BANTUL – Sepak bola modern tidak lagi hanya soal teknik dan taktik. Teknologi kini ikut menentukan jalannya pertandingan. Namun, ketika teknologi itu justru bermasalah, siapa yang paling dirugikan?
Pertanyaan itu mencuat dalam duel panas antara PSIM Yogyakarta melawan PSM Makassar pada pekan ke-27 Super League 2025/2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat (10/4/2026).
Dalam laga yang seharusnya berjalan normal, pertandingan justru diawali dengan insiden tak biasa: sistem Video Assistant Referee (VAR) mendadak tidak berfungsi sejak menit keenam. Meski sempat kembali aktif dua menit kemudian, gangguan ini menyisakan efek psikologis yang tak bisa diabaikan.
Dan di akhir pertandingan, PSIM harus menerima kenyataan pahit—kalah 1-2 setelah sempat unggul lebih dulu.
VAR Mati, Ritme Pertandingan Terganggu
Insiden mati listrik pada VAR bukan pertama kalinya terjadi di kandang PSIM. Sebelumnya, kejadian serupa juga sempat muncul saat mereka menjamu Semen Padang.
Ketika VAR berhenti bekerja di menit keenam, pertandingan tetap dilanjutkan setelah kesepakatan kedua kapten tim. Secara teknis, keputusan ini memang sah. Namun secara psikologis, situasinya berbeda.
Dalam sepak bola modern, VAR telah menjadi bagian dari “rasa aman” bagi pemain. Ketika sistem ini tidak aktif, ada potensi perubahan cara bermain—baik dalam duel, tekel, hingga pengambilan keputusan di area krusial.
Meskipun VAR kembali aktif di menit kedelapan, dua menit gangguan tersebut cukup untuk mengganggu fokus awal pertandingan.
PSIM Dominan, Tapi Gagal Maksimalkan Peluang
Sejak menit awal, PSIM tampil agresif. Mereka mencoba mengontrol permainan dan menciptakan peluang lebih dulu.
Peluang pertama datang dari kaki Riyatno Abiyoso pada menit kesembilan. Namun, sepakan tersebut masih melenceng dari sasaran.
Riyatno kembali mengancam pada menit ke-24. Kali ini, tendangannya mengarah ke gawang, tetapi berhasil digagalkan oleh kiper PSM, Hilman Syah.
Dominasi PSIM di babak pertama cukup jelas. Namun, satu masalah klasik kembali muncul: penyelesaian akhir.
Meski memiliki beberapa peluang, mereka gagal mengubahnya menjadi gol. Skor 0-0 bertahan hingga turun minum.
Gol Pembuka: Momentum yang Tak Bertahan Lama
Kebuntuan akhirnya pecah di babak kedua. Pada menit ke-54, PSIM berhasil unggul melalui Deri Corfe.
Gol ini berawal dari pergerakan Raka Cahyana di sisi kanan. Umpan yang ia lepaskan sempat ditepis Hilman Syah, namun bola liar jatuh tepat di kaki Corfe.
Tanpa kesulitan, Corfe menuntaskan peluang tersebut menjadi gol.
Skor 1-0 membuat stadion bergemuruh. PSIM berada di atas angin, dan momentum tampak sepenuhnya milik tuan rumah.
Namun, di sinilah ujian sebenarnya dimulai.
PSM Bangkit: Efektivitas di Saat Kritis
Alih-alih tertekan, PSM Makassar justru menunjukkan karakter tim besar. Mereka tidak panik, tetap menjaga organisasi permainan, dan menunggu momen yang tepat.
Gol penyeimbang datang pada menit ke-79. Gledson melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola sempat ditepis Cahya Supriadi, tetapi rebound langsung disambar Luka Cumic.
Skor berubah menjadi 1-1.
Gol ini menjadi titik balik. Kepercayaan diri PSM meningkat, sementara PSIM mulai kehilangan kendali.
Gol Penentu: Drama di Ujung Laga
Ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, PSM menciptakan kejutan di menit tambahan.
Berawal dari situasi sepak pojok yang dieksekusi Victor Luiz, bola mengarah ke tiang jauh. Dusan Lagator, yang berdiri tanpa kawalan ketat, menyambutnya dengan sundulan akurat.
Gol di menit 90+9 memastikan kemenangan PSM.
Skor akhir 2-1 menjadi penutup pertandingan yang penuh drama.
Analisis: Ketika Konsentrasi Menjadi Penentu
Angle yang jarang dibahas dari pertandingan ini adalah bagaimana faktor konsentrasi menentukan hasil akhir.
PSIM sebenarnya tampil lebih dominan di awal. Mereka unggul lebih dulu dan memiliki peluang untuk memperbesar keunggulan.
Namun, setelah kebobolan, fokus mereka menurun. Organisasi pertahanan menjadi longgar, terutama dalam situasi bola mati.
Sebaliknya, PSM menunjukkan kualitas mental yang lebih stabil. Mereka mampu bangkit dari tekanan dan memanfaatkan peluang secara maksimal.
VAR dan Dampaknya yang Tak Terlihat
Meski hanya mati selama dua menit, gangguan VAR tetap menjadi sorotan.
Bukan karena memengaruhi keputusan wasit secara langsung, tetapi karena dampaknya terhadap ritme dan psikologi pemain.
Dalam laga dengan tensi tinggi, gangguan kecil bisa berdampak besar.
Hal ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara kompetisi. Konsistensi teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Statistik Singkat Pertandingan
- Skor: PSIM 1-2 PSM
- Pencetak gol:
- Deri Corfe (54’)
- Luka Cumic (79’)
- Dusan Lagator (90+9’)
- Kartu kuning: 6 pemain
Implikasi di Klasemen
Kemenangan ini sangat penting bagi PSM Makassar dalam menjaga posisi mereka di papan klasemen.
Sebaliknya, kekalahan ini menjadi pukulan bagi PSIM yang sebenarnya memiliki peluang untuk mengamankan poin di kandang sendiri.
Dalam kompetisi yang ketat, kehilangan poin di kandang bisa menjadi faktor penentu di akhir musim.
Pertandingan ini memberikan pelajaran penting bagi PSIM Yogyakarta: dominasi tanpa konsistensi tidak cukup.
Sepak bola tidak hanya soal menciptakan peluang, tetapi juga tentang menjaga fokus hingga peluit akhir berbunyi.
Sementara itu, PSM Makassar menunjukkan bahwa mentalitas dan efisiensi bisa mengalahkan dominasi.
Di level kompetisi tertinggi, perbedaan kecil sering kali menentukan hasil besar.
Dan di Bantul, perbedaan itu terlihat jelas—antara tim yang kehilangan momentum dan tim yang memanfaatkannya hingga detik terakhir.
Editor : Mahendra Aditya