Disidak Dewan, Kayu Proyek Revitalisasi SD di Lasem Tak Sesuai Spesifikasi

Ali Mahmudi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:26 WIB

 

KOMISI IV DPRD REMBANG UNTUK RADAR KUDUS

CEK REVITALISASI: Proyek revitalisasi gedung SD di wilayah Kecamatan Lasem kena inspeksi mendadak komisi IV DPRD Rembang kemarin.
KOMISI IV DPRD REMBANG UNTUK RADAR KUDUS

CEK REVITALISASI: Proyek revitalisasi gedung SD di wilayah Kecamatan Lasem kena inspeksi mendadak komisi IV DPRD Rembang kemarin.

 

 

REMBANG – Konsultan pengawas ternyata tidak berada di lokasi saat Komisi IV DPRD Rembang sidak revitalisasi SDN Tasiksono dan SDN Sendangasri, Kecamatan Lasem, kemarin. Selain itu, ditemukan pekerja bukan warga sekitar dan penggunaan kayu tak sesuai spesifikasi.

Anggota Komisi IV DPRD Rembang Puji Santoso membenarkan bahwa empat anggota komisi turun langsung ke lapangan, Senin (31/8). Sidak digelar menyusul ramainya pemberitaan di media sosial soal dugaan pemberian *fee* kepada oknum berlatar belakang partai maupun LSM dalam proyek tersebut.

”Kebetulan Komisi IV ada empat orang melakukan pengawasan. Tugas DPRD memang melakukan pengawasan. Paginya kami ke SDN Tasiksono dan Sendangasri, Kecamatan Lasem,” kata Puji kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Setelah dikonfirmasi ke pihak sekolah, dugaan pemberian fee tersebut dibantah. Kepala sekolah di kedua lokasi menyatakan proyek murni swakelola dengan pendampingan tim pengawas dan perencana.

”Kami tanya langsung ke kepala sekolah. Yang dari Tasiksono bilang tidak ada, murni swakelola dan ada tim pengawas serta perencana yang membantu. Di Sendangasri pun demikian,” terangnya.

Meski begitu, Komisi IV tetap akan menelusuri lebih detail, termasuk asal pekerja proyek. Konfirmasi ke kepala desa Sendangasri mengungkap sejumlah pekerja bukan berasal dari warga sekitar dan tidak dikenal masyarakat setempat.

Dari sisi kualitas fisik, Puji menilai pekerjaan di kedua sekolah tergolong baik. ”Secara keseluruhan fisik di Tasiksono bagus. Pasirnya juga minim kandungan biji besi, seperti pasir Muntilan, Magelang. Begitu pula di Sendangasri, kualitas campurannya bagus,” ujarnya.

Catatan lain menyangkut material atap. Spesifikasi awal menyebut penggunaan baja ringan, namun di lapangan digunakan kayu bengkirai. Puji mengingatkan, praktik semacam ini rawan penyimpangan jika kualitas kayu tidak sesuai standar.

”Seringkali dalam revitalisasi atau pembangunan sekolah, spesifikasi menyebut kayu bengkirai, tapi pelaksanaannya memakai kayu keruing atau meranti. Akibatnya kayu mudah dimakan rayap atau kumbang bubuk, dan atap jadi ambrol,” tegasnya.

Ia menambahkan, pihaknya belum mengecek langsung spesifikasi tersebut di lapangan, namun kecenderungan itu kerap terjadi karena pertimbangan konsultan perencana. Komisi IV juga mencatat bahwa konsultan perencana dan pengawas proyek berasal dari pihak yang sama, dan akan meminta data lengkap dari Dindikpora Rembang mengenai jumlah proyek serupa yang sudah dikerjakan.

”Kami sesalkan, konsultan pengawas sama sekali tidak ada di lokasi. Harusnya mereka standby mengawasi pekerjaan, memastikan pemasangan sudah sesuai spesifikasi atau belum. Di dua lokasi, keduanya tidak ada,” imbuhnya.

Sidak dipastikan berlanjut, tidak hanya di Kecamatan Lasem. Komisi IV juga akan kembali memantau sekolah yang sudah diperiksa pada tahapan pekerjaan berikutnya.

”Setiap hari bisa kami cek semua untuk membantu mengawal proyek ini. Meski sudah kami awasi, besok saat pemasangan kayu akan kami awasi lagi. Ini bentuk kontrol agar pekerjaan tidak asal-asalan, sehingga kualitasnya lebih baik,” pungkasnya. (noe/ali)

Editor : Ali Mahmudi
revitalisasi sd di rembang bermasalah proyek revitalisasi sd di rembang komisi 4 dprd rembang dindikpora rembang Rembang hari ini