PENUH SAMPAH: Jalan Kartini yang menjadi pusat keramaian acara Thong-Thong Lek penuh dengan sampah plastik kemarin (18/3).
REMBANG-Penyelenggaraan Festival Thong-Thong Lek 2026 di Rembang menyisakan persoalan klasik yang mencederai estetika kota. Meski diklaim sukses menghibur masyarakat, acara ini meninggalkan ceceran sampah plastik dan kertas di sepanjang rute Jalan Pemuda hingga Jalan Kartini. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang mencatat volume sampah yang dievakuasi mencapai angka fantastis, yakni 6 ton.
Kondisi ini menunjukkan bahwa euforia penonton belum dibarengi dengan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.
Padahal, menurut pantauan di lapangan, jumlah penonton tahun ini relatif lebih sedikit karena faktor hujan yang mengguyur pada Selasa malam (17/3). Jika cuaca cerah, diprediksi volume sampah akan jauh melampaui angka saat ini.
Petugas Berjibaku Selama 7 Jam
Untuk memulihkan kondisi kota agar layak digunakan beraktivitas pada pagi hari, DLH Rembang harus mengerahkan puluhan personel ekstra. Sebanyak 31 petugas kebersihan dan 10 kru sampah dikerahkan sejak pukul 24.00 hingga Rabu pagi (18/3) pukul 07.00.
Operasi pembersihan ini melibatkan satu unit dump truck dan satu mini dump yang harus bolak-balik sebanyak enam kali menuju TPA Landoh.
Kepala DLH Rembang, Ika Himawan Affandi, menyayangkan masih rendahnya tanggung jawab pengunjung dan pedagang.
"Kami butuh waktu hampir 7 jam untuk memastikan jalanan bersih kembali. Ini menjadi beban tambahan yang seharusnya bisa diminimalisir jika semua pihak tertib," tegasnya.
Selain masalah sampah, dampak negatif festival juga terlihat pada rusaknya sejumlah taman kota, terutama di sepanjang Jalan Kartini. Tanaman-tanaman kecil hancur akibat aktivitas pedagang yang sembarangan menumpuk karung stok barang, meletakkan alat masak, hingga membuang sisa es balok di area hijau.
Kerusakan ini memaksa petugas taman untuk melakukan perbaikan seketika di hari yang sama. Hal ini menjadi catatan kritis bagi manajemen tata ruang dan pengawasan pedagang kaki lima saat event besar berlangsung agar fasilitas publik tidak menjadi korban.
Meskipun panitia mengklaim telah menyediakan kantong sampah, fakta di lapangan menunjukkan fasilitas tersebut tidak efektif atau tidak mencukupi. DLH Rembang menyoroti kurangnya koordinasi dari penyelenggara acara terkait penanganan limbah secara sistematis.
Menjelang perayaan Syawalan mendatang, Ika Himawan mengingatkan panitia pelaksana untuk lebih proaktif menjalin kerja sama dengan DLH. “Penambahan titik tempat sampah dan pengawasan ketat di area sensitif seperti taman kota menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahunnya,” tandasnya. (ali)