JAKARTA – Qatar akhirnya mencatatkan sejarah baru di panggung sepak bola dunia. Setelah harus menelan seluruh kekalahan pada debut mereka di Piala Dunia 2022, The Maroons sukses meraih poin perdana sepanjang keikutsertaan di putaran final Piala Dunia usai menahan Swiss dengan skor 1-1 pada laga pembuka Grup B Piala Dunia 2026.
Hasil dramatis tersebut diraih melalui gol telat Boualem Khoukhi pada menit ke-94 yang membungkam dominasi Swiss dan memicu selebrasi emosional para pemain Qatar di Levi's Stadium, Santa Clara, kawasan San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) dini hari WIB.
Bagi sebagian tim besar, hasil imbang mungkin terasa biasa. Namun bagi Qatar, satu poin ini memiliki arti yang jauh lebih besar. Ini bukan sekadar tambahan angka di klasemen, melainkan simbol kebangkitan, pembuktian, sekaligus tonggak sejarah baru sepak bola negara Teluk tersebut.
Baca Juga: Prediksi Starting XI Jerman vs Curacao: Musiala-Wirtz Jadi Senjata Utama Nagelsmann
Qatar Bangkit dari Tekanan Swiss
Menghadapi Swiss yang lebih berpengalaman di level internasional, Qatar dipaksa bertahan hampir sepanjang pertandingan. Statistik pertandingan menunjukkan Swiss melepaskan total 26 tembakan, menggambarkan besarnya tekanan yang harus dihadapi anak asuh Julen Lopetegui.
Swiss membuka keunggulan lebih dahulu melalui titik putih pada babak pertama. Breel Embolo yang dipercaya sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna untuk membawa timnya unggul 1-0.
Gol tersebut membuat Swiss semakin percaya diri menguasai jalannya laga. Sementara Qatar lebih banyak menunggu kesempatan melalui serangan balik dan bola-bola mati.
Meski terus berada di bawah tekanan, Qatar menunjukkan karakter yang berbeda dibandingkan penampilan mereka empat tahun lalu. Disiplin bertahan, kerja keras tanpa bola, serta semangat pantang menyerah menjadi fondasi utama mereka untuk tetap bertahan dalam pertandingan.
Upaya itu akhirnya membuahkan hasil pada masa tambahan waktu.
Saat pertandingan tampak akan berakhir dengan kemenangan Swiss, Boualem Khoukhi muncul sebagai penyelamat. Memanfaatkan situasi bola mati di depan gawang, bek senior Qatar tersebut menyundul bola masuk ke gawang lawan pada menit ke-94.
Gol dramatis itu mengubah skor menjadi 1-1 sekaligus memastikan Qatar membawa pulang poin bersejarah.
Lopetegui: Saya Tetap Bangga Meski Kami Tidak Mencetak Gol
Pelatih Qatar, Julen Lopetegui, tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya seusai pertandingan. Menurut mantan pelatih Spanyol dan Real Madrid itu, hasil akhir memang penting, tetapi mentalitas para pemain menjadi hal yang paling membanggakan.
"Saya sangat bangga dengan tim ini," ujar Lopetegui seusai pertandingan.
"Saya sudah mengatakan kepada para pemain bahwa sekalipun kami tidak mencetak gol atau gagal meraih hasil imbang, saya tetap bangga terhadap mentalitas, kedisiplinan, dan pengorbanan yang mereka tunjukkan di lapangan."
"Namun, pada akhirnya kami berhasil mencetak gol dan menciptakan sejarah. Itu membuat semuanya terasa lebih spesial," lanjutnya.
Lopetegui menilai anak asuhnya menunjukkan perkembangan signifikan dalam menghadapi tekanan dari tim dengan kualitas lebih tinggi.
Menurutnya, kemampuan bertahan dengan organisasi yang baik dan tetap percaya hingga detik terakhir merupakan modal penting untuk menghadapi laga-laga berikutnya.
Baca Juga: Vinicius Selamatkan Brasil dari Kekalahan, Maroko Tahan Tim Samba 1-1 di Piala Dunia 2026
Penebusan Delapan Tahun Penantian Lopetegui
Laga melawan Swiss juga memiliki makna emosional bagi Julen Lopetegui secara pribadi.
Piala Dunia 2026 menjadi pengalaman pertamanya memimpin tim dari pinggir lapangan di putaran final Piala Dunia. Kesempatan tersebut datang delapan tahun lebih lambat dari yang pernah ia bayangkan.
Pada 2018, Lopetegui sebenarnya ditunjuk sebagai pelatih Timnas Spanyol di Piala Dunia Rusia. Namun, ia diberhentikan hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai setelah Federasi Sepak Bola Spanyol mengetahui kesepakatannya untuk menangani Real Madrid.
Peristiwa itu menjadi salah satu momen paling menyakitkan dalam perjalanan kariernya.
Kini, bersama Qatar, Lopetegui akhirnya merasakan atmosfer Piala Dunia sebagai pelatih kepala.
"Terkadang Anda memang membutuhkan sedikit keberuntungan. Namun keberuntungan tidak datang begitu saja. Anda harus bekerja keras, percaya, dan terus berjuang untuk mendapatkannya, baik dalam kehidupan maupun olahraga," kata Lopetegui.
"Itulah mengapa kami sangat bahagia untuk para pemain. Mereka pantas mendapatkan momen ini."
Modal Berharga di Grup B
Tambahan satu poin membuka peluang Qatar untuk bersaing memperebutkan tiket ke babak gugur. Hasil tersebut juga menjadi suntikan moral besar setelah persiapan mereka menuju Piala Dunia tidak berjalan ideal.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat Qatar kesulitan menjalani agenda uji coba secara maksimal sejak akhir tahun lalu. Situasi itu sempat menimbulkan keraguan terhadap kesiapan tim menghadapi turnamen terbesar dunia.
Namun hasil melawan Swiss membuktikan bahwa Qatar tetap mampu bersaing.
Bagi Swiss, kegagalan mempertahankan keunggulan menjadi evaluasi penting. Dominasi permainan dan banyaknya peluang yang diciptakan gagal dikonversi menjadi kemenangan.
Sementara Qatar mendapatkan pelajaran berharga bahwa keberanian, disiplin, dan keyakinan dapat mengubah nasib sebuah pertandingan.
Satu poin mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Qatar, hasil imbang ini akan dikenang sebagai malam ketika mereka membuktikan diri bahwa sejarah selalu bisa ditulis ulang.
Editor : Mahendra Aditya