REMBANG – Bencana tanah bergerak melanda Dukuh Gobok, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.
Peristiwa tersebut menyebabkan lima rumah warga mengalami kerusakan, bahkan dua di antaranya rusak berat hingga bagian dapur dan kamar mandi roboh.
Dari hasil pemantauan di lokasi, pergerakan tanah terjadi sepanjang hampir 50 meter dengan kedalaman sekitar dua meter.
Retakan yang sebelumnya muncul di area belakang permukiman semakin melebar hingga memicu kerusakan pada bangunan warga.
Dua rumah yang mengalami kerusakan paling parah diketahui milik Sunarto dan Umbartono.
Dinding belakang rumah keduanya runtuh akibat tekanan tanah yang terus bergerak.
Chori’, istri Sunarto, mengatakan retakan tanah mulai terlihat sejak awal Februari.
Kondisi tersebut semakin parah setelah hujan deras mengguyur wilayah itu selama beberapa hari berturut-turut.
“Awalnya sekitar 5 sampai 7 Februari sudah muncul retakan kecil di belakang rumah. Setelah hujan deras, air masuk ke celah retakan sehingga kerusakan makin parah,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Ia menuturkan, pergerakan tanah semakin terasa pada 7 hingga 9 Februari, terutama saat hujan turun.
Baca Juga: Modus Baru Penipuan WhatsApp Mengatasnamakan Pejabat Pati, Warga Diminta Hati-Hati
Menurutnya, kejadian seperti ini belum pernah dialami sebelumnya oleh warga setempat.
Total terdapat lima rumah di RT 2 RW 1 Dukuh Gobok yang terdampak, masing-masing milik Sunarto, Sutarji, Arif Lukman, Umbartono, dan Suwarni.
Kerusakan terparah terjadi pada rumah Sunarto dan Umbartono. Selain bangunan, sejumlah perabot rumah tangga juga ikut rusak akibat tanah yang ambles.
Meski kondisi rumah bagian belakang telah runtuh dan aktivitas memasak serta mencuci menjadi terganggu, Chori’ mengaku masih bertahan di rumahnya.
Ia terpaksa memindahkan aktivitas sehari-hari ke bagian depan rumah, meskipun merasa khawatir jika bangunan kembali rusak.
Baca Juga: Isu LPG Langka di Blora Disebut Rekayasa Oknum, Ini Penjelasan Pertamina
Warga lainnya, Yusman, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan retakan tanah awalnya kecil, namun terus melebar setelah wilayah itu diguyur hujan deras selama beberapa hari.
Menurutnya, fenomena tanah bergerak ini merupakan kejadian pertama di daerah tersebut sehingga warga kini diliputi rasa cemas, terutama saat hujan turun.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, menyampaikan bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor utama yang memicu pergerakan tanah.
Intensitas hujan yang tinggi membuat kondisi tanah menjadi gembur dan tidak stabil.
Berdasarkan hasil asesmen sementara, panjang tanah yang mengalami penurunan mencapai sekitar 62 meter dengan total kerugian ditaksir sekitar Rp192 juta.
Rumah milik Sunarto dilaporkan ambles hingga dua meter dengan estimasi kerugian Rp90 juta. Kerusakan kandang ternak milik Sutarji diperkirakan mencapai Rp12 juta.
Selain itu, rumah Arif Lukman mengalami kerusakan pada bagian pondasi serta retakan dinding dengan taksiran kerugian Rp10 juta.
Rumah Umbartono mengalami kerusakan pada kamar mandi dan kandang dengan estimasi kerugian Rp50 juta, sedangkan rumah Suwarni mengalami retakan pada dinding lantai dua dengan kerugian sekitar Rp30 juta.
Baca Juga: Emas Antam Kembali Menguat, Ini Harga Terbaru dan Rincian Lengkapnya
BPBD Kabupaten Rembang telah melakukan pendataan terhadap warga terdampak serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan organisasi perangkat daerah terkait guna menentukan langkah penanganan lanjutan.
Meski pergerakan tanah masih berpotensi terjadi, sebagian warga memilih tetap tinggal karena kerusakan bangunan umumnya berada di bagian belakang rumah.
Sebagai bentuk penanganan darurat, lima keluarga terdampak telah menerima bantuan kebutuhan pokok dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang.
BPBD mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan deras, karena kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempercepat pergerakan tanah dan memperluas area terdampak.
Hingga kini, pemantauan di lokasi masih terus dilakukan guna mengantisipasi risiko lanjutan bagi warga sekitar. (noe)