JAKARTA – Tidak semua bintang sepak bola lahir dari akademi elite atau meniti jalan mulus menuju puncak. Kisah Antoine Semenyo justru berawal dari kegagalan, penolakan, dan perjuangan panjang yang nyaris membuatnya meninggalkan mimpinya sebagai pesepak bola profesional.
Kini, pada usia 26 tahun, Semenyo berdiri di panggung terbesar sepak bola dunia bersama Ghana di Piala Dunia 2026. Bahkan, namanya telah menjelma menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di Liga Inggris setelah bersinar bersama Manchester City.
Perjalanan menuju titik ini tidak datang secara instan. Di balik sorotan stadion megah dan gemerlap kompetisi elite, tersimpan cerita tentang seorang anak muda yang pernah kehilangan arah sebelum akhirnya menemukan jalan menuju kesuksesan.
Baca Juga: 10 Tahun Setelah Pensiun dari Timnas, Lionel Messi Kini Jadi Raja Gol Piala Dunia Sepanjang Masa
Ditolak Akademi Elite, Hampir Menyerah pada Mimpi
Antoine Semenyo lahir di London dari pasangan imigran Ghana, Larry dan Dela Semenyo. Sejak kecil, ia tumbuh bersama kecintaannya terhadap sepak bola.
Ayahnya yang pernah bermain di kasta tertinggi Liga Ghana bahkan melatihnya menggunakan kedua kaki sejak usia dini. Kebiasaan menendang apa saja, mulai dari bola hingga kaleng bekas, membuat Semenyo berkembang menjadi pemain yang nyaman menggunakan kaki kanan maupun kiri.
Bakatnya sempat menarik perhatian sejumlah akademi ternama Inggris. Arsenal, Tottenham Hotspur, Millwall, hingga Crystal Palace pernah memberinya kesempatan mengikuti seleksi.
Namun hasilnya selalu sama: gagal.
Penolakan demi penolakan membuat Semenyo kehilangan kepercayaan diri. Saat berusia 16 tahun, ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk berhenti bermain sepak bola karena merasa tidak memiliki masa depan dalam olahraga tersebut.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Nasib Semenyo berubah ketika mengikuti sebuah sesi seleksi di Bisham Abbey. Di tempat itulah ia bertemu David Hockaday, pelatih yang kemudian menjadi sosok penting dalam hidupnya.
Hockaday melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Saat banyak pencari bakat melewatkan Semenyo, Hockaday justru tertarik pada kemampuan alaminya menguasai bola dengan kedua kaki dan potensi fisik yang dimilikinya.
Meski saat itu Semenyo terlihat kehilangan kepercayaan diri, Hockaday yakin pemuda tersebut memiliki masa depan sebagai pesepak bola profesional.
Beberapa minggu setelah seleksi, Hockaday bahkan berinisiatif mencari kontak keluarga Semenyo dan menawarkan bantuan secara langsung.
Keputusan tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah hidup sang pemain.
Baca Juga: Rekor Piala Dunia Miliknya Tumbang, Miroslav Klose Justru Beri Hormat Tinggi kepada Lionel Messi
Bangun Subuh Demi Bermain di Liga Amatir
Untuk membangun kembali mental dan kemampuannya, Hockaday memasukkan Semenyo ke tim South Gloucestershire and Stroud (SGS) College yang berkompetisi di level non-liga Inggris.
Perjuangan mereka tidak mudah.
Setiap akhir pekan, Hockaday harus menjemput Semenyo sejak pukul 05.00 pagi dari tempat tinggalnya di Swindon agar bisa mengikuti pertandingan.
Dalam perjalanan panjang menuju lokasi pertandingan, keduanya sering berdiskusi tentang sepak bola, disiplin, dan masa depan.
Dua kata yang selalu ditanamkan Hockaday kepada Semenyo adalah "hunger" dan "belief" atau lapar akan kesuksesan dan keyakinan terhadap diri sendiri.
