RADAR KUDUS - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Magersari 2 di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, setelah 105 siswa dan delapan guru SMAN 1 Rembang mengalami keluhan diare dan mual usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain menghentikan kegiatan dapur, BGN juga mencopot kepala SPPG Magersari 2. SPPG tersebut dikenai sanksi suspend berat selama 30 hari untuk menjalani evaluasi dan perbaikan.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan penghentian sementara itu merupakan langkah yang diambil setelah munculnya kasus gangguan kesehatan pada warga sekolah yang menerima makanan MBG.
Baca Juga: Viral Kades di Lampung Diduga Aniaya Pelajar hingga Pingsan, Kasus Ditangani Polda
“Untuk sementara kita sudah berlakukan suspend berat selama 30 hari ke depan. Kalau recovery dan perbaikan tidak jalan maka tidak menutup kemungkinan kita lakukan penutupan permanen,” ujar Ketut dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (27/9/2026).
BGN masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan untuk mengetahui penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa dan guru. Bersamaan dengan itu, tim BGN melakukan investigasi terhadap SPPG Magersari 2.
Pemeriksaan tidak hanya menyasar makanan yang disediakan, tetapi juga mencakup standar operasional prosedur (SOP), kelayakan dapur, serta personel yang terlibat dalam proses penyediaan makanan.
Baca Juga: Cuaca Jateng Senin 28 September: Rembang hingga Semarang Berpotensi 36 Derajat
Ketut mengatakan BGN telah melakukan upaya pencegahan untuk memastikan keamanan makanan dalam program MBG. Namun, dari hasil evaluasi awal, masih ditemukan indikasi adanya prosedur yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
“Sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinkes, tim kita juga melakukan investigasi secara menyeluruh baik standar dan kelayakan dapurnya termasuk personel yang ada di dapur,” jelas Ketut.
BGN menegaskan tindakan terhadap SPPG akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan evaluasi. Apabila proses pemulihan serta perbaikan tidak berjalan sesuai ketentuan, sanksi dapat ditingkatkan hingga penghentian operasional secara permanen.
“Demi keselamatan dan kesehatan penerima manfaat, kami tidak segan untuk mengambil tindakan tegas baik terhadap operasional dapurnya maupun pelaksana di lapangan,” tegasnya.
Kasus ini bermula setelah sejumlah siswa dan guru SMAN 1 Rembang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Kamis (24/9/2026). Menu yang dibagikan saat itu terdiri atas nasi, bakwan jagung, dan pentol bumbu Bali.
Kepala SMAN 1 Rembang Endang Sri Lestari mengatakan hingga pendataan pihak sekolah, sebanyak 105 siswa mengalami keluhan diare. Selain itu, delapan guru juga mengalami keluhan serupa. Tidak ada tenaga kependidikan yang dilaporkan terdampak.
Baca Juga: Kebakaran Gunung Rinjani Meluas hingga 1.098 Hektare, Pendaki Dialihkan
“Sebanyak 105 murid terdampak diare dan ada delapan guru. Untuk tendik tidak ada,” kata Endang.
Data tersebut dihimpun pihak sekolah hingga Jumat (25/9/2026). Pada Jumat malam, masih terdapat 28 siswa yang mengalami diare dan mual, sementara siswa lainnya dilaporkan mulai membaik setelah memperoleh penanganan.
Meski keluhan kesehatan muncul setelah para siswa dan guru mengonsumsi menu MBG, penyebab pastinya belum dapat dipastikan. BGN masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan.
Hasil pemeriksaan tersebut nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan sekaligus menentukan tindak lanjut terhadap operasional SPPG Magersari 2.
Untuk sementara, dapur SPPG Magersari 2 tidak beroperasi selama masa suspend berat 30 hari. BGN juga terus mengevaluasi standar keamanan dan kelayakan penyelenggaraan makanan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada penerima manfaat program MBG.
Editor : Mahendra Aditya