Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke Jadi Penopang Ekonomi, Suplai Air Bersih Kapal Capai 20 Ton

Ali Mahmudi • Jumat, 23 Januari 2026 | 07:19 WIB

DOK. RADAR KUDUS
POTENSI: Pelabuhan Tanjung Bonang, Sluke, menjadi salah satu potensi Kabupaten Rembang.

Photo
Photo

REMBANG - Suplai air bersih untuk kapal tugboat di Pelabuhan Tanjung Bonang, Sluke, setiap kapal yang bersandar memiliki kebutuhan air bersih yang berbeda-beda.

Secara umum, ditetapkan batas minimal pengisian sebesar 20.000 liter atau setara dengan 20 ton untuk setiap unit armada seperti kapal tongkang atau tugboat.

​Berdasarkan data operasional di lapangan yang diterima Jawa Pos Radar Kudus, harga air bersih untuk kebutuhan bunker ini dipatok sebesar Rp 50.000 per ton. Sebagai contoh, untuk pengisian standar sebanyak 50 ton pada sebuah kapal tunda, total biaya yang tercatat adalah sebesar Rp 2.500.000.

​Volume pengisian air ini sangat bergantung pada durasi pelayaran dan kondisi di pelabuhan tujuan. Kapal yang akan menempuh rute jauh atau harus mengantisipasi antrean sandar yang lama di lokasi berikutnya seringkali menambah muatan air mereka hingga mencapai 100 ton atau 100.000 liter.

​Dalam satu hari, frekuensi pengisian di Pelabuhan Tanjung Bonang bisa melayani lebih dari dua kapal sekaligus. Terkait sistem transaksi, pihak penyedia jasa menetapkan tenggat waktu pembayaran yang harus diselesaikan paling lambat dua hari setelah kegiatan pengisian air ke kapal selesai dilakukan.

Kepala Kantor Unit Penyelenggaraan Pelabuhan (KUPP) Kelas III Rembang Ansori meluruskan jika pengisian air tawar tersebut bukan untuk kapal tongkang melainkan mengisi kebutuhan kapal tugboat (kapal penarik tongkang). Sementara kapasitasnya pengisianya tidak masing-masing tong bout berbeda-beda, menyesuaikan gross ton (GT) kapalnya. “Ada yang 30 dan 40 GT,” ujarnya.

Ia menyebutkan dari sekitar lima pemohon kebutuhanya air volumenya mulai 8 sampai 24 ton.”Itu pun tidak tiap hari,” tandasnya.

Terkait protes warga Blimbing atas aktivitas PT Tirta Yasa Group dan dua pemilik penyedia air lainnya. Ansori enggan berkomentar banyak. Menurutnya legalitas para penyedia sudah sesuai dan telah mengantongi izin dari kementerian.”Ini juga sudah sesuai dengan program pemberdayaan UMKM di wilayah sekitar,” tambahnya.
Ansori pun enggan berkomentar soal harga per ton. Karena itu ranah dari penyedia.”Kami kurang tahu pasti soal harga,” ujarnya.
Terpisah Camat Sluke M. Anshori mengaku terkait penolakan warga atas eksploitasi air oleh PT Tirta Yasa Group belum dijadwalkan untuk pertemuan ulang. Hal itu karena para pihak masih sibuk dengan urusanya masing-masing. “Belum (dijadwalkan). Pihak perusahaan sibuk dan desa masing-masing masih sibuk musdes,” jelasnya. (ali)

Editor : Mahendra Aditya
#pemkab rembang #esdm jateng #desa blimbing #PT Tirta Yasa Group #dlh rembang #pelabuhan sluke rembang #kementerian esdm #camat sluke