SMK Al-Mubaarok Kedatangan Tamu Jepang, Perkuat Kelas Industri Luar Negeri

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:06 WIB
JALIN SINERGI: Yayasan bersama guru SMK Al-Mubaarok Rembang foto bersama Direktur Penyalur Tenaga Kerja dari Jepang, Furumi Yasuke (kenakan jas) bersama LPK. Sekolah ini fokus mengembangkan kemitraan, sehingga siswa lulus mampu bersaing di dunia kerja. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)
JALIN SINERGI: Yayasan bersama guru SMK Al-Mubaarok Rembang foto bersama Direktur Penyalur Tenaga Kerja dari Jepang, Furumi Yasuke (kenakan jas) bersama LPK. Sekolah ini fokus mengembangkan kemitraan, sehingga siswa lulus mampu bersaing di dunia kerja. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

REMBANG - SMK Al-Mubaarok Rembang menerima kunjungan, Direktur Penyalur Tenaga Kerja dari Jepang, Furumi Yasuke.

Kedatangan pengusaha asal luar tersebut bersama LPK Hikari Putra Mandiri desa Babadan, Kecamatan Kaliori.

Kehadiran memberikan peluang lulusan sekolah di jalan nasional, Rembang-Blora KM 4, Torejo-Mondoteko, Rembang bekerja di Jepang.

Furumi, kemarin menyapa 340-an peserta didik dari kelas X-XII di ruangan aula lantai II gedung SMK Al-Mubaarok.

Didampingi Muhaimin, dari LPK Hikari Putra Mandiri. Disambut Ketua Yayasan Zarkasyi Al-Mubaarok, Nuril Haq Saifullah, kepala sekolah dan guru. 

Furumi merupakan mitra perusahaan Penerima Tokyo, Jepang. Ia tercatat sudah menyalurkan 300-an tenaga kerja dari Indonesia di berbagai perusahaan di Jepang.

Kedatangan disambut antusias siswa SMK Al-Mubaarok. Salah satunya Fahmi menanyakan berapa lama waktu belajar Bahasa Jepang.

”Kira-kira kalau mau ke Jepang, untuk belajar bahasa, butuh waktu berapa lama pak,” ujarnya.

Furumi didampingi Muhaimin, dari pihak LPK sekaligus penerjemah bahasa, menjelaskan kemampuan menguasai bahasa Jepang tergantung kemampuan dan keseriusan peserta. Rata-rata membutuhkan waktu setengah tahun.

”Ada yang bisa diajak cepat, ada yang tidak. Rata-rata anak berproses belajar setengah tahun. Kalau anak punya motivasi yang kuat, bisa saja 4 bulan,” tuturnya.

Pertanyaan lain disuarakan Ali Isnan, bertanya biaya untuk bekerja kesana.

”Berapa biaya yang diperlukan, kalau mau kerja ke Jepang,” tanya Ali.

Muhaimin, dari LPK Hikari Putra Mandiri menjelaskan ada 3 program pelatihan bahasa dan pemberangkatan tenaga kerja ke Jepang.

Termasuk jika peserta betul-betul tidak punya biaya, namun memiliki niat kuat bekerja di Jepang, pihak LPK juga siap memberikan dana talangan terlebih dahulu.

“Ada rentang A, B dan C. Pertama, khusus anak yang tidak punya biaya, bisa kita talangi. Modalnya hanya tes kesehatan (medical). Tentu tetap melewati seleksi tes Matematika, fisik, psikotes dan tes wawancara,” terangnya.

Muhaimin menambahkan secara umum, biaya pelatihan bahasa di LPK sebesar Rp 7,5 Juta termasuk disediakan asrama. Sedangkan biaya keberangkatan ke Jepang, Rp 35 Juta.

”Bisa bayar sendiri atau bisa menggunakan skema dana talangan. Kalau dana talangan, nanti saat sudah bekerja di Jepang, baru mengganti. Soal gaji tinggi di Jepang, anggap saja sebagai bonus, ketika bekerja di luar negeri,” kata Muhaimin.

Setelah dari Rembang, Yusuke melanjutkan kunjungan ke LPK Hikari Putra Mandiri, SMK Bakti Utama Pati, Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus dan dilanjutkan kunjungan ke berbagai lokasi di Semarang.

Sementara itu, Ketua Yayasan Zarkasyi Al-Mubaarok, Nuril Haq Saifullah menyatakan tahun 2026 masuk lima hari kerja. Biasanya Sabtu mapel umum, tahun ini  setiap pekan khusus pembelajaran Bahasa Jepang.

”Bergilir semua kelas. Minggu pertama kelas X, minggu kedua kelas XI dan minggu ketiga kelas XII, secara kontinyu akan dilakukan roling,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin (31/8).

Proses pembelajaran bekerja sama dengan LPK Hikari Putra Mandiri. Nanti harapanya setelah anak-anak mengusai Bahasa Jepang dikirimkan kesana.

”Kemampuan, kedisplinan sudah dari KBM disekolah. Tinggal bahasa. Nanti pekerjaan apa tergantung anak," terangnya.

Nuril menambahkan antusias siswa maupun orang tua/wali murid tergolong tinggi, setelah ada program ini. Mereka yang minta di dorong. Agar bisa mengangkat ekonomi keluarga ditengah persaingan ketat pencarian kerja.

”Kalau nanti di sekolah, ternyata bahasa Jepang masih kurang dan sudah lulus, bisa dilanjutkan ke LPK. Tentu bagi yang benar-benar minat, serta didukung orang tua,” imbuh Nuril.

Waka Humas, Agung Wahyu Setiyanto menambahkan ada kelas industri. Kelas X dan XI pengenalan, lalu kelas XII fokus. Harapannya setelah lulus mempunyai sertifikasi N5.

Ini merupakan ujian kemampuan dasar bahasa Jepang tingkat pemula yang diikuti murid SMK sebagai nilai tambah untuk kerja atau magang di Jepang.

”Untuk yang berminat kita kelompokan dan tempatkan satu komunitas kelas industri Jepang SMK Al-Mubaarok. Harapanya anak belum lulus, ketika progress bagus data dikirim dan mulai rekrut kerja. Jadi sambil menunggu lulus, karena salah satu syarat minimal 18 tahun,” tandasnya. (noe)

Editor : Ali Mustofa
SMK Al-Mubaarok Rembang lulusan sekolah pencarian kerja penyalur tenaga kerja jepang