Lukisan Garam Dasun Rembang Pukau Warga hingga Turis Swiss, Libatkan Petani dan Seniman

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 08:21 WIB
KANVAS RAKSASA: Lukisan garam terbesar di Dunia yang dihasilkan dari kolaborasi petani garam Desa Dasun dan para seniman di tambak garam Desa Dasun, Lasem, Rembang. (KOMUNITAS PUSAKA DASUN UNTUK RADAR KUDUS)
KANVAS RAKSASA: Lukisan garam terbesar di Dunia yang dihasilkan dari kolaborasi petani garam Desa Dasun dan para seniman di tambak garam Desa Dasun, Lasem, Rembang. (KOMUNITAS PUSAKA DASUN UNTUK RADAR KUDUS)

REMBANG – Karya seni lukisan garam di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, berhasil menarik perhatian masyarakat saat Festival Garam resmi dibuka pada Sabtu (17/10/2026).

Karya yang disebut sebagai salah satu lukisan garam terbesar di dunia itu menghadirkan perpaduan seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Pameran tersebut menyedot perhatian warga setempat yang datang berbondong-bondong untuk menyaksikan hasil karya di hamparan tambak garam.

Ketertarikan terhadap karya tersebut juga datang dari wisatawan mancanegara, salah satunya Dominique, turis asal Swiss yang turut melihat langsung lukisan garam Dasun.

Dominique mengaku terkesan dengan konsep karya seni yang melibatkan banyak orang dari latar belakang berbeda.

Menurutnya, lukisan tersebut tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mempertemukan seniman dengan masyarakat yang sehari-hari bekerja di sektor produksi garam.

“Di sana unik. Menyatukan orang-orang. Ada puluhan orang, dari seniman dan petani terlibat dalam pembuatan lukisan garam,” kata Dominique.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, menjelaskan bahwa lukisan garam merupakan hasil kerja bersama yang dipersiapkan melalui proses panjang.

Karya tersebut tidak sekadar menampilkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan tentang arti penting garam bagi kehidupan masyarakat.

Selama ini, garam lebih banyak dikenal sebagai bahan pelengkap kebutuhan dapur.

Padahal, bagi masyarakat pesisir Dasun, garam menjadi bagian dari mata pencaharian yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut Sujarwo, pembuatan lukisan garam menjadi bentuk penghargaan terhadap proses produksi garam sekaligus penghormatan atas hubungan manusia dengan alam yang menopang kehidupannya.

“Bentuk penghargaan dan memuliakan, karena garam yang sudah diproses memberikan penghidupan manusia bersama alam,” terangnya.

Ia berharap karya tersebut dapat membuka pandangan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak menganggap remeh garam maupun pekerjaan petani garam.

Di balik hasil yang terlihat sederhana, terdapat proses panjang yang membutuhkan keterampilan, ketekunan, dan dukungan kondisi alam.

Lukisan garam Dasun bukan kali pertama diperkenalkan kepada publik.

Sujarwo menyebut, karya serupa pernah tercatat dalam rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada 2023 melalui Festival Bancaan Rupa.

Setelah itu, karya tersebut memperoleh penghargaan dalam kegiatan melukis di Sangkring Art Space, Yogyakarta, yang berlangsung selama sebulan.

Pada 2024, karya lukisan garam juga mendapat undangan untuk ditampilkan dalam pameran bertajuk Arthefact di Museum Bahari.

Dalam kesempatan tersebut, karya itu dihadirkan bersama karya dari 11 negara asing.

Festival Garam di Desa Dasun tahun ini menjadi kesempatan untuk kembali memperkenalkan lukisan garam kepada khalayak yang lebih luas.

Mengusung tema Memetri Kawitane Uyah, karya tersebut mengajak masyarakat mengingat asal-usul garam sekaligus menghargai proses yang menjadikannya sumber penghidupan.

“Kami ingin mengulang dan memberikan pada khalayak, khususnya pemuda kami bahwa garam tidak boleh dipandang sebelah mata. Kita harus mengingat garam dibuat melalui proses sangat luar biasa,” jelas Sujarwo.

Kurator Festival Garam, Eggy Yunaedi, mengatakan bahwa lukisan garam Dasun dibangun melalui kolaborasi antara petani garam dan seniman.

Kerja sama tersebut tidak hanya dilakukan saat proses menggambar di tambak, tetapi sudah dimulai sejak penyusunan gagasan, penentuan tema, hingga perumusan pesan yang ingin disampaikan.

Menurut Eggy, pendekatan kolaboratif itu juga diterapkan ketika pihaknya bekerja bersama Nasirun, maestro seni lukis, dalam merancang karya.

“Ketika kami ingin berkolaborasi dengan Bapak Nasirun (maestro seni lukis) kami melakukan hal sama,” katanya.

Eggy menjelaskan, objek-objek dalam lukisan dirangkai untuk menggambarkan kehidupan petani garam dan nelayan Desa Dasun.

Aktivitas mereka tidak hanya dimaknai sebagai usaha memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga sebagai bentuk hubungan manusia dengan alam.

Dalam pandangan tersebut, kehidupan masyarakat pesisir sangat bergantung pada kondisi alam. Karena itu, kelestarian lingkungan menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan mereka.

Ia menegaskan, karya seni ini membawa pesan agar manusia senantiasa menghargai alam sebagai penopang kehidupan dan mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

Pembuatan lukisan garam Dasun membutuhkan persiapan teknis yang tidak sederhana. Tim memanfaatkan 11 petak tambak garam dengan susunan pola 4-4-3.

Luas keseluruhan area yang digunakan mencapai 1.880 meter persegi. Untuk mewujudkan karya tersebut, panitia menyiapkan sekitar 10 ton garam.

Sebelum proses melukis dimulai, tambak terlebih dahulu dikeringkan selama lima hari.

Tahap pengerjaan lukisan berlangsung pada 14–16 Oktober, kemudian dilanjutkan dengan penyelesaian akhir atau finishing pada 17 Oktober 2026.

Eggy menambahkan, sebagian besar seniman yang terlibat telah terbiasa mengerjakan karya dalam ukuran besar, termasuk mural.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam menyusun komposisi lukisan di area tambak yang luas.

Melalui Festival Garam, Desa Dasun tidak hanya menampilkan karya seni yang menarik perhatian pengunjung, tetapi juga memperkenalkan identitas lokal dan kehidupan masyarakat pesisir.

Kolaborasi petani garam dengan seniman menjadi cara untuk menyampaikan pesan bahwa garam memiliki nilai lebih dari sekadar komoditas, yakni sejarah, budaya, dan sumber penghidupan yang perlu dijaga keberlanjutannya. (noe)

Editor : Ali Mustofa
festival garam petani garam rembang swiss seniman