RADAR KUDUS – Meski manajemen Persebaya telah mengimbau agar tak ada perayaan yang mengundang kerumunan massa, realitanya berbeda.
Sejumlah suporter fanatik Persebaya Surabaya, atau yang akrab disapa Bonek, tetap memadati jalanan kota untuk menggelar konvoi dalam rangka memperingati HUT ke-98 klub kebanggaan mereka.
Aksi konvoi mulai terlihat sejak Selasa malam (17/6/2025), tepat pukul 22.00 WIB. Ratusan motor memenuhi ruas Jalan Tunjungan hingga Jalan Gubernur Suryo.
Tua, muda, pria, hingga perempuan tampak antusias membawa bendera hijau bertuliskan “Bonek” dalam ukuran besar. Mereka mengelilingi pusat kota dengan nyanyian khas stadion, sorak-sorai, dan semangat yang membara.
Dilarang tapi tetap Konvoi?
Padahal, sehari sebelumnya, Panitia Pelaksana Persebaya secara tegas menyatakan tidak akan ada kegiatan terpusat dalam memperingati usia ke-98 klub.
Ketua Panpel Ram Surahman telah mengumumkan bahwa manajemen ingin perayaan dilakukan secara sederhana dan tersebar, seperti tasyakuran di wilayah masing-masing, tanpa mengumpulkan massa dalam jumlah besar.
"Sudah ada ziarah ke makam pendiri, bagi tumpeng ke mitra kerja, dan meet and greet bersama fans. Tidak ada agenda resmi konvoi atau acara besar-besaran," tegas Ram dalam siaran radio Suara Surabaya, Selasa siang.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Euforia suporter tidak bisa dibendung. Imbauan untuk menjaga ketertiban tampaknya tak cukup kuat menahan hasrat sebagian Bonek yang ingin mengekspresikan cinta mereka secara terbuka dan masif.
Bonek: Loyalitas Tanpa Batas, Aturan Nomor Dua?
Meski sudah berkali-kali ditegaskan bahwa aksi konvoi berisiko menodai citra klub dan mengganggu kenyamanan warga, sebagian kelompok Bonek tetap turun ke jalan.
Mereka menilai momen ulang tahun Persebaya terlalu sakral untuk dilewatkan begitu saja tanpa perayaan nyata.
“Kami ngerti imbauannya. Tapi ini Persebaya, klub yang sudah jadi bagian hidup kami. Masa ulang tahunnya cuma diam di rumah?” ucap salah satu suporter dari kawasan Rungkut sambil mengibarkan syal hijau-hitamnya.
Meski aksi ini berlangsung damai, tetap saja kekhawatiran muncul.
Tidak hanya soal ketertiban lalu lintas, tetapi juga potensi gesekan dan cap negatif terhadap komunitas Bonek yang belakangan sedang berupaya keras memperbaiki citra.
Pengamanan Ekstra Ketat, Polisi Siaga 2.400 Personel
Menanggapi potensi pergerakan massa, Polrestabes Surabaya tak tinggal diam.
Sebanyak 2.468 personel gabungan diterjunkan untuk mengamankan situasi di berbagai titik rawan, khususnya di sekitar kawasan Tambaksari, jantung spiritual Bonek Mania.
“Langkah preventif kami lakukan untuk menjaga Surabaya tetap kondusif. Semua pihak sudah kami ajak koordinasi,” ujar seorang perwira Satlantas di lokasi penyekatan.
Pihak berwajib juga menggelar rekayasa lalu lintas guna mengantisipasi kemacetan akibat konvoi. Namun tetap saja, arus kendaraan sempat tersendat di beberapa titik karena iring-iringan kendaraan bermotor suporter yang tak terkontrol.
Baca Juga: Lautan Bonek Guncang Surabaya! Begini Serunya Malam Puncak Ulang Tahun Persebaya ke-98
Menuju 1 Abad Persebaya: Harusnya Lebih Elegan
Di balik gegap gempita perayaan jalanan, manajemen Persebaya justru tengah menyusun langkah besar menyambut satu abad klub pada 2027 mendatang.
Ram Surahman berharap momen ulang tahun tahun ini bisa menjadi pijakan untuk perubahan lebih positif.
“Bonek sekarang sudah jauh lebih dewasa. Kehadiran keluarga di tribun GBT meningkat. Kampanye stadion ramah anak mulai terasa hasilnya. Jangan rusak semua hanya karena satu malam,” katanya.
Ia pun kembali meminta doa dari masyarakat agar Persebaya semakin berprestasi di musim mendatang dan bisa mengukir sejarah gemilang saat menginjak 100 tahun.
Arah Baru atau Nostalgia Jalanan?
Peristiwa konvoi tak resmi ini menempatkan Persebaya dan Bonek di persimpangan: terus berbenah menjadi komunitas suporter modern atau kembali ke pola lama yang penuh euforia namun minim kendali?
Satu hal pasti: semangat Bonek memang tak pernah padam. Tapi di era baru ini, tantangannya bukan lagi soal siapa paling keras bersorak—melainkan siapa paling bijak menjaga marwah klub di tengah perubahan zaman.
Editor : Mahendra Aditya