Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pindah BBM Masih Dihitung, Stok Pertamax dan Pertalite di Rembang Tetap Aman

Ali Mustofa • Kamis, 11 Juni 2026 | 14:33 WIB
ANTRE: Pengguna kendaraan bermotor antre mengisi bahan bakar di SPBU Rembang kota, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)
ANTRE: Pengguna kendaraan bermotor antre mengisi bahan bakar di SPBU Rembang kota, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

REMBANG – Pemerintah resmi memberlakukan kenaikan harga Pertamax mulai Rabu pukul 00.00 WIB.

Namun pada hari pertama kebijakan tersebut, aktivitas di sejumlah SPBU di Rembang justru terlihat relatif lengang, terutama pada jalur pengisian BBM non-subsidi.

Kondisi berbeda tampak pada antrean BBM jenis Pertalite yang masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Pantauan di SPBU kawasan Jalan Pemuda maupun Ngotet menunjukkan situasi yang berjalan normal tanpa antrean panjang, baik pada jalur Pertamax maupun Pertalite.

Pada jam-jam sibuk pagi hari, seperti waktu berangkat sekolah, kantor, dan aktivitas industri, tidak terlihat penumpukan kendaraan yang signifikan.

Pengguna kendaraan roda dua hingga mobil di bawah 1.500 cc sebagian besar masih memilih Pertalite sebagai bahan bakar utama.

Mayoritas konsumen yang terpantau adalah pelajar, pekerja swasta, hingga masyarakat umum.

Secara umum, stok Pertamax maupun Pertalite di SPBU Rembang masih terpantau aman.

Berbeda dengan solar yang dalam beberapa hari terakhir sempat mengalami kekosongan, sehingga kendaraan niaga dan diesel harus mengantre lebih lama untuk mendapatkan pasokan.

Salah satu warga, Anto dari Kabongan Kidul, mengakui kenaikan harga Pertamax cukup terasa, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi.

Menurutnya, selisih harga yang cukup jauh membuat banyak orang mulai mempertimbangkan kembali jenis BBM yang digunakan.

“Pasti ke depan berpengaruh ke yang lain. Untuk motor masih aman pakai Pertalite, tapi kalau mobil jadi lebih mikir karena antre juga bisa tambah panjang,” ujarnya.

Ia menambahkan, peralihan dari BBM non-subsidi ke subsidi saat ini tidak bisa dilakukan secara instan karena ada aturan penggunaan barcode yang harus dipenuhi.

Kondisi ini membuat sebagian pengguna masih menahan diri untuk berpindah.

“Kalau selisihnya kecil masih bertahan di Pertamax. Tapi kalau sudah jauh seperti sekarang, orang pasti mulai hitung-hitungan,” jelasnya.

Menurutnya, kendaraan berbahan bakar bensin untuk kebutuhan non-bisnis masih relatif fleksibel.

Namun sebagian besar kendaraan niaga lebih banyak bergantung pada solar.

“Mobil pribadi biasanya tidak terlalu berdampak besar, tapi kalau usaha jelas beda hitungannya,” tambahnya.

Ke depan, ia memperkirakan akan terjadi pergeseran konsumsi BBM jika harga tetap bertahan tinggi.

Pengguna kendaraan pribadi diprediksi akan lebih selektif dan mulai mempertimbangkan kembali pilihan bahan bakar.

“Kalau selisihnya sudah besar, orang pasti cari alternatif yang lebih hemat. Lumayan untuk pengeluaran harian,” katanya.

Hingga sore hari, aktivitas di SPBU Rembang terpantau tetap ramai lancar tanpa antrean mengular hingga ke jalan raya.

Pasokan BBM subsidi maupun non-subsidi juga dipastikan masih aman.

Di jalur nasional Rembang–Blora, arus lalu lintas terpantau normal meski volume kendaraan cukup padat.

Sebagian pengendara tetap mengisi BBM seperti biasa untuk kebutuhan mobilitas harian.

Perwakilan paguyuban SPBU Rembang, Eko, membenarkan bahwa kenaikan harga Pertamax mulai berlaku sejak tengah malam.

Namun ia menegaskan belum terlihat dampak signifikan pada hari pertama penerapan kebijakan tersebut.

“Kita lihat dulu perkembangannya, untuk hari pertama belum ada perubahan yang berarti,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada periode sebelumnya kenaikan harga BBM biasanya diikuti peralihan konsumen ke BBM subsidi.

Selain itu, banyak pengguna kendaraan roda empat yang kemudian mengurus barcode untuk tetap bisa mendapatkan bahan bakar sesuai ketentuan.

Sebagai gambaran, tingkat konsumsi di SPBU Rembang bervariasi tergantung lokasi. Untuk Pertalite, rata-rata bisa mencapai sekitar 5–6 ton per hari, sementara Pertamax sekitar 3 ton.

“Setiap SPBU memang berbeda-beda, tergantung posisi dan tingkat kepadatan wilayah,” pungkasnya. (noe)

Editor : Ali Mustofa
#bbm subsidi #kendaraan #pertamax #pertalite #harga bbm