Si Jago Merah Lahap Lima Hektare Tegalan Jati di Gunung Bugel Rembang

Ali Mahmudi • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 16:43 WIB
ALI MAHMUDI/RADAR KUDUS

SULIT DIJINAKAN: Api membakar lahan kebun jati  di Pegunungan Bugel Pancur Kamis petang (30/7).
ALI MAHMUDI/RADAR KUDUS
SULIT DIJINAKAN: Api membakar lahan kebun jati  di Pegunungan Bugel Pancur Kamis petang (30/7).

 

 

REMBANG – Kobaran api melahap lereng Gunung Bugel, Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Kamis (30/7) sore hingga malam. Dalam hitungan jam, si jago merah menghanguskan lima hektare lahan tegalan milik warga, meninggalkan hamparan arang di kawasan yang selama ini dikenal rawan kebakaran saat kemarau.

 

Warga pertama kali melihat titik api sekitar pukul 17.30 WIB dari lereng pegunungan. Baru setengah jam berselang, api sudah membesar dan merambat liar ke seluruh lereng, terlihat hingga radius dua kilometer. Tiga pemilik lahan terdampak adalah Samiono, Karyono, dan Darji, warga setempat. Beruntung, tak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini.

 

Hingga berita ini disusun, api belum sepenuhnya padam. Medan terjal dan sulit dijangkau membuat unit pemadam kesulitan menembus lokasi. BPBD, Pemadam Kebakaran, Pemerintah Desa Warugunung, Polsek Pancur, dan Koramil 07 Pancur bahu-membahu memantau perkembangan di lapangan.

 

Plt Kepala Pelaksana BPBD Rembang Muhammad Luthfi Hakim membenarkan kejadian tersebut saat dihubungi Jawa Pos Radar Kudus, Jumat (31/7). Ia menyebut api dipicu aktivitas pembakaran lahan yang diduga sengaja dilakukan warga untuk membuka lahan baru yang akan ditanami jagung dan tanaman lainnya.

 

"Betul, kejadiannya Kamis sore sampai malam. Ada pembakaran lahan oleh warga," ungkapnya.

 

Luthfi menyebut lahan yang terbakar berupa persil dengan luasan yang tidak main-main. Ironisnya, kejadian serupa disebut bukan hal baru  hampir tiap tahun kawasan ini langganan kebakaran akibat kebiasaan warga membakar tumpukan daun jati kering yang menumpuk selama musim kemarau.

 

Sayangnya, petugas Damkar tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya mampu memantau dari luar karena luas dan medan lokasi yang sulit ditembus kendaraan. "Untuk proses pemadaman tidak. Dari sore cukup luas. Andaikan satu tangki, 5-10 tangki tidak cukup," bebernya.

 

Prioritas petugas kini hanya satu: memastikan api tak merembet ke permukiman warga terdekat. Menariknya, laporan awal kejadian ini justru masuk lewat sambungan telepon personal ke petugas BPBD dan Damkar, bukan melalui call center resmi. Untuk menjangkau perbukitan, tim biasanya mengandalkan mobil pemadam, namun bila medan tak bisa dilalui kendaraan, senjata andalan mereka adalah water pump, alat semprot sejenis milik petani.

 

Lokasi kebakaran memang murni lahan milik warga, bukan kawasan Perhutani, dan berjarak jauh dari permukiman. Namun aparat tetap mewanti-wanti: jika dibiarkan, kebiasaan bakar lahan ini berisiko meluas tak terkendali, merusak lingkungan, dan berbenturan dengan aturan pengendalian kebakaran lahan. 

 

Aparat gabungan berkomitmen terus memantau lokasi hingga api benar-benar padam tanpa sisa bara, sembari mendekati warga pemilik lahan secara persuasif soal ancaman hukum dan bahaya membakar lahan sembarangan. (noe/ali)



Editor : Ali Mahmudi
kebakaran di gunung bugel pancur kebun jati di pancur damkar rembang bpbd rembang