CEK KESEHATAN: Guru dan siswa SMPN 5 Rembang antre cek kesehatan setelah mereka terkena diare diduga karena MBG.
REMBANG – Puluhan siswa, guru, hingga Kepala SMP Negeri 5 Rembang mendadak terserang diare, Rabu (5/8). Kejadian ini muncul sehari setelah sekolah menerima menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa nasi liwet, telur balado, orek tempe, lalapan, semangka, dan susu, Selasa (4/8). Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti diare massal tersebut belum terkonfirmasi.
Kepala SMPN 5 Rembang, Menik Mustikatun, menuturkan gejala pertama muncul dini hari. Dirinya merasakan sakit perut hebat sekitar pukul 03.00 WIB dan mengalami buang air besar cair. Ia sempat menceritakan keluhan itu kepada pegawai Tata Usaha (TU).
Tak lama berselang, sejumlah guru lain mengalami keluhan serupa, bahkan ada yang merasakannya sejak pukul 02.00 dini hari. Dua guru mengirim pesan lewat WhatsApp untuk izin tidak masuk karena diare dan muntah-muntah.
"Saya pikir hanya dua guru saja. Selang beberapa jam, sekitar pukul 08.00-08.30, ada guru lain datang dan izin karena diare dan lemas. Saya izinkan pulang, saya pesan untuk istirahat di rumah," terangnya.
Laporan serupa kemudian datang dari Bimbingan Konseling (BK) dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Semakin banyak siswa mengeluhkan sakit perut, hingga pihak sekolah proaktif menghubungi orang tua untuk menjemput anak masing-masing.
Melihat jumlah siswa yang mengeluh sakit terus bertambah, Menik akhirnya turun tangan memeriksa ke ruang UKS dan BK. Ia mendapati sejumlah siswa terbaring di UKS, sementara lainnya berkumpul di ruang BK.
"Saya akhirnya hubungi Puskesmas Rembang 1 untuk memeriksa kesehatan anak-anak. Saya bilang, masak masuk angin bareng-bareng," ujarnya.
Petugas Puskesmas yang datang sempat menduga gejala dipicu cuaca dingin beberapa hari terakhir. Namun, jumlah siswa yang sakit dinilai janggal jika hanya disebabkan cuaca.
"Saya saat ditanya awal, mungkin karena cuaca yang dingin. Petugas pun tanya lagi, kok jumlahnya banyak? Lalu makan apa? Dapat MBG, saya jawab dapat. Menunya apa, saya jawab mau komunikasi dulu dengan pihak dapur," ungkap Menik menirukan percakapannya dengan petugas kesehatan.
Menik kemudian menghubungi pihak dapur MBG atas nama Bustam dan menyampaikan kondisi sebenarnya di sekolah. Ia juga menanyakan apakah sampel makanan Selasa lalu masih tersimpan untuk diuji di Puskesmas Rembang 2.
"Saya tanya bagian dapur, masih menyimpan sampel makanan kemarin atau tidak. Biasanya dibawa ke Puskesmas Rembang 2 untuk diuji. Saya bilang oke, nanti setelah dicek dikabari. Saya juga informasikan bahwa kami mengundang Puskesmas Rembang 1 untuk mengecek kondisi anak-anak. Dijawab siap," lanjutnya.
Jumlah siswa yang dijemput orang tua akhirnya mencapai 42 orang. Sekolah lantas meminta izin kepada Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Rembang melalui Kepala Bidang Pembinaan SMP, Ngadiyono, untuk memulangkan siswa lebih awal, yakni pukul 10.00 WIB, setelah berkoordinasi dengan orang tua.
"Pak Ngadiyono selaku PIC MBG dan Kabid Pembinaan SMP berpesan agar dikomunikasikan dengan orang tua supaya anak-anak sampai di rumah bersama orang tua," imbuhnya.
Sebagian siswa yang belum dijemput sempat menunggu bersama pihak sekolah, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang. Dinkes kemudian meminta izin melakukan pengecekan langsung ke dapur penyedia MBG. Pihak sekolah memilih menunggu hasil pemeriksaan tersebut sebelum menyimpulkan penyebab pasti diare massal ini.
Sekolah juga mengimbau siswa maupun guru yang masih mengalami keluhan segera memeriksakan diri agar mendapat penanganan medis. Selain itu, pihak sekolah membantah kabar yang beredar di media sosial yang menyebut ada siswa yang dirawat inap atau dilarikan ke IGD. Kabar tersebut dipastikan tidak benar. (noe/ali)
Editor : Ali Mahmudi