Ngaji Kebangsaan Bersama Gus Baha, Kapolri: Ulama dan Umara Dua Tiang NKRI

Ali Mahmudi • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 13:24 WIB
ISTIMEWA/RADAR KUDUS
SILATURAHMI: KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menerima Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelum ngaji kebangsaan di Ponpes LP3IA Narukan Kragan Rembang, Sabtu pagi (25/9).
ISTIMEWA/RADAR KUDUS
SILATURAHMI: KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menerima Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelum ngaji kebangsaan di Ponpes LP3IA Narukan Kragan Rembang, Sabtu pagi (25/9).


REMBANG – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menghadiri Ngaji Kebangsaan bersama Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Kecamatan Kragan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), Sabtu pagi (25/9).


Kegiatan yang diikuti anggota Polri dan santri secara luring serta daring tersebut turut dihadiri KH Zaimul Umam Nursalim (Gus Umam), Ahmad Fuad Nursalim (Gus Fuad), serta jajaran pengurus PBNU.


Kapolri tiba di lokasi sekitar pukul 09.54 WIB. Setelah bertemu Gus Baha di Ndalem 2, keduanya menuju lokasi Ngaji Kebangsaan di sisi kiri Masjid LP3IA sekitar pukul 10.16 WIB.

Di hadapan jamaah, Listyo mengaku bersyukur mendapat kesempatan ngaji langsung bersama Gus Baha. Menurutnya, kesempatan tersebut tergolong langka.


“Kita semua tahu mengajak Gus Baha berpindah dari pondok pesantren adalah sesuatu yang sangat langka. Hari ini beliau memberikan kesempatan untuk kita ngaji bersama. Tentu ini kesempatan luar biasa yang tidak semua orang dan tidak semua institusi bisa dapatkan,” ujar Listyo.


Kapolri kemudian mengulas hubungan ulama dan umarah dalam perjalanan bangsa. Keduanya disebut berjalan beriringan sejak perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan hingga mengisi pembangunan.

Menurut Listyo, umarah memiliki amanah menjalankan tugas pemerintahan untuk membangun bangsa. Sementara ulama berperan memberikan penerangan dan arah bagi masyarakat.


“Ulama ibarat lentera yang selalu menerangi dalam kegelapan dan ibarat kompas yang menunjukkan jalan agar kita tidak tersesat. Sementara polisi hadir sebagai penjaga keteraturan sosial untuk memberikan perlindungan, pengayoman, dan menjaga situasi kamtibmas agar pembangunan bisa berjalan baik,” tuturnya.


Listyo juga menyinggung situasi global yang diwarnai konflik antarnegara, krisis pangan dan energi, serta gejolak ekonomi. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi tantangan yang perlu dihadapi dengan menjaga persatuan di tengah keberagaman.


“Kita diikat dalam satu bingkai negara besar yang terdiri dari belasan ribu pulau, ribuan suku, bahasa, dan etnis. Keberagaman dan perbedaan pendapat ini harus terus kita jaga dan kawal agar tidak mengarah pada konflik yang merugikan rakyat,” tegasnya.


Menurut Listyo, anggota kepolisian di lapangan menghadapi berbagai tugas dan risiko. Pendekatan humanis serta dialogis terus dikedepankan. Namun, dalam situasi tertentu, tindakan tegas dan terukur tetap dilakukan untuk mencegah konflik meluas.


Menutup sambutannya, Listyo memohon doa dan bimbingan para kiai agar seluruh personel Polri diberi kekuatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas.


“Umarah dan ulama ibarat keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan, menjadi dua tiang pokok NKRI. Jika tiangnya kokoh, maka bangunannya akan berdiri tegak. Kami berharap ulama dan umarah terus bergandengan tangan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera,” pungkasnya. (noe/ali)

 

Editor : Ali Mahmudi
kapolri sigit lestiyo prabowo ponpes LP3IA naruka Gus Baha ngaji kebangsaan Gus umam