SIAGA: Sejumlah ambulas siap siaga di MTsN Lasem setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan kemarin.
REMBANG – MTsN 1 Rembang (Lasem) kemarin (9/9) menjadi perbincangan publik setelah beredar kabar keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di kalangan siswa. Kabar itu sempat viral di grup media sosial lokal, memicu kedatangan empat ambulans, dua dari Puskesmas Pancur dan dua dari Puskesmas Lasem.
Pantauan Jawa Pos Radar Kudus, suasana MTsN 1 Lasem kemarin tetap ramai dengan kegiatan belajar mengajar (KBM). Sekitar pukul 13.30, siswa terlihat pulang seperti biasa dari kelas masing-masing. Di sekolah tampak tumpukan wadah MBG yang sebelumnya diletakkan di dekat pintu gerbang utama, lalu dipindahkan ke gazebo dekat pagar saat jam pulang sekolah.
Di ruang guru, petugas Kementerian Agama (Kemenag) dan Polres Rembang tampak melakukan pengecekan silang atas kabar yang beredar. Pihak sekolah pun memberikan klarifikasi resmi kepada wali murid, menegaskan bahwa seluruh siswa MTsN 1 Rembang tidak mengalami keracunan MBG. Surat pemberitahuan itu ditandatangani Kepala Madrasah Muhammad Yunus Anis.
Kabar bermula dari pesan WhatsApp yang menyebut seorang siswa pondok dilarikan ke rumah sakit karena diare. Setelah ditelusuri, siswa tersebut ternyata berasal dari MAN 2 Rembang (MAN Lasem), bukan MTsN 1 Rembang. Penanggung jawab MBG sempat mengonfirmasi ke sejumlah pondok pesantren, dan hanya ditemukan dua siswa MTsN yang mengalami diare beberapa hari sebelumnya—bukan akibat MBG yang diterima Selasa (8/9).
Waka Sarana Prasarana MTsN 1 Rembang, Kris Sutopo, membantah adanya siswa yang keracunan MBG seperti yang beredar di media sosial. Menurutnya, pihak madrasah sendiri sempat kaget saat tim kesehatan Puskesmas tiba-tiba datang membawa ambulans.
”Setelah saya tanya, tim kesehatan mendapat telepon dari Dinkes Kabupaten Rembang soal berita di media sosial yang menyebut MTsN 1 Rembang ada kejadian keracunan MBG,” kata Kris kepada wartawan, kemarin (9/9).
Tim kesehatan lantas melakukan screening terhadap 1.072 siswa dari 33 kelas. Hasilnya, 46 siswa terindikasi pusing dan lemas—kondisi yang menurut Kris lazim terjadi karena sekitar 600 siswa tinggal di pondok pesantren dan kerap tidak sarapan atau kurang tidur. Setelah diberi obat, mereka diminta kembali ke kelas. Namun, empat siswa mengalami mual, muntah, dan mencret sejak pagi, sehingga dibawa ke Puskesmas Lasem.
Kris menambahkan, pada Rabu (9/9) sekolah memang tidak menerima kiriman MBG. Penyalur dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diduga menghentikan sementara distribusi karena khawatir dampak kasus di sekolah lain.
”Sejak kejadian Kamis lalu di SMAN 1 Lasem, anak-anak di sini mulai takut makan MBG karena khawatir mengalami hal serupa. Padahal SPPG kami berbeda dengan SMA,” ujarnya.
Kekhawatiran itu makin menjadi setelah muncul kasus kedua di MAN 2 Rembang, sehingga isu di media sosial pun kian liar meski sumbernya tidak jelas. ”Padahal di dalam sekolah suasananya tenang-tenang saja. Hari ini justru banyak kegiatan, seperti Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI), green school, dan sosialisasi BNN,” imbuhnya. (noe/ali)
Editor : Ali Mahmudi