JAKARTA – Timnas Indonesia menghadapi tantangan berat saat berjumpa Oman dalam agenda FIFA Matchday Juni 2026. Meski pertandingan berstatus laga persahabatan internasional, duel ini memiliki arti penting bagi kedua tim yang tengah mempersiapkan diri menghadapi kompetisi besar berikutnya.
Secara peringkat FIFA, Oman masih berada di atas Indonesia. Tim berjuluk The Red Warriors itu menempati posisi ke-79 dunia, sementara skuad Garuda berada di peringkat ke-122. Selain memiliki pengalaman panjang di level Asia, Oman juga diperkuat sejumlah pemain yang telah menjadi tulang punggung tim nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Jika ingin meraih hasil positif, Indonesia harus mampu meredam tiga pemain yang berpotensi menjadi pembeda dalam pertandingan.
1. Issam Al-Sabhi, Mesin Gol dan Ancaman Utama di Kotak Penalti
Nama pertama yang wajib mendapat perhatian khusus adalah Issam Al-Sabhi. Penyerang berusia 29 tahun tersebut merupakan salah satu pencetak gol paling produktif yang dimiliki Oman saat ini.
Issam telah mengoleksi 18 gol dari lebih dari 60 penampilan bersama tim nasional Oman. Ia juga tampil konsisten di level klub dan dikenal sebagai striker yang memiliki naluri mencetak gol tinggi, pergerakan cerdas di area penalti, serta kemampuan duel udara yang kuat.
Bagi lini belakang Indonesia, mengawal Issam bukan hanya soal menghentikan tembakan ke gawang. Striker setinggi 183 sentimeter itu juga sering membuka ruang bagi rekan-rekannya dan mampu memanfaatkan kesalahan kecil dari lawan.
Jika pertahanan Garuda kehilangan konsentrasi, Issam bisa menjadi sosok yang paling berbahaya sepanjang pertandingan.
2. Jameel Al-Yahmadi, Motor Serangan dan Pengatur Ritme Permainan
Selain striker tajam, Oman juga memiliki pemain kreatif yang menjadi jantung permainan tim, yaitu Jameel Al-Yahmadi.
Pemain berusia 29 tahun ini dikenal sebagai gelandang serang sekaligus winger yang mampu menciptakan peluang dari berbagai situasi. Pengalamannya bermain di kompetisi Qatar dan Oman membuatnya menjadi salah satu pemain paling matang dalam skuad nasional.
Jameel telah mencatat lebih dari 60 pertandingan internasional bersama Oman. Ia memiliki keunggulan dalam distribusi bola, umpan terobosan, serta kemampuan membaca ruang yang sangat baik.
Dalam banyak pertandingan penting Oman, Jameel sering menjadi pemain yang menghubungkan lini tengah dengan lini depan. Jika Indonesia gagal memutus aliran bola darinya, tekanan ke pertahanan Garuda berpotensi meningkat sepanjang laga.
3. Arshad Al-Alawi, Kreator Serangan dengan Visi Bermain Tinggi
Pemain ketiga yang tak boleh diabaikan adalah Arshad Al-Alawi. Gelandang serang berusia 26 tahun ini merupakan salah satu talenta terbaik yang dimiliki Oman dalam beberapa tahun terakhir.
Arshad dikenal memiliki visi bermain yang sangat baik, kemampuan melepas umpan kunci, serta tendangan jarak jauh yang akurat. Meski beroperasi dari lini kedua, kontribusinya terhadap gol cukup signifikan dengan catatan enam gol internasional dalam kariernya bersama Oman.
Dalam sejumlah pertandingan kualifikasi dan turnamen regional, Arshad sering menjadi pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan melalui kreativitas dan kecerdasannya membaca permainan.
Kemampuannya bergerak di antara lini pertahanan dan lini tengah lawan membuatnya sulit dijaga secara ketat. Indonesia perlu menyiapkan pengawalan khusus agar Arshad tidak leluasa membangun serangan.
Ancaman Oman Tidak Bisa Diremehkan
Meski tidak memiliki nama sebesar negara-negara elite Asia seperti Jepang, Korea Selatan, atau Arab Saudi, Oman tetap merupakan tim yang berpengalaman di level internasional.
Skuad mereka dihuni pemain-pemain matang dengan rata-rata usia mendekati 29 tahun serta pengalaman panjang di berbagai ajang AFC. Tim ini juga dikenal disiplin dalam bertahan dan efektif saat melakukan serangan balik.
Bagi Timnas Indonesia, pertandingan ini menjadi kesempatan mengukur kualitas menghadapi lawan yang secara ranking dan pengalaman berada di atas mereka. Namun untuk meraih hasil maksimal, perhatian khusus harus diberikan kepada Issam Al-Sabhi, Jameel Al-Yahmadi, dan Arshad Al-Alawi.
Jika ketiga pemain tersebut mampu dibatasi pergerakannya, peluang Garuda untuk meraih hasil positif di hadapan pendukung sendiri akan semakin terbuka. Sebaliknya, membiarkan mereka bermain nyaman bisa menjadi risiko besar yang berujung pada hasil yang tidak diinginkan.
Editor : Mahendra Aditya