Pelaksanaan program MBG di Kabupaten Rembang hingga kini belum menjangkau seluruh sekolah.
Baca Juga: Sandal dan Alat Pancing Jadi Petunjuk, Bocah 8 Tahun di Rembang Ditemukan Tenggelam di Embung
Berdasarkan pantauan di sejumlah satuan pendidikan, menu yang diberikan bervariasi sesuai kebijakan masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Beberapa sekolah menerima paket berisi roti, empat butir telur puyuh, kacang kapri, serta minuman kemasan.
Di tempat lain, menu terdiri dari roti, telur puyuh, kacang, dan buah pisang. Ada pula paket yang berisi tahu, roti, kacang, dan potongan buah melon.
Sementara di sekolah lainnya, siswa mendapatkan telur rebus, ubi, serta tiga butir kurma.
Sejumlah orang tua murid memberikan tanggapan beragam terkait pelaksanaan program tersebut.
Slamet, salah satu wali murid, berharap anggaran sebesar Rp10 ribu per porsi benar-benar digunakan sesuai ketentuan dan tidak disalahgunakan.
Ia menilai masih ditemukan menu yang nilainya diduga di bawah standar tersebut.
Menurutnya, jika menu yang diberikan hanya berupa makanan ringan sederhana, sebagian besar orang tua sebenarnya masih mampu menyediakannya sendiri.
Baca Juga: Menu MBG Ramadan di Kabupaten Rembang Disorot, Paket Kering Dinilai Minimalis
Ia bahkan berpendapat anggaran besar program tersebut sebaiknya dialihkan untuk program lain, seperti pendidikan gratis.
Hal serupa disampaikan Fitri, orang tua siswa lainnya, yang mempertanyakan kandungan gizi dari paket MBG.
Ia menilai ada SPPG yang tertib menyampaikan informasi nilai gizi, namun ada pula yang dinilai sekadar menyalurkan makanan tanpa memperhatikan kualitas kandungannya.
Meski demikian, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi kepada pihak SPPG yang dianggap tidak memenuhi standar.
Peran pemerintah daerah lebih pada pengawasan dan pendampingan, sementara kewenangan penuh berada di Badan Gizi Nasional.
Baca Juga: Kabar Gembira, Festival Thong-Thonglek Rembang Segera Digelar, Warga Diminta Bersiap
Ketua Satgas MBG Kabupaten Rembang yang juga Wakil Bupati, Moch. Hanies Cholil Barro’, dalam beberapa kesempatan mengingatkan agar seluruh SPPG mematuhi ketentuan terkait nilai porsi dan kualitas gizi.
Ia menegaskan pelaksanaan program harus mengacu pada pedoman yang jelas, dengan prioritas utama pada kualitas gizi serta penggunaan anggaran sesuai aturan.
Pada masa Ramadan, bantuan MBG diberikan dalam bentuk makanan kering yang disesuaikan dengan kondisi siswa yang berpuasa.
Jika pada hari biasa paket disajikan dalam bentuk makanan siap santap seperti nasi dan lauk, selama Ramadan menu diubah menjadi makanan kering dan distribusinya dilakukan lebih awal.
Di wilayah Lasem, misalnya, siswa menerima paket berisi pisang, telur puyuh, kacang telur, dan bolu manis yang langsung dimasukkan ke tas untuk dibawa pulang.
Di beberapa sekolah, paket tersebut disepakati untuk dikonsumsi saat waktu berbuka puasa.
Pembagian paket MBG umumnya dilakukan pada jam sekolah dan selesai sebelum pukul 10.00 WIB, seiring dengan jadwal kepulangan siswa yang lebih awal selama Ramadan.
Sorotan juga muncul terkait variasi menu di lapangan.
Baca Juga: TRAGIS! Nyawa Pemancing Muda Melayang di Embung Purworejo, BPBD Rembang Lakukan Pencarian 10 Jam
Di wilayah Sale, beredar foto di media sosial yang menunjukkan paket MBG hanya berisi tiga jenis makanan, yakni susu, jasuke, dan pisang raja.
Kepala Bidang Pembinaan SD, Kapti Prastiyo Aji, menyatakan pihaknya masih mengumpulkan data terkait pelaksanaan program tersebut di lapangan.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 60 SPPG terlibat dalam penyaluran MBG di Rembang sehingga belum diketahui secara pasti tingkat kesesuaian pelaksanaan dengan ketentuan yang berlaku.
Pihak dinas juga belum memetakan secara detail variasi menu yang disalurkan, termasuk kemungkinan pemberian paket untuk beberapa hari sekaligus.
Secara umum, porsi makanan kering dinilai masih perlu dievaluasi, sehingga diperlukan survei harga dan pemantauan langsung untuk memperoleh data yang lebih akurat.
Baca Juga: Dukung Pelestarian Budaya Jawa, BRI Bantu Sarana Sanggar Seni di Kaliombo Rembang
Meski terdapat berbagai masukan dan kritik, pelaksanaan program MBG di Kabupaten Rembang sejauh ini belum mendapat penolakan secara luas.
Pemerintah daerah berharap sekolah dapat memberikan evaluasi apabila ditemukan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan program.
Sementara itu, Kepala Dapur Aprilia Qulan Syakila membenarkan bahwa pendistribusian MBG selama pekan ini dilakukan dalam bentuk makanan kering, dengan melibatkan sekitar 60 SPPG sebagai penyalur ke sekolah-sekolah. (noe)