Investasi di Rembang Turun, Serapan Tenaga Kerja Justru Melonjak

Ali Mahmudi • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:25 WIB
ILUSTRASI BY ALI MAHMUDI
ILUSTRASI BY ALI MAHMUDI

 

 

REMBANG – Nilai investasi di Kabupaten Rembang pada Triwulan I 2026 memang menurun, tapi bukan berarti kabar buruk. Justru sebaliknya: jumlah tenaga kerja yang terserap melonjak signifikan, sinyal bahwa investasi yang masuk ke Rembang kian produktif.

 

Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Rembang mencatat realisasi investasi triwulan pertama tahun ini mencapai Rp 234,58 miliar, turun 36,49 persen dibanding triwulan IV 2025. Namun penyerapan tenaga kerja tetap naik, dari 4.691 orang menjadi 5.377 orang, atau meningkat 14,62 persen.

 

"Penurunan nilai investasi tidak berdampak pada tenaga kerja. Justru penyerapan tenaga kerja meningkat. Ini menunjukkan investasi yang ada tetap produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Kepala DPMPTSP Kabupaten Rembang, Dwi Martopo, didampingi Kepala Bidang Penanaman Modal, Nurohmah, saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

 

Dwi menjelaskan, realisasi investasi triwulan I 2026 masih didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 207,35 miliar, meski turun 38,25 persen dibanding triwulan IV 2025 yang mencapai Rp 335,81 miliar. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat Rp 27,22 miliar, turun 18,89 persen dari Rp 33,56 miliar pada periode sebelumnya. Dengan komposisi tersebut, PMDN berkontribusi 88,39 persen terhadap total investasi, sedangkan PMA hanya 11,61 persen.

 

"Rasio PMDN dan PMA setiap triwulan maupun total investasi menunjukkan nilai PMDN terus meningkat. Kinerja investasi PMDN selalu lebih tinggi dibandingkan PMA pada setiap triwulan, artinya investasi di Kabupaten Rembang masih didominasi investor dalam negeri," ujarnya.

 

Menurut Dwi, kondisi ini justru menguntungkan perekonomian daerah karena keuntungan investasi akan lebih banyak berputar di tangan investor lokal dan diharapkan mendorong circle economy domestik sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat.

 

Dari sisi sektor usaha, industri mineral bukan logam menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp 54,21 miliar atau 23,11 persen dari total realisasi. Disusul sektor perdagangan dan reparasi Rp 47,95 miliar, serta sektor jasa lainnya Rp 26,32 miliar. Gabungan tiga sektor unggulan ini menyumbang Rp 128,48 miliar, atau 61,96 persen dari total PMDN.

 

Namun soal penyerapan tenaga kerja, panggung berpindah ke sektor perdagangan dan reparasi yang menjadi penyerap terbesar dengan 1.601 orang, diikuti industri makanan 1.349 orang, dan jasa lainnya 1.054 orang. Secara wilayah, Kecamatan Rembang menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak, disusul Gunem dan Sluke — menandakan geliat ekonomi dan industri di tiga kecamatan itu terus tumbuh dan mampu membuka lapangan kerja baru.

 

Selain investasi skala besar, geliat Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Rembang juga menggembirakan. Sepanjang triwulan I 2026, tercatat 1.763 proyek UMK terdaftar lewat sistem Online Single Submission (OSS) dengan total nilai komitmen investasi Rp 116,87 miliar.

 

"Nilai komitmen investasi yang tercatat dari pelaku usaha skala mikro sebesar Rp 91,885 miliar dengan 1.684 proyek. Sedangkan nilai komitmen investasi dari pelaku usaha skala kecil sebesar Rp 24,988 miliar dengan 79 proyek," pungkas Dwi. (noe/ali)

 

Faktor Pendorong Capaian Realisasi Investasi (Sumber: DPMPTSP Rembang):

1. Penerapan sistem OSS RBA yang semakin optimal

2. Meningkatnya kesadaran pelaku usaha dalam pelaporan LKPM

3. SDM aparatur penanaman modal yang kompeten dan responsif

4. Pendekatan persuasif untuk menjaga iklim investasi yang sehat

5. Monitoring dan evaluasi realisasi investasi secara berkala

6. Pembinaan kepatuhan pelaporan LKPM

7. Pengawasan kegiatan usaha untuk menjaga keberlanjutan investasi

Editor : Ali Mahmudi
tenga kerja rembang Rembang hari ini HARNO HANIS DPMPTSP Rembang investasi rembang