Diare Massal di Rembang Meluas, SLB Ikut Terdampak, Siswa Trauma MBG Tak Boleh Dipaksa

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:03 WIB
CEK LANGSUNG: PIC MBG Dindikpora Rembang, Ngadiyono bersama Kabid Pelayanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan (Yankes dan SDK), Soesi Haryanti serta Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), Aprilia Qoulan Syakila mengecek di SMP Islam An-Nawawiyah. (PIC MBG DINDIKPORA UNTUK RADAR KUDUS)
CEK LANGSUNG: PIC MBG Dindikpora Rembang, Ngadiyono bersama Kabid Pelayanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan (Yankes dan SDK), Soesi Haryanti serta Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), Aprilia Qoulan Syakila mengecek di SMP Islam An-Nawawiyah. (PIC MBG DINDIKPORA UNTUK RADAR KUDUS)

REMBANG – Kasus diare massal yang menyerang sejumlah sekolah di Kabupaten Rembang terus bertambah.

Setelah sebelumnya ditemukan di beberapa sekolah, kini kejadian serupa juga dialami siswa, guru, hingga wali murid di Sekolah Luar Biasa (SLB) Rembang.

Meski demikian, kondisi para penderita dilaporkan membaik hanya dalam waktu satu hari.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SLB Rembang, Peni Widati Wulansari, mengungkapkan berdasarkan laporan dari wali murid terdapat satu siswa dan dua orang tua yang mengalami gejala diare.

Menurutnya, salah satu wali murid mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak dihabiskan anaknya saat berada di sekolah, kemudian mengalami keluhan serupa pada hari yang sama.

"Orang tua yang menunggu di sekolah memakan makanan yang tidak dihabiskan anaknya, lalu pada Rabu melaporkan mengalami diare," ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Peni menjelaskan, setelah menerima laporan tersebut, pihak sekolah segera berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke sekolah.

Selain itu, sekolah juga mengimbau siswa maupun guru yang mengalami gangguan pencernaan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila gejala berlanjut.

Beruntung, seluruh keluhan di lingkungan SLB Rembang hanya berlangsung sehari dan para penderita dilaporkan pulih pada hari berikutnya.

SLB Rembang diketahui menerima distribusi menu MBG dari dapur yang sama dengan sejumlah sekolah lain, yakni SPPG 3 Mondoteko.

Dengan adanya tambahan kasus tersebut, kini sedikitnya empat sekolah di Rembang tercatat terdampak dugaan keracunan makanan, yakni SMPN 5 Rembang, SD Nawawiyah, SMP Islam An-Nawawiyyah, dan SLB Rembang.

Sementara itu, kondisi di SMPN 5 Rembang masih menjadi perhatian karena jumlah siswa dan tenaga pendidik yang mengalami gangguan pencernaan masih cukup banyak.

Kepala SMPN 5 Rembang, Menik Mustikatun, melaporkan hingga hari ketiga terdapat 182 siswa yang izin sakit, terdiri atas 46 siswa kelas VII, 47 siswa kelas VIII, dan 72 siswa kelas IX. Dari jumlah tersebut, 13 siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Selain siswa, delapan guru dan seorang tenaga tata usaha juga izin karena sakit. Dua di antaranya masih dirawat di rumah sakit maupun puskesmas akibat mengalami gejala serupa.

Pihak sekolah terus memantau kondisi para siswa dengan berkeliling ke setiap kelas untuk memastikan kesehatan peserta didik.

Tim sekolah juga mendatangi siswa yang dirawat di rumah sakit sebagai bentuk pendampingan.

Orang tua turut diberi informasi bahwa biaya pengobatan bagi penderita yang diduga berkaitan dengan menu MBG akan ditanggung oleh pihak SPPG.

Di sisi lain, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Rembang memberikan kebijakan agar penerimaan menu MBG tidak dipaksakan bagi siswa yang masih merasa trauma setelah kejadian tersebut.

Kepala Dindikpora Kabupaten Rembang, Achmad Sholchan, mengatakan siswa yang belum siap menerima makanan dari program MBG dipersilakan untuk tidak mengambilnya sementara waktu, termasuk apabila nantinya terjadi pergantian dapur penyedia makanan.

"Kami tidak ingin ada paksaan. Jika masih trauma, biarkan dulu sampai mereka benar-benar siap menerima kembali," ujarnya.

Sholchan menambahkan, pihaknya bersama tim pendamping MBG terus melakukan pemantauan ke sekolah-sekolah terdampak sekaligus memberikan dukungan kepada siswa, guru, dan orang tua.

Terpisah, Kasi Informasi RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, M. Nur Achdi Yustanto, menyampaikan hingga Jumat (7/8/2026) masih terdapat delapan pasien dengan gejala gangguan pencernaan yang menjalani perawatan. Mereka terdiri atas enam anak dan dua orang dewasa.

Menurutnya, kondisi pasien secara umum mulai membaik setelah mendapatkan penanganan medis.

Meski demikian, tenaga kesehatan tetap melakukan observasi intensif untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat diare dan muntah yang dialami para pasien. (noe)

Editor : Ali Mustofa
diare massal dindikpora rembang Menu MBG SLB Rembang