BUENOS AIRES – Di tengah langkah meyakinkan Argentina menuju perempat final Piala Dunia 2026, pelatih Lionel Scaloni masih menghadapi satu persoalan yang belum berhasil dipecahkan sejak dua tahun terakhir: mencari pengganti sepadan untuk Ángel Di María.
Kepergian sang legenda setelah membawa Argentina menjuarai Copa América 2024 meninggalkan lubang besar di sektor kiri lini serang Albiceleste. Hingga kini, belum ada pemain yang mampu memberikan kontribusi, kreativitas, maupun ketenangan seperti yang selama bertahun-tahun ditunjukkan Di María.
Masalah tersebut kembali menjadi sorotan menjelang duel hidup-mati melawan Swiss pada babak perempat final Piala Dunia 2026, Minggu (12/7/2026). Laga ini sekaligus membangkitkan kenangan saat kedua tim bertemu di babak 16 besar Piala Dunia 2014, ketika Di María menjadi penentu kemenangan Argentina lewat gol dramatis di babak perpanjangan waktu.
Baca Juga: Brace Jude Bellingham Bawa Inggris ke Semifinal! Norwegia Tumbang Dramatis 2-1 di Piala Dunia 2026
Bayang-Bayang Di María Masih Mengiringi Argentina
Meski Argentina datang ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai juara bertahan dunia, komposisi skuad saat ini sudah mengalami banyak perubahan dibandingkan tim yang mengangkat trofi di Qatar 2022.
Salah satu perubahan terbesar adalah absennya Ángel Di María.
Selama lebih dari 15 tahun membela tim nasional, pemain yang kini memperkuat Rosario Central itu menjadi sosok penting dalam berbagai momen bersejarah Argentina.
Di María mencetak gol pada final Copa América 2021 melawan Brasil, Finalissima 2022 kontra Italia, serta final Piala Dunia 2022 menghadapi Prancis. Ia juga menjadi pahlawan saat Argentina menyingkirkan Swiss di Piala Dunia 2014 melalui gol kemenangan pada menit-menit akhir babak tambahan.
Rekam jejak tersebut membuat kontribusinya sulit tergantikan.
Scaloni Terus Bereksperimen
Sejak Di María memutuskan pensiun dari tim nasional usai Copa América 2024, Lionel Scaloni terus mencari formula terbaik untuk mengisi posisi yang ditinggalkan mantan bintang Real Madrid, Manchester United, Paris Saint-Germain, dan Benfica tersebut.
Berbagai nama telah dicoba sepanjang Piala Dunia 2026.
Thiago Almada sempat dipercaya sebagai starter, sementara Giovani Lo Celso, Julián Álvarez, Nico González, hingga Alexis Mac Allister juga pernah dimainkan di sisi kiri dalam berbagai skema berbeda.
Bahkan, Scaloni sempat mengubah formasi andalannya dari 4-3-3 menjadi 4-4-2 agar keseimbangan permainan tetap terjaga.
Namun hingga memasuki babak delapan besar, belum ada satu pun pemain yang benar-benar mampu memberikan pengaruh sebesar Di María, terutama dalam situasi pertandingan yang membutuhkan kreativitas dan penyelesaian akhir.
Scaloni Sempat Berusaha Membujuk Di María
Dalam beberapa kesempatan, Lionel Scaloni mengakui bahwa dirinya bersama staf pelatih sempat mencoba membujuk Di María agar tetap bertahan di tim nasional.
Namun keputusan sang pemain sudah bulat.
Scaloni menyebut perjalanan Di María bersama Argentina sebagai kisah yang sempurna.
Menurutnya, sang winger memilih mengakhiri karier internasional pada waktu yang tepat, yakni setelah mempersembahkan seluruh gelar bergengsi yang selama puluhan tahun dinantikan Argentina.
"Dia sudah memberikan segalanya untuk negara ini. Kami sempat berharap dia berubah pikiran, tetapi keputusan itu sudah dipikirkan dengan matang. Dia pensiun sebagai juara dan sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola Argentina," ujar Scaloni dalam pernyataan yang sebelumnya dikutip media Spanyol.
Warisan Sang Legenda
Statistik menunjukkan betapa besarnya kontribusi Ángel Di María.
Selama membela Argentina sejak debutnya pada September 2008, ia tampil dalam 145 pertandingan, mencetak 31 gol, serta menyumbangkan 32 assist.
Lebih dari sekadar angka, Di María selalu hadir pada laga-laga besar.
Ia membantu Argentina meraih empat gelar utama, yakni:
-
Piala Dunia 2022
-
Copa América 2021
-
Copa América 2024
-
Finalissima 2022
Tidak banyak pemain yang mampu meninggalkan warisan sebesar itu dalam sejarah Albiceleste.
Ujian Berat Melawan Swiss
Kini Argentina kembali dipertemukan dengan Swiss di fase gugur Piala Dunia.
Pada edisi 2014 di Brasil, Swiss nyaris memaksa Argentina menjalani adu penalti sebelum Di María mencetak gol kemenangan pada menit ke-118.
Kondisi kali ini berbeda.
Argentina tetap memiliki Lionel Messi sebagai pemimpin tim, tetapi tidak lagi mempunyai sosok "penyelamat" seperti Di María yang mampu muncul di saat-saat paling menentukan.
Karena itulah, perhatian publik tertuju kepada para pemain muda seperti Julián Álvarez, Thiago Almada, Nico González, hingga Alexis Mac Allister untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengisi kekosongan tersebut.
Jika tidak segera menemukan solusi, absennya Di María berpotensi menjadi titik lemah Argentina dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia.
Meski demikian, dengan pengalaman Lionel Messi, kedalaman skuad yang dimiliki, serta tangan dingin Lionel Scaloni, Albiceleste tetap menjadi salah satu favorit kuat untuk kembali mencapai partai final Piala Dunia 2026.
Editor : Mahendra Aditya