REMBANG – Geliat sektor pertanian dan perkebunan di Kabupaten Rembang kian terasa. Bantuan sarana dan prasarana (sarpras) pertanian mengalir deras, program bongkar ratoon bagi petani tebu berjalan, dan status swasembada pangan pun dipastikan aman.
Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang mencatat, padi menjadi komoditas andalan dengan luas lahan 31.990 hektare, sementara target swasembada pangan dipatok 55.186 hektare. Pemerintah pusat berkomitmen mengucurkan banyak fasilitas kegiatan irigasi untuk mengejar target tersebut.
Selain padi, jagung punya potensi lahan 25.209 hektare. Tebu tercatat seluas 6.820 hektare untuk gula kristal dan 1.950 hektare untuk gula tumbu. Sejak tahun lalu, pemerintah memfasilitasi bongkar ratoon atau peremajaan lahan tebu, dan program ini sudah berjalan.
Tembakau varietas Nori—hasil kemitraan dengan PT Sadhana—juga jadi komoditas penting dengan luas tanam 7.440 hektare, produksi 1,5 hingga 2 ton per hektare. "Dulu MT 2-MT 3 lahan sering bero (tidak ditanami). Sekarang ada pilihan komoditas tembakau untuk mengisi musim tanam itu," kata Kepala Dintanpan Rembang.
Di sektor peternakan, populasi sapi potong mencapai 110 ribu ekor dengan kelahiran pedet rata-rata 30.593 ekor per tahun. Pedet paling cepat laku di pasar hewan dalam waktu empat bulan.
Alsintan Mengalir Tiap Tahun
Komitmen Bupati Rembang di sektor pertanian dinilai luar biasa. Distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) hampir tak pernah absen dari tahun ke tahun demi memudahkan dan mengefisienkan cara bertani petani lokal.
"Pada semester I tahun 2026, Dintanpan telah melaksanakan penyerahan alsintan kepada kelompok tani penerima di beberapa kecamatan, sesuai kebutuhan dan usulan yang telah diverifikasi," kata Kepala Dintanpan.
Rinciannya: cultivator 56 unit dengan realisasi anggaran Rp1.066.408.000, kendaraan roda tiga 27 unit senilai Rp 980.199.996, perajang tembakau 24 unit senilai Rp 310.800.009 — seluruhnya bersumber dari APBD. Adapun pupuk ZA terealisasi 223.828 kilogram dengan anggaran Rp2.237.333.655.
Tak hanya dari APBD, Kementerian Pertanian juga mengucurkan bantuan berupa combine harvester, vertical dryer, power thresher, pompa 3 inch, TR4, pengembangan jaringan irigasi tersier, IRPOM air permukaan dan air tanah, bangunan konservasi embung, longstorage, DAM parit, hingga Jalan Usaha Tani (JUT). Ditambah lagi optimalisasi lahan dari APBN.
"Kami juga memastikan Rembang swasembada pangan. Menjadi salah satu daerah surplus di Jawa Tengah, baik padi maupun jagung, sehingga bisa memasok kabupaten lain," tegasnya.
Dongkrak Produktivitas Tebu dan Tembakau
Untuk komoditas tebu, program bongkar ratoon terus difasilitasi agar produksi dan produktivitas tetap terjaga. Sementara tembakau, sebagai komoditas andalan musim kemarau, mendapat sokongan besar dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
"Harapannya, belanja-belanja Dinas Pertanian berupa pupuk, alsintan, dan pelatihan bisa betul-betul dirasakan petani tembakau," ujarnya.
Soal pupuk, ia memastikan stok subsidi relatif aman tanpa kendala berarti. Yang jadi keluhan justru harga pupuk nonsubsidi yang naik drastis. Untuk itu, Rembang menyalurkan bantuan pupuk ZA sekitar 200 ton lebih bagi petani tembakau, mulai didistribusikan bulan ini.
Embung Partisipatif Jawab Keterbatasan Anggaran
Menyiasati keterbatasan anggaran, Dinas Pertanian Rembang juga membangun embung partisipatif bersama masyarakat.
"Tahun 2026 kami mendapat anggaran Rp 250 juta, cukup untuk membangun 17-20 embung dengan kapasitas setara 10.000 meter kubik. Itu hampir tujuh kali lipat kapasitas embung konvensional," pungkasnya. (noe)
Editor : Ali Mahmudi