sepak bola adalah olahraga tim, sehingga hasil pertandingan tidak dapat dibebankan kepada satu pemain saja.

FCF juga meminta aparat keamanan mengusut pihak-pihak yang menyebarkan ancaman, sekaligus memastikan keselamatan seluruh pemain tim nasional tetap terjaga setelah kepulangan dari Piala Dunia 2026.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa rivalitas olahraga seharusnya tidak berubah menjadi tindakan intimidasi atau kekerasan yang mengancam keselamatan individu.

Editor : Mahendra Aditya
#Jaminton Campaz #Andrés Escobar #Kolombia vs Swiss #ancaman pembunuhan Campaz #piala dunia 2026