JEMUR TEMBAKAU: Petani di Sumber, Rembang, mengeringkan tembakau sebelum dikirim ke mitra.
REMBANG, - Kabupaten Rembang menduduki peringkat pertama sebagai penghasil tembakau tertinggi di Jawa Tengah. Mengalahkan Temanggung yang selama ini dikenal sebagai sentra tembakau.
Capaian itu berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan (DPP) Jateng tahun 2025. Rembang mencatatkan produksi 11.697,66 ton. Sementara Temanggung 9.363,85 ton, dan Grobogan 6.757,82 ton di posisi ketiga.
"Bisa melebihi Temanggung ini tonggak bersejarah. Biasanya kita selalu di bawah, baik produksi maupun luasan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang, Agus Iwan Haswanto kepada Jawa Pos Radar Kudus, kemarin (25/9).
Menurutnya, selama ini Rembang hanya merilis data sepihak soal luasan dan produktivitas. Namun data BPS ini menjadi acuan resmi yang diterima semua pihak.
Capaian tersebut tak lepas dari kerja keras petani yang didampingi Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dan kemitraan dengan PT Sadhana. Ditambah fasilitasi Pemkab melalui bantuan alsintan, pupuk, hingga pembinaan.
"Untuk data 2026 akan dirilis tahun 2027," terangnya.
Produktivitas tembakau yang tinggi berdampak langsung pada kesejahteraan petani desa. Di musim kemarau, tembakau menjadi sumber pendapatan signifikan.
Serapan tenaga kerjanya juga besar, mulai dari tanam, petik, rajang, pengepakan, hingga penjualan. Efek domino juga terasa pada sektor transportasi dan perputaran ekonomi di Rembang.
"Pemanfaatan DBHCHT, Rembang diuntungkan karena mendapat kontribusi lumayan besar," katanya.
Saat ini proses pembelian tembakau masih berlangsung. Dintanpan terus memantau grafik harga yang masih dalam batas wajar.
"Diperkirakan penyerapan tahun 2026 sampai Oktober-November," ujarnya.
Soal perputaran uang, pihaknya belum berani memastikan. Cuaca panas memang menguntungkan, namun kekurangan air juga berpengaruh pada kualitas.
"Nanti rata-rata harga akan dirilis mendekati akhir masa buying," pungkasnya. (noe/ali)
Editor : Ali Mahmudi