Dua prinsip tersebut kemudian menjadi fondasi perjalanan karier Semenyo hingga saat ini.
Menembus Sepak Bola Profesional
Perkembangan Semenyo berlangsung sangat cepat. Penampilannya di kompetisi amatir mulai menarik perhatian klub-klub profesional.
Pada Januari 2018, Bristol City memberikan kontrak profesional pertamanya.
Meski demikian, jalan menuju level tertinggi masih penuh tantangan. Semenyo sempat dipinjamkan ke Bath City dan Newport County untuk mendapatkan pengalaman bermain di level senior.
Di masa-masa awal itu, ia belum langsung bersinar. Bahkan beberapa periode peminjaman dianggap kurang memuaskan.
Namun pengalaman menghadapi pemain yang lebih kuat dan lebih berpengalaman justru membentuk karakter permainannya.
Ia belajar melindungi bola, bertarung secara fisik, dan memahami kerasnya sepak bola profesional.
Baca Juga: Usia Hampir 39 Tahun, Lionel Messi Cetak Sejarah Baru dan Lampaui Rekor Miroslav Klose
Bersinar Bersama Bristol City
Momentum kebangkitan datang saat Nigel Pearson menangani Bristol City.
Pelatih berpengalaman itu memberi kepercayaan lebih kepada pemain muda, termasuk Semenyo.
Kepercayaan tersebut dibayar lunas.
Pada musim 2021/2022, Semenyo mencatatkan delapan gol dan 12 assist. Musim berikutnya ia kembali tampil impresif dengan delapan gol dan dua assist.
Performa tersebut membuat sejumlah klub Liga Inggris mulai mengincarnya.
Ironisnya, Crystal Palace yang pernah menolaknya saat remaja menjadi salah satu klub yang tertarik merekrutnya.
Menjadi Bintang Liga Inggris dan Manchester City
Karier Semenyo memasuki level baru ketika bergabung dengan Bournemouth pada Januari 2023.
Di bawah arahan Andoni Iraola, ia berkembang menjadi salah satu penyerang paling efektif di Premier League.
Selama memperkuat Bournemouth, Semenyo mencetak 32 gol dan 13 assist dalam 110 pertandingan di semua kompetisi.
Penampilannya menarik perhatian pelatih Manchester City, Pep Guardiola.
Pada Januari 2026, City merekrutnya dengan nilai transfer sekitar 65 juta poundsterling atau lebih dari Rp1,4 triliun.
Transfer tersebut menjadi bukti betapa jauhnya perjalanan Semenyo dari pemain yang dulu ditolak akademi hingga menjadi salah satu aset berharga di sepak bola Inggris.
Pahlawan FA Cup dan Harapan Ghana di Piala Dunia
Musim 2025/2026 menjadi salah satu musim terbaik dalam kariernya.
Semenyo mencetak 11 gol dan tiga assist bersama Manchester City sebelum berangkat membela Ghana di Piala Dunia 2026.
Ia juga menjadi pahlawan kemenangan City di final Piala FA setelah mencetak gol penentu kemenangan melawan Chelsea di Wembley.
Kini, Semenyo menjadi tumpuan utama Ghana dalam menghadapi Inggris di Piala Dunia 2026.
Namun apa yang membuat kisahnya begitu istimewa bukan hanya soal gol, trofi, atau nilai transfer fantastis.
Perjalanan Semenyo adalah bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Dari pemain yang ditolak akademi elite, bangun sebelum fajar demi bermain di liga amatir, hingga hampir menyerah pada mimpinya, Semenyo berhasil membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan keyakinan mampu mengubah takdir seseorang.
Bagi banyak pemain muda yang tengah berjuang mengejar mimpi, kisah Antoine Semenyo menjadi pengingat bahwa jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus. Namun selama masih ada keyakinan dan kemauan untuk bangkit, peluang untuk mencapai puncak akan selalu terbuka.
Editor : Mahendra Aditya