Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

78 Persen Kuasai Bola Tapi Mandul,, Ditahan Ghana 0-0, Tim Tuchel Kehabisan Ide di Piala Dunia 2026

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 24 Juni 2026 | 17:39 WIB
Tackle pemain inggris pada pemain Ghana saat pertandingan piala dunia 2026.
Tackle pemain inggris pada pemain Ghana saat pertandingan piala dunia 2026.

Boston – Euforia kemenangan meyakinkan Inggris atas Kroasia pada laga pembuka Piala Dunia 2026 mendadak mereda. Setelah tampil impresif di pertandingan pertama, The Three Lions justru menemui jalan buntu saat menghadapi Ghana dan harus puas bermain imbang tanpa gol dalam laga kedua Grup L.

Hasil 0-0 tersebut memang masih menempatkan Inggris di puncak klasemen sementara grup dan membuka peluang besar lolos ke babak 32 besar. Namun, performa yang ditampilkan pasukan Thomas Tuchel memunculkan tanda tanya besar mengenai kapasitas mereka untuk bersaing dengan para kandidat juara lainnya seperti Prancis, Spanyol, Argentina, Brasil, hingga Portugal.

Alih-alih menunjukkan dominasi yang menakutkan, Inggris justru terlihat kehabisan ide saat menghadapi pertahanan disiplin Ghana.

Dominasi Penguasaan Bola Tak Berbuah Gol

Sepanjang pertandingan, Inggris menguasai jalannya laga dengan statistik penguasaan bola mencapai lebih dari 78 persen. Namun dominasi tersebut nyaris tidak menghasilkan peluang berbahaya yang konsisten.

Pelatih Ghana, Carlos Queiroz, menerapkan pendekatan pragmatis dengan menumpuk pemain di area pertahanan. Formasi bertahan yang rapat membuat para pemain Inggris kesulitan menemukan ruang.

Strategi itu terbukti efektif. Meski terus ditekan, Ghana mampu mempertahankan kedisiplinan hingga peluit akhir dibunyikan.

Thomas Tuchel mengakui lawannya tampil sangat terorganisir.

"Ketika lawan bermain sangat dalam dengan blok pertahanan rapat dan berkomitmen penuh, menemukan celah menjadi sangat sulit," ujar Tuchel seusai pertandingan.

Menurut pelatih asal Jerman tersebut, hasil imbang bukan alasan untuk panik. Namun ia menyadari timnya perlu menemukan variasi serangan yang lebih efektif.

Inggris Kehilangan Faktor Pembeda

Berbeda dengan saat menghadapi Kroasia yang bermain terbuka, Inggris kali ini menghadapi lawan yang lebih defensif. Situasi tersebut membutuhkan kreativitas tinggi serta kemampuan individu untuk memecah kebuntuan.

Sayangnya, faktor pembeda itu tidak muncul.

Anthony Gordon yang dipercaya mengisi sektor sayap kembali gagal memberikan dampak signifikan. Masuknya Bukayo Saka pada babak kedua sempat meningkatkan intensitas serangan Inggris, bahkan pemain Arsenal tersebut memaksa kiper Ghana Benjamin Asare melakukan penyelamatan gemilang.

Performa Saka membuat banyak pengamat menilai dirinya layak menjadi starter pada pertandingan berikutnya.

Legenda Inggris Wayne Rooney bahkan memprediksi Tuchel akan melakukan sejumlah perubahan saat menghadapi Panama.

"Ketika menghadapi tim yang bertahan sangat dalam, Anda membutuhkan lebih banyak umpan silang dan variasi serangan. Inggris tidak cukup sering melakukannya," kata Rooney.

Harry Kane Dibuat Tak Berkutik

Salah satu sorotan terbesar tertuju kepada kapten Inggris, Harry Kane.

Striker andalan itu berhasil dikunci rapat oleh lini belakang Ghana. Pada babak pertama, Kane hanya mencatat dua sentuhan bola di dalam kotak penalti lawan.

Kesempatan terbaiknya datang menjelang akhir pertandingan, namun tembakannya melambung di atas mistar.

Situasi ini menunjukkan ketergantungan Inggris terhadap Kane masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Jika sang penyerang mampu dinetralkan lawan, kreativitas tim terlihat menurun drastis.

Lini Tengah Kurang Variatif

Selain lini depan, sektor tengah Inggris juga mendapat sorotan.

Kombinasi Declan Rice dan Elliot Anderson memang mampu menjaga keseimbangan permainan, tetapi kurang memberikan kreativitas untuk membongkar pertahanan rapat lawan.

Nama-nama seperti Morgan Gibbs-White, Adam Wharton, Cole Palmer, hingga Phil Foden kembali diperbincangkan. Banyak pihak menilai kehadiran pemain kreatif semacam mereka bisa menjadi solusi ketika Inggris menghadapi lawan yang memilih bertahan total.

Rice sendiri tetap optimistis.

"Ghana sangat kompak. Mereka menutup ruang dengan baik. Kami mungkin bisa bermain lebih baik, tetapi tidak ada alasan untuk bersikap negatif. Kami masih punya peluang besar menjadi juara grup," ujar gelandang Arsenal tersebut.

Ghana Nyaris Curi Kemenangan

Meski lebih banyak bertahan, Ghana bukan tanpa ancaman.

Beberapa kali serangan balik cepat mereka membuat lini pertahanan Inggris berada dalam tekanan.

Bahkan pada penghujung pertandingan, Ghana merasa layak mendapatkan hadiah penalti setelah Prince Kwabena Adu terjatuh akibat tekel Ezri Konsa di dalam kotak penalti.

Wasit Said Martinez menolak protes para pemain Ghana dan VAR tidak mengubah keputusan tersebut.

Carlos Queiroz secara terbuka menyindir keputusan tersebut.

"Kami merasa VAR sedang pergi minum kopi saat momen itu terjadi," sindir pelatih berpengalaman tersebut.

Komentar itu semakin mempertegas bahwa Ghana juga merasa kehilangan kesempatan emas untuk meraih kemenangan bersejarah atas Inggris.

Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai

Dua pertandingan pertama memperlihatkan dua wajah berbeda Inggris.

Mereka tampil eksplosif saat melawan Kroasia, tetapi terlihat tumpul ketika menghadapi pertahanan berlapis Ghana.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi Thomas Tuchel jika ingin membawa Inggris melangkah jauh di Piala Dunia 2026.

Mantan kiper Inggris Joe Hart bahkan menilai performa seperti ini belum cukup untuk membuat tim-tim elite dunia merasa khawatir.

"Prancis, Spanyol, atau Portugal tentu akan melihat pertandingan ini sebagai referensi. Inggris masih harus menunjukkan lebih banyak hal jika ingin dianggap sebagai ancaman utama," ujarnya.

Meski demikian, Inggris masih mengendalikan nasib mereka sendiri. Kemenangan atas Panama pada laga terakhir Grup L akan memastikan status juara grup sekaligus mengembalikan kepercayaan diri tim menjelang fase gugur.

Namun satu hal sudah jelas: hasil imbang melawan Ghana menjadi pengingat bahwa jalan menuju trofi Piala Dunia masih sangat panjang dan penuh tantangan.

Editor : Mahendra Aditya
#Inggris vs Ghana #Klasemen Grup L #piala dunia 2026 #harry kane #thomas tuchel