REMBANG – Gelaran Festival Thong-Thonglek Rembang 2026 berlangsung meriah dan sukses menyedot perhatian masyarakat Kabupaten Rembang.
Agenda budaya tahunan ini kembali menghadirkan pertunjukan spektakuler sekaligus menjadi ajang bergengsi bagi 25 grup peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka, mulai dari permainan alat musik tradisional hingga dukungan sound system modern yang megah.
Atmosfer karnaval begitu terasa dalam festival ini. Sejak pagi, deretan kendaraan hias sudah memenuhi Jalan dr Wahidin.
Sekitar 50 armada terlibat, masing-masing grup membawa satu truk pengangkut sound system, diikuti rombongan kru dan perlengkapan musik yang menjadi ciri khas pertunjukan.
Sebelum digunakan dalam parade, seluruh kendaraan terlebih dahulu menjalani pemeriksaan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) setempat.
Petugas melakukan pengukuran satu per satu untuk memastikan kesesuaian dengan aturan.
Meski ditemukan beberapa kendaraan yang sedikit melebihi batas ukuran, kondisi tersebut masih dalam batas toleransi.
Suasana semakin semarak saat para peserta melakukan uji coba perangkat audio. Dentuman musik dan permainan lampu hias yang diuji berkali-kali menarik perhatian warga.
Banyak masyarakat, baik anak muda maupun orang tua, memanfaatkan momen tersebut untuk merekam dan mengabadikan suasana.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Prapto Raharjo melalui Subkoordinator Pengembangan Kebudayaan dan Kesenian Tradisional, Esty Mirani, menyampaikan bahwa sejak pagi panitia telah mengatur posisi peserta sesuai nomor urut, sekaligus berkoordinasi dengan Dishub untuk memastikan kelayakan kendaraan.
“Sore hari sebelum tampil akan dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa sweeping minuman keras dan senjata tajam setelah apel pasukan,” ujar Esty saat ditemui di lokasi, Selasa (17/3).
Menurutnya, secara umum kendaraan peserta telah memenuhi persyaratan, meskipun terdapat beberapa properti hias yang sedikit melampaui ketentuan.
Namun hal itu tidak mengganggu jalannya pertunjukan.
Untuk penggunaan sound system, panitia juga telah menetapkan batas maksimal delapan subwoofer per grup.
Hal ini dilakukan agar kualitas suara tetap optimal namun tidak berlebihan, sehingga dapat dinikmati penonton di sepanjang rute.
Esty turut mengapresiasi semangat para peserta yang tampil dengan persiapan matang.
Meski sound system menjadi daya tarik, penilaian utama tetap mencakup aransemen musik, vokal, koreografi, busana, serta aspek keamanan dan ketertiban.
Setiap grup dijadwalkan tampil selama 10 menit termasuk waktu persiapan.
Parade dimulai dari perempatan Zaeni pukul 20.00 WIB dengan seremoni pembukaan, dan diperkirakan berlangsung hingga Rabu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
“Peserta benar-benar menyiapkan koreografi dengan serius dan matang,” tambahnya.
Dalam penilaian lomba, panitia melibatkan dewan juri yang kompeten di bidang musik dan koreografi.
Salah satunya adalah Abdul Rahman yang turut memberikan penilaian.
Panitia menyiapkan hadiah bagi enam pemenang. Juara pertama akan menerima uang pembinaan sebesar Rp4 juta, juara kedua Rp3,5 juta, juara ketiga Rp3 juta.
Sementara untuk kategori harapan, masing-masing mendapatkan Rp2,75 juta, Rp2,5 juta, dan Rp2,3 juta, lengkap dengan trofi dan piagam penghargaan. (noe)
Editor : Admin