REMBANG – Penantian masyarakat akan hadirnya pusat jual beli ternak yang lebih layak akhirnya terjawab.
Bupati Rembang, Harno, secara resmi mengoperasikan Pasar Hewan Pamotan yang baru pada Selasa (30/12).
Meski sudah mulai difungsikan, hari pertama operasional pasar ini langsung memunculkan sejumlah catatan evaluasi, terutama terkait pengaturan lalu lintas kendaraan dan kenyamanan aktivitas perdagangan.
Baca Juga: Ramai Dugaan Bisnis LKS SD Rembang, Pihak Terkait Saling Lempar Tanggung Jawab
Acara peresmian dihadiri Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’, unsur Forkopimda, serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis.
Pasar hewan tersebut berdiri di atas lahan seluas 20.853 meter persegi, jauh lebih luas dibandingkan pasar lama yang hanya memiliki area sekitar 5.000 meter persegi dan selama ini kerap menjadi sumber kemacetan.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dinindagkopukm) Kabupaten Rembang, M. Mahfudz, menyampaikan bahwa pembangunan Pasar Hewan Pamotan tahap pertama masih membutuhkan sejumlah pembenahan.
Salah satu keluhan utama dari pedagang adalah keterbatasan akses, karena saat ini hanya tersedia satu jalur yang digunakan sekaligus sebagai pintu masuk dan keluar.
“Pedagang dan masyarakat berharap ada jalur keluar tersendiri supaya kendaraan bisa masuk, bongkar muatan, lalu segera keluar tanpa menimbulkan kepadatan.
Baca Juga: Bisnis Gelap LKS di SD Rembang Terkuak, Diduga Ada Jatah Rp1.000 per Buku
Ini akan menjadi fokus pada tahap pengembangan berikutnya, termasuk rencana kerja sama pemanfaatan lahan Perhutani untuk area parkir, UMKM, dan akses jalan tambahan,” jelas Mahfudz.
Untuk pembangunan tahap kedua, Pemerintah Kabupaten Rembang membuka peluang pendanaan melalui bantuan keuangan Provinsi pada tahun 2026 atau pengajuan anggaran ke pemerintah pusat melalui APBN.
Sejumlah fasilitas yang direncanakan meliputi penambahan los, perbaikan drainase, pembangunan pagar, serta penambahan akses jalan.
Di sisi lain, para pedagang menyambut baik diresmikannya pasar baru tersebut, meski menilai pengelolaan di lapangan masih perlu penataan ulang.
Salah satu pedagang sapi, Kundori, menilai tata letak los belum mendukung transaksi ternak berskala besar.
“Masih terlihat semrawut karena ternak kecil dan besar bercampur. Los juga terasa sempit dan padat. Harapan kami desainnya sederhana tapi lebih luas, dengan penataan patok yang rapi agar lebih nyaman, seperti pasar hewan di Jawa Timur,” ujar Kundori. (noe)
Editor : Ali Mustofa