RADAR KUDUS - Pelatih Bayern Munich, Vincent Kompany, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan wasit setelah timnya gagal melaju ke final UEFA Champions League Final usai disingkirkan Paris Saint-Germain.
Bayern harus mengakhiri perjalanan mereka di Liga Champions setelah bermain imbang 1-1 melawan PSG di Allianz Arena. Hasil tersebut membuat wakil Prancis lolos ke final dengan kemenangan agregat 6-5 dan akan menghadapi Arsenal pada 30 Mei mendatang di Budapest.
Meski mengakui kualitas permainan PSG, Kompany merasa timnya dirugikan oleh sejumlah keputusan wasit dalam dua leg semifinal.
Baca Juga: Bayern Tersingkir! PSG Tampil Superior dan Siap Hadapi Arsenal di Budapest
Sorotan utama datang pada babak pertama ketika pemain PSG, Nuno Mendes, dianggap melakukan handball saat sudah mengantongi kartu kuning. Bayern meyakini bek asal Portugal tersebut seharusnya menerima kartu kuning kedua dan diusir keluar lapangan.
Namun wasit João Pinheiro justru memberikan pelanggaran ke arah sebaliknya setelah menilai Konrad Laimer melakukan handball terlebih dahulu.
Keputusan itu memicu kemarahan Kompany. Mantan kapten Manchester City tersebut menilai wasit sebenarnya sudah berniat memberikan kartu kuning kedua kepada Mendes, tetapi berubah pikiran karena tidak ingin mengeluarkan pemain PSG tersebut.
Baca Juga: Arsenal Siapkan Kontrak Baru untuk Mikel Arteta, Rashford Makin Terasing di MU
“Kami harus melihat beberapa momen penting dalam dua pertandingan yang diputuskan oleh wasit. Ini memang bukan alasan utama, tetapi hal seperti itu sangat berpengaruh,” ujar Kompany kepada TNT Sports.
Ia menambahkan bahwa banyak keputusan sepanjang dua leg semifinal justru lebih menguntungkan PSG dibanding Bayern.
“Kartu kuning kedua itu, saya pikir wasit awalnya akan memberikannya. Tapi kemudian dia menarik kembali keputusan itu karena sadar Mendes sudah memiliki kartu kuning sebelumnya. Saya merasa dia tidak ingin mengusir pemain tersebut,” kata Kompany.
Pelatih asal Belgia itu juga mempertanyakan keputusan handball yang dianggap dilakukan Laimer. Menurutnya, tayangan ulang tidak menunjukkan adanya sentuhan tangan dari pemain Bayern tersebut.
“Saya tidak melihat Laimer menyentuh bola dengan tangannya, tetapi mereka mengatakan ada handball,” tambahnya.
Kontroversi tersebut menjadi salah satu momen paling banyak dibicarakan dalam laga semifinal Liga Champions itu.
Di luar polemik wasit, PSG memang tampil sangat solid sepanjang pertandingan. Tim asuhan Luis Enrique mampu mengontrol permainan dan tampil disiplin di lini belakang.
PSG bahkan unggul cepat melalui gol Ousmane Dembélé pada menit ketiga setelah memanfaatkan umpan dari Khvicha Kvaratskhelia.
Bayern kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang pertandingan meski tampil di kandang sendiri. Gol hiburan dari Harry Kane di akhir laga tidak cukup menyelamatkan mereka dari kekalahan agregat.
Hasil ini juga membuat ambisi Bayern meraih treble winner musim ini resmi berakhir. Sebaliknya, PSG semakin dekat dengan impian mempertahankan gelar Liga Champions mereka.
Final antara PSG dan Arsenal kini diprediksi menjadi salah satu laga terbesar musim ini dengan pertemuan dua tim yang tampil sangat konsisten sepanjang kompetisi.
Editor : Mahendra Aditya