Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bellingham Tutupi Mulut Saat Bicara dengan Lawan, Mengapa Wasit FIFA Tak Beri Kartu Merah?

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 24 Juni 2026 | 17:46 WIB
Bellingham menutup mulutnya saat berkomunikasi dengan pemain Ghana. (Getty Images)
Bellingham menutup mulutnya saat berkomunikasi dengan pemain Ghana. (Getty Images)

RADAR KUDUS - Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan perdebatan menarik di luar hasil pertandingan. Kali ini sorotan tertuju kepada gelandang andalan Inggris, Jude Bellingham, yang terekam kamera menutupi mulutnya saat berbicara dengan pemain Ghana, Jordan Ayew, dalam laga Grup L yang berakhir tanpa gol.

Momen tersebut langsung memicu tanda tanya besar di kalangan penggemar sepak bola. Pasalnya, FIFA baru saja menerapkan aturan yang memungkinkan pemain mendapat kartu merah apabila sengaja menutupi mulut ketika berbicara kepada lawan di lapangan.

Kontroversi semakin berkembang karena sebelumnya gelandang Paraguay, Miguel Almiron, menjadi pemain pertama yang dihukum berdasarkan regulasi baru tersebut. Namun ketika Bellingham melakukan tindakan serupa, wasit dan VAR tidak memberikan hukuman apa pun.

Lantas, mengapa Bellingham lolos dari kartu merah?

Aturan Baru FIFA yang Mengubah Kebiasaan Pemain

FIFA mulai menerapkan regulasi baru pada Piala Dunia 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan sportivitas pertandingan.

Aturan tersebut lahir setelah sejumlah kasus ujaran tidak pantas yang sulit dibuktikan karena pemain menutupi mulut saat berbicara. Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah sanksi berat yang dijatuhkan UEFA kepada Gianluca Prestianni setelah insiden yang melibatkan Vinicius Junior dalam pertandingan Liga Champions awal tahun 2026.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, kemudian mendorong lahirnya aturan yang memungkinkan wasit mengambil tindakan tegas terhadap pemain yang menutupi mulut dalam situasi konfrontatif.

Meski demikian, FIFA menegaskan bahwa bukan tindakan menutup mulut yang dilarang, melainkan konteks percakapan yang menyertainya.

Konteks Jadi Pembeda Utama

Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, sebelumnya telah menjelaskan bahwa pemain tetap diperbolehkan menutupi mulut ketika berbicara dengan rekan, lawan, maupun wasit selama percakapan berlangsung normal dan tidak mengandung unsur konfrontasi.

Menurut Collina, sepak bola tetap merupakan olahraga yang penuh interaksi. Pemain sering berbicara sebelum, selama, maupun setelah pertandingan tanpa adanya konflik.

Karena itu, FIFA hanya akan memberikan hukuman apabila tindakan menutupi mulut dilakukan dalam situasi perselisihan, adu argumen, provokasi, atau dugaan penghinaan terhadap pemain lain.

Dalam kasus Bellingham dan Ayew, rekaman pertandingan menunjukkan tidak ada ketegangan maupun insiden yang melatarbelakangi percakapan keduanya. Mereka terlihat berbicara santai di tengah pertandingan tanpa gestur agresif.

Inilah alasan mengapa VAR tidak merekomendasikan peninjauan kartu merah kepada wasit.

Mengapa Miguel Almiron Justru Dihukum?

Kasus yang menimpa Miguel Almiron memiliki konteks berbeda.

Saat Paraguay menghadapi Turki, pertandingan sempat memanas setelah terjadi pelanggaran keras yang memicu keributan antarpemain. Dalam suasana penuh emosi tersebut, Almiron terlihat menutupi mulut ketika berbicara kepada bek Turki, Mert Muldur.

VAR kemudian menilai tindakan tersebut terjadi dalam situasi konfrontatif sehingga memenuhi unsur pelanggaran sesuai regulasi baru FIFA.

Akibatnya, Almiron menerima kartu merah dan dijatuhi larangan bermain satu pertandingan. Ia pun dipastikan absen dalam laga penting Paraguay melawan Australia.

Keputusan itu sekaligus menjadikannya pemain pertama dalam sejarah yang mendapat hukuman berdasarkan aturan baru mengenai penutupan mulut saat berbicara di lapangan.

Aturan Baru Masih Menuai Perdebatan

Meski FIFA menganggap regulasi ini penting untuk menjaga rasa hormat dan integritas pertandingan, sejumlah pengamat menilai penerapannya masih berpotensi menimbulkan kontroversi.

Salah satu kritik terbesar adalah sulitnya menjaga konsistensi penegakan aturan. Situasi di lapangan sering kali berlangsung sangat cepat dan interpretasi mengenai apakah percakapan bersifat konfrontatif atau tidak bisa berbeda-beda.

Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa pemain dapat memanfaatkan aturan tersebut untuk memancing lawan menerima kartu merah dengan sengaja melaporkan atau membesar-besarkan sebuah percakapan.

Dalam kasus Almiron misalnya, beberapa analis menilai tidak terlihat adanya ancaman atau tindakan agresif yang jelas. Namun suasana pertandingan yang sedang memanas membuat VAR mengambil keputusan berbeda.

Inggris Fokus ke Laga Berikutnya

Terlepas dari kontroversi tersebut, hasil imbang tanpa gol melawan Ghana membuat Inggris tetap berada di posisi yang cukup aman untuk lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026.

Skuad asuhan Thomas Tuchel masih memimpin klasemen Grup L dan hanya membutuhkan hasil positif pada laga terakhir melawan Panama untuk memastikan status juara grup.

Sementara itu, perdebatan mengenai aturan baru FIFA diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang turnamen berlangsung. Apalagi semakin banyak pemain yang kini harus berhati-hati dalam setiap interaksi mereka di lapangan.

Yang jelas, kasus Jude Bellingham menjadi contoh bahwa tidak semua tindakan menutupi mulut otomatis berujung kartu merah. Dalam regulasi terbaru FIFA, konteks percakapan menjadi faktor utama yang menentukan apakah sebuah tindakan dianggap pelanggaran atau tidak.

Editor : Mahendra Aditya
#Inggris vs Ghana #aturan kartu merah FIFA #piala dunia 2026 #FIFA #Jude bellingham