JEPARA — Bongkar total. Manajemen Persijap Jepara tak mencapai kesepakatan dengan sejumlah pemain.
Setelah sebelumnya berembus kabar sejumlah pemain minta penyesuaian gaji 2 hingga 3 kali lipat, kini sejumlah pemain telah resmi tak memperpanjang kontrak.
Baru-baru ini, Alexis Gomez mengakhiri kontrak dengan Persijap Jepara.
Menyusul penyerang asing asal Burundi, Sudi Abdallah. Sebelumnya, Persijap juga mengakhiri kontrak dengan sang top scorer, Carlos Franca.
Termasuk gelandang lincah Dicky Kurniawan yang hijrah ke Persebaya Surabaya. Tak berhenti di situ, bek tengah asal Prancis Aly Ndom, dan gelandang Wahyudi Hamisi, serta pelatih kiper Yoo Jae-hoon, juga resmi mengakhiri kebersamaan mereka dengan skuad asuhan Mario Lemos.
Tanpa banyak gembar-gembor, Laskar Kalinyamat memilih jalur perombakan total.
Keputusan ini memicu perhatian besar. Karena melibatkan pelepasan para pemain yang selama ini menjadi tulang punggung tim.
Penyusunan ulang komposisi tim ini, tampak akan diawali dengan keputusan besar di lini serang.
Di tengah situasi bongkar pasang yang santer ini, angin segar mulai berembus bagi publik Jepara.
Manajemen tidak tinggal diam dan sedang bergerak aktif. Berupaya mengamankan tanda tangan pemain pengganti, untuk menambal posisi yang ditinggalkan.
Nama penyerang asing Roman Paparyga disebut-sebut telah mencapai kata sepakat untuk merapat ke Persijap.
Menyebut striker asal Ukraina berusia 26 tahun ini sebagai suksesor Carlos Franca, bukan sekadar urusan mengganti satu nama asing dengan nama asing lainnya.
Secara rekam jejak, Paparyga membawa atribut yang berbeda dan berpotensi mengubah gaya bermain Persijap.
Posisi utamanya memang penyerang tengah, namun ia juga sangat fasih beroperasi sebagai winger.
Atribusi ini memberi kebebasan bagi Mario Lemos, untuk menerapkan skema lini depan yang dinamis dan cair. Seperti laga-laga penghujung BRI Super League 2025/2026 lalu. Strategi bunglon.
Di mana para penyerang bisa saling bertukar posisi, untuk mengacaukan kawalan bek lawan.
Hengkang dari Persis Solo yang terdegradasi dan bekal pengalaman berkompetisi di liga Uzbekistan, Paparyga dikenal sebagai penyerang yang andal.
Postur tubuhnya yang memiliki tinggi 181 cm, menjadi modal penting. Duel udara dapat menjadi kesempatannya.
Meski memiliki profil menjanjikan, tantangan terbesar Paparyga adalah faktor adaptasi kilat.
Pasca merasakan pahitnya degradasi bersama Persis, ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi mesin gol, bukan sekadar penyerang pelengkap.
Ia memikul beban berat untuk langsung stel dengan Mario Lemos, di tengah skuad yang baru saja kehilangan banyak pilar inti.
Perombakan massal ini menunjukkan bahwa Mario Lemos ingin membangun identitas permainan anyar. Penuh kejutan di musim depan.(fik)
Editor : Mahendra Aditya