Dugaan Keracunan MBG di SMAN 1 Lasem, 752 Siswa Terdampak dan 5 Dilarikan ke Puskesmas

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:38 WIB
Ilustrasi dugaan keracunan MBG di sekolah (Ist)
Ilustrasi dugaan keracunan MBG di sekolah (Ist)

REMBANG – Dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang.

Sebanyak 752 siswa dan 25 guru dilaporkan mengalami berbagai keluhan kesehatan, mulai dari diare, lemas, pusing, mual hingga muntah.

Banyaknya warga sekolah yang mengalami gejala tersebut membuat aktivitas belajar mengajar pada Kamis (3/9/2026) terganggu.

Pihak sekolah akhirnya menghentikan sementara kegiatan pembelajaran dan memulangkan seluruh siswa lebih awal.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan kejadian tersebut diduga berkaitan dengan makanan MBG yang diterima sekolah pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.

Makanan tersebut berasal dari Dapur SPPG Soditan dan kemudian dibagikan kepada para siswa saat jam istirahat sekitar pukul 11.45 WIB.

Menu yang disajikan terdiri atas nasi, ayam bakar, sambal, lalapan, tempe goreng, serta buah semangka.

Keluhan kesehatan mulai dilaporkan pada Rabu malam. Namun, saat itu jumlah laporan masih terbatas sehingga belum menunjukkan adanya kejadian yang bersifat massal.

Situasi berubah pada Kamis pagi. Laporan dari berbagai kelas meningkat tajam. Sejumlah kelas bahkan melaporkan puluhan siswa mengalami gangguan kesehatan.

"Tadi pagi ternyata laporannya satu kelas ada yang 20 anak, ada yang 31 anak. Total ada 752 siswa dari 1.174 siswa dan 25 guru yang terdampak. Gejalanya diare, lemas, pusing, bahkan ada yang muntah-muntah di sekolah," ujar Juhartutik, Kamis (3/9/2026).

Banyaknya siswa yang mengalami diare dan sakit perut membuat kondisi sekolah menjadi tidak kondusif.

Fasilitas toilet yang tersedia bahkan tidak mampu mengakomodasi banyaknya siswa yang harus bolak-balik karena mengalami keluhan tersebut.

Dalam kondisi itu, lima siswa harus dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Dengan jumlah warga sekolah yang terdampak mencapai sekitar 61 persen dari total siswa, pihak sekolah kemudian mengambil langkah untuk memulangkan seluruh siswa. Distribusi program MBG juga dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi.

Sampel Makanan Akan Diperiksa di Laboratorium

Penanganan kasus tersebut turut melibatkan pihak Puskesmas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang, serta pengelola SPPG.

Mereka mendatangi sekolah untuk melakukan pemeriksaan sekaligus memberikan penanganan terhadap warga sekolah yang mengalami keluhan kesehatan.

Sebelumnya, pihak SPPG menyampaikan bahwa makanan yang dibagikan telah menjalani pemeriksaan internal. Namun, pihak sekolah tetap meminta agar sampel makanan segera dikirim ke laboratorium di Rembang.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab munculnya gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa dan guru.

Selain pemeriksaan terhadap makanan, sekolah juga melakukan evaluasi internal.

Kuesioner terkait kondisi kesehatan dibagikan kepada seluruh warga sekolah untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan sebagai bahan menentukan langkah berikutnya.

"Sekolah juga membagikan kuesioner evaluasi kesehatan kepada seluruh warga sekolah untuk menentukan langkah tindak lanjut program ke depan," tandas Juhartutik. (noe/ali)

Editor : Ali Mustofa
aktivitas belajar mengajar makanan mbg keracunan makanan program mbg dapur SPPG