Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 17 Maret tersebut akan diikuti maksimal 25 peserta.
Konsep yang diusung adalah nuansa tempo dulu (jadoel) dengan sentuhan era 1970–1990-an, serta menampilkan lagu-lagu tradisional dan religi.
Baca Juga: Menu Bubur Kacang Ijo Diduga Berbelatung, Menuai Protes Keras Warga Rembang
Rapat persiapan awal digelar pada Selasa (25/2) di ruang rapat Sekda.
Pertemuan tersebut dipimpin Sekda Rembang Fahrudin dan dihadiri unsur Polres Rembang, Kodim 0720 Rembang, organisasi perangkat daerah terkait, PMI, serta event organizer.
Agenda rapat membahas teknis pelaksanaan, arahan dari Sekda, serta berbagai masukan dari pihak kepolisian.
Sejumlah hal teknis turut dibahas, termasuk rute pawai yang telah disetujui, yakni dimulai dari perempatan Zaeni dan berakhir di Gedung Haji Rembang.
Peserta diwajibkan hadir tepat waktu sesuai jadwal yang direncanakan mulai pukul 20.00 WIB.
Selain itu, antrean peserta tidak diperbolehkan menumpuk dan jarak antar peserta harus diatur dengan baik.
Panggung kehormatan direncanakan tetap berada di depan Bank Jateng dengan posisi menghadap ke barat.
Rute pawai dimulai dari sisi barat perempatan Zaeni, kemudian bergerak ke selatan melalui Jalan Kartini dan Jalan Pemuda hingga finis di Gedung Haji.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis di Rembang dalam Bentuk Makanan Kering Menuai Beragam Tanggapan
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, menjelaskan bahwa peserta akan menampilkan lagu-lagu klasik dan religi dengan kostum bernuansa era awal kemunculan Thong-Thonglek sebagai musik pembangkit sahur.
“Lagu yang dibawakan antara lain Rembang Bangkit, Sajadah Panjang, dan Ilir-Ilir. Kostum yang dikenakan bernuansa era 1970-an hingga 1990-an,” ujarnya.
Dalam selebaran resmi, terdapat 12 pilihan lagu yang dapat ditampilkan peserta, di antaranya Rembang Bangkit, Perdamaian karya KH Ahmad Buchori Masruri, Kota Santri oleh H. Suhemi (Nasidaria).
Jilbab Putih, Sajadah Panjang (Bimbo), Tuhan (Bimbo), Ada Anak Bertanya pada Bapaknya (Taufik Ismail), Lir-Ilir, Turi Putih, Sluku-Sluku Bathok, Sholawat Badar, serta Ya Nabi Salam Alaika.
Peserta juga dibatasi antara 20 hingga 25 kelompok dan seluruhnya merupakan warga Rembang.
Baca Juga: Menu MBG Ramadan di Kabupaten Rembang Disorot, Paket Kering Dinilai Minimalis
Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang, Prapto Raharjo, menuturkan tema Thong-Thonglek tahun ini adalah “Njaga Kerukunan, Njaga Kebudhayan”.
Kegiatan tersebut diharapkan mampu mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus melestarikan budaya daerah.
Menurutnya, kegiatan Thong-Thonglek selalu dinantikan warga karena menjadi ajang berkumpul bersama keluarga serta memperkuat hubungan sosial antar masyarakat.
Selain itu, panitia juga menetapkan aturan terkait armada yang digunakan peserta.
Kendaraan yang diperbolehkan hanya jenis L300 atau sejenisnya, sedangkan penggunaan kendaraan besar seperti truk tronton tidak diizinkan.
Kebijakan ini diterapkan untuk menghindari kendala teknis di sepanjang rute serta menjaga keselamatan peserta dan penonton.
Rencananya, kendaraan yang akan digunakan peserta akan diperiksa sehari sebelum pelaksanaan. Panitia juga diminta bersikap tegas agar seluruh aturan dipatuhi.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan sejumlah penghargaan dan nominasi bagi peserta terbaik.
Penilaian meliputi aspek kreativitas, kekompakan, serta keunikan penampilan yang mencerminkan identitas budaya lokal. (noe)