JEPARA – Tensi panas menyelimuti jagat sepak bola Tanah Air, utamanya di Jawa Tengah.
Dua kekuatan sejarah, Persijap Jepara dan Persis Solo, kini terlibat dalam "perang dingin", yang menentukan nasib mereka di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Bukan perebutan trofi, tapi kali ini keduanya bertarung demi satu tujuan sakral, bertahan di Liga 1.
Hingga pekan ke-31, momok degradasi berubah menjadi duel hidup-mati di papan bawah.
Persijap sedikit bernapas lega di peringkat 15 dengan 31 poin.
Namun bayang-bayang Persis Solo yang menguntit di zona merah dengan 27 poin. Membuat posisi Laskar Kalinyamat jauh dari kata aman.
Potensi menang kalah inilah, yang akan menjadi peristiwa sikut-sikutan dalam peringkat klasemen.
Persis Solo, yang baru saja remuk setelah dihajar Malut United 2-5, kini berada di ujung tanduk.
Laskar Sambernyawa tidak punya pilihan lain, selain menyapu bersih tiga laga sisa, dengan kemenangan, sembari mendoakan Persijap terpeleset.
Di sisi lain, Persijap Jepara memegang kendali nasibnya sendiri.
Keunggulan empat angka adalah modal berharga, namun jadwal sisa bak "neraka" bagi anak asuh Pelatih Kepala Persijap Jepara Mario Lemos.
Menghadapi raksasa seperti Borneo FC (17/5) dan Persib Bandung (23/5), Persijap dipaksa bermain dengan mental final di setiap menitnya.
Sebelumnya, pada Minggu (10/5) Persijap lebih dulu harus bertandang, melawan Persita Tangerang.
Pertarungan ini lebih dari sekadar angka di klasemen. Ini adalah soal harga diri.
Jika Persijap tergelincir, maka Laskar Kalinyamat harus menata diri lebih jauh kembali.
Sebaliknya, jika Persis yang gagal bangkit, publik Solo harus rela melihat tim kebanggaannya kembali ke kasta kedua, setelah perjuangan panjang promosi beberapa musim lalu.
Nasib di ujung musim ini, jadi cermin yang keruh.
Persijap hanya butuh tambahan poin krusial untuk memastikan Persis Solo tidak bisa mengejar.
Namun, dalam sepak bola Indonesia, kejutan seringkali datang di menit-menit akhir musim.
Jika Persis mampu memangkas jarak poin di pekan ke-32, maka laga penutup musim ini akan menjadi salah satu drama.
Perebutan posisi klub representasi Jateng, paling traumatis sekaligus bersejarah.
Benteng Lakar Kalinyamat harus tetap kokoh berdiri di Liga 1, atau justru Laskar Sambernyawa yang berhasil comeback dan menenggelamkan tetangganya ke Liga 2.
Mario Lemos tentu akan berusaha maksimal untuk menjaga kapal yang dinakhodainya tetap berada di Liga 1. Serta memperbaiki diri untuk musim selanjutnya.(fik)
Editor : Admin