RADAR KUDUS - Dalam beberapa musim terakhir, harga penyerang bukan lagi satu-satunya yang membuat publik terkejut.
Kini giliran para gelandang yang menjadi rebutan klub-klub elite Eropa dengan nilai transfer fantastis.
Bahkan, beberapa nama yang belum memiliki status superstar sudah dihargai puluhan hingga ratusan juta euro.
Fenomena tersebut kembali terlihat pada bursa transfer musim panas 2026.
Nama-nama seperti Elliot Anderson, Sandro Tonali, Mateus Fernandes, dan Alex Scott menjadi perbincangan karena nilai transfer yang terus melambung.
Elliot Anderson menjadi contoh paling mencolok.
Gelandang Nottingham Forest itu dikabarkan diminati Manchester City dengan nilai transfer yang bisa menembus 120 hingga 130 juta poundsterling atau sekitar Rp2,8 triliun.
Forest bahkan beberapa kali menolak tawaran besar karena menganggap Anderson sebagai aset utama klub.
Sementara itu, Sandro Tonali yang menjadi motor permainan Newcastle United saat ini memiliki nilai pasar sekitar 80 juta euro menurut Transfermarkt.
Beberapa laporan bahkan menyebut Newcastle hanya akan mempertimbangkan penawaran di kisaran 100 juta poundsterling untuk melepas gelandang tim nasional Italia tersebut.
Nama lain yang ikut meroket adalah Mateus Fernandes.
Gelandang asal Portugal yang kini bermain untuk West Ham disebut memiliki valuasi hingga 80 juta poundsterling setelah tampil konsisten sepanjang musim.
Padahal beberapa tahun lalu namanya belum masuk dalam radar klub-klub elite Eropa.
Di Bournemouth, Alex Scott juga mengalami kenaikan harga yang luar biasa. Klub berjuluk The Cherries itu dikabarkan mematok harga sekitar 80 juta poundsterling meski pemain berusia 22 tahun tersebut baru mencatat 4 gol dan 1 assist dalam 39 pertandingan musim ini.
Lalu mengapa harga gelandang sekarang begitu mahal?
Alasan pertama adalah perubahan taktik sepak bola modern. Gelandang tidak lagi hanya bertugas mengalirkan bola.
Mereka dituntut mampu bertahan, menyerang, melakukan pressing, membangun serangan, hingga mengatur tempo permainan.
Pemain dengan kemampuan komplet seperti itu semakin sulit ditemukan.
Kedua, klub-klub besar kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi. Jika dulu mereka berani menghabiskan dana besar untuk penyerang, sekarang banyak tim memilih membangun permainan dari lini tengah. Keberhasilan pemain seperti Rodri, Declan Rice, dan Martín Zubimendi menunjukkan bahwa gelandang berkualitas mampu mengubah performa satu tim secara keseluruhan.
Ketiga, faktor usia menjadi pertimbangan penting. Anderson (23 tahun), Alex Scott (22 tahun), dan Mateus Fernandes masih berada pada usia yang memungkinkan mereka berkembang selama lima hingga delapan tahun ke depan. Klub tidak hanya membeli kualitas saat ini, tetapi juga potensi masa depan.
Selain itu, banyak klub kini enggan menjual pemain intinya. Akibatnya, harga sengaja dinaikkan sangat tinggi untuk menghalangi peminat. Fenomena ini terlihat pada Nottingham Forest yang berkali-kali menolak tawaran Manchester City untuk Anderson, serta Bournemouth yang mematok harga tinggi untuk Alex Scott.
Gelandang yang Sedang Membuming di Bursa Transfer 2026
| Pemain | Klub | Usia | Estimasi Nilai Transfer |
|---|---|---|---|
| Elliot Anderson | Nottingham Forest | 23 | £120–130 juta |
| Sandro Tonali | Newcastle United | 26 | £100 juta |
| Mateus Fernandes | West Ham United | 22 | £80 juta |
| Alex Scott | Bournemouth | 22 | £60–80 juta |
| Adam Wharton | Crystal Palace | 22 | ± £100 juta |
| Éderson | Atalanta | 27 | £35–40 juta |
Pada akhirnya, mahalnya harga gelandang bukan sekadar karena tren pasar.
Sepak bola modern menjadikan lini tengah sebagai pusat permainan. Ketika seorang gelandang mampu bertahan, menyerang, mengontrol tempo, dan memimpin permainan dalam satu waktu, maka nilainya di pasar transfer akan terus meningkat.
Tidak heran jika saat ini gelandang mulai menjadi "emas baru" dalam industri sepak bola dunia. (Bayu Bahtiar)
Editor : Ali Mustofa