Dugaan Keracunan MBG di Rembang, Dinkes Minta SPPG Benahi Pengolahan dan Distribusi

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 12:11 WIB
INVESTIGASI: Tim Dinkes Rembang saat menelisik dan menelusur di dapur SPPG Mondoteko 3 Rembang beberapa waktu lalu. (DINKES RBG UNTUK RADAR KUDUS)
INVESTIGASI: Tim Dinkes Rembang saat menelisik dan menelusur di dapur SPPG Mondoteko 3 Rembang beberapa waktu lalu. (DINKES RBG UNTUK RADAR KUDUS)

REMBANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang terus menindaklanjuti dugaan gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa dan tenaga pendidik setelah menerima menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pembenahan disiplin penjamah makanan hingga pengaturan waktu distribusi menjadi salah satu perhatian utama dalam evaluasi yang dilakukan.

Kepala Dinkes Rembang dr. Ali Syafi’i melalui Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Kesehatan Olahraga, Al-Furqon, menjelaskan pihaknya telah melakukan investigasi terhadap dugaan diare massal tersebut.

Gangguan kesehatan dilaporkan terjadi di empat sekolah, yakni SMPN 5 Rembang, SD Nawawiyah, SMP Islam An-Nawawiyah, serta Sekolah Luar Biasa (SLB) Rembang.

Sejumlah siswa, guru, tenaga tata usaha hingga kepala sekolah dilaporkan mengalami diare.

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim Dinkes Rembang mendatangi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mondoteko 3 Rembang yang menjadi salah satu lokasi penyedia makanan MBG untuk sekolah-sekolah tersebut.

Dalam pemeriksaan di dapur SPPG, petugas menggali berbagai tahapan pengolahan makanan.

Pemeriksaan mencakup tenaga yang terlibat, bahan makanan yang digunakan, proses memasak, pengemasan, hingga mekanisme pengangkutan makanan menuju sekolah penerima.

Tim juga mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil investigasi lapangan kemudian dibahas melalui evaluasi internal Dinkes Rembang.

Al-Furqon mengatakan hasil evaluasi tersebut telah disampaikan kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya.

"Secara umum SPPG harus melakukan pembenahan disiplin penjamah makanan dalam mengolah pangan dan memperbaiki manajemen distribusi agar tidak melebihi waktu aman pangan sehingga aman dikonsumsi," ujar Al-Furqon saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, pembenahan tidak hanya diperlukan di sisi penyedia makanan. Pihak sekolah sebagai penerima manfaat juga perlu memperhatikan pengaturan waktu setelah makanan diterima.

MBG sebaiknya segera dibagikan kepada penerima manfaat dan tidak dibiarkan terlalu lama. Namun, proses pembagian juga harus disesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar agar tidak mengganggu aktivitas sekolah.

Selain itu, kebiasaan menjaga kebersihan sebelum menyantap makanan juga perlu diperkuat. Salah satunya dengan membiasakan siswa dan penerima manfaat mencuci tangan sebelum makan.

Kepala Dinkes Rembang dr. Ali Syafi’i sebelumnya menyampaikan bahwa persoalan awal yang ditemukan berkaitan dengan faktor higiene dan sanitasi.

Karena itu, dapur penyedia makanan telah mendapatkan pembinaan agar melakukan sejumlah perbaikan.

Di sisi lain, kebijakan dari Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap dapur tersebut untuk sementara dilakukan suspend.

"Untuk Dinkes mengawasi, pengawasan," kata Ali.

Meski demikian, Dinkes Rembang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami warga sekolah.

Sampel makanan telah dikirim ke laboratorium di Semarang. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mengungkap apakah dugaan diare massal berkaitan dengan bakteri, kuman, kontaminasi tertentu, atau faktor lainnya.

Ali menjelaskan pemeriksaan laboratorium akan dilakukan melalui sejumlah tahapan, termasuk pengujian kimia dan mikrobiologi.

Proses tersebut membutuhkan waktu karena beberapa jenis pemeriksaan memerlukan tahapan pembiakan terlebih dahulu.

"Sudah kita kirim. Nanti akan diuji, diukur, baru diidentifikasi," jelasnya.

Ia memperkirakan hasil pemeriksaan laboratorium dapat diketahui dalam waktu sekitar tujuh hingga 14 hari atau kurang lebih dua pekan.

Namun, lama proses juga dapat dipengaruhi antrean sampel yang sedang diperiksa di laboratorium.

Sampel yang telah dikirim juga disimpan menggunakan fasilitas penyimpanan khusus sebelum masuk tahapan pemeriksaan.

Karena itu, Dinkes Rembang belum dapat memastikan penyebab diare massal sebelum seluruh proses laboratorium selesai.

Dugaan awal mengenai bakteri atau kuman masih harus dibuktikan melalui hasil pemeriksaan.

"Kita lihat dulu situasi, baru disimpulkan. Mungkin dicuriganya bakteri, kuman atau yang lain," pungkas Ali. (noe)

Editor : Ali Mustofa
dugaan diare massal Menu MBG dinkes rembang dapur SPPG