Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Viral! Study Tour Rp 1,3 Juta Dikeluhkan Wali Murid di Rembang

Ali Mahmudi • Sabtu, 13 Desember 2025 | 00:05 WIB

 

Ilustrasi bus wisata
Ilustrasi bus wisata

REMBANG – Biaya study tour yang mahal di sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Rembang memicu kontroversi dan keluhan dari wali murid. Tak tanggung-tanggung untuk ongkos ke Jogjakarta mencapai Rp 1,3 juta. 

Keluhan ini mencuat kali pertama di SMPN 1 Lasem viral di media sosial pada 23 November lalu. Berdasarkan surat pemberitahuan, biaya perjalanan ke Jogjakarta (paket Jogja I) mencapai Rp 1,3 juta per siswa.

SMPN 1 Lasem menggunakan biro jasa di NUT sebagai penyedia kegiatan. Uang sebesar itu untuk durasi dua hari satu malam dengan tujuan di enam objek wisata plus penginapan dan kaos.

Di media sosial, keluhan ini memicu reaksi beragam, dengan banyak warganet mendukung keberatan wali murid, terutama bagi yang kondisi ekonominya pas-pasan.

Bahkan ada yang membandingkan biaya ke Jogja tersebut dengan perjalanan ke Bali. Selain itu, sempat beredar narasi di media sosial yang menuding adanya intervensi dari oknum aparat dinas dalam pemilihan penyedia jasa study tour.

Keluhan dari wali siswa juga datang dari SMPN 1 Sulang, dengan biaya perjalanan ke Jogjakarta sebesar Rp 1,250  juta per anak.

Salah seorang wali murid SMPN 1 Sulang, yang memilih nama samaran Yati, mengaku sangat keberatan dengan besaran biaya tersebut. Ia mengungkapkan kesulitannya karena sedang tidak bekerja dan tidak memiliki pemasukan.

“Biaya sebesar ini sangat sulit dipenuhi. Kami berharap pihak sekolah bisa lebih mempertimbangkan kondisi ekonomi orang tua siswa,” tandasnya.

Ia mengaku tak hanya dirinya yang mengalami kesulitan ekonomi. Dari 32 siswa di kelas anaknya hanya 21 yang turut dalam study tour tersebut.”Ada 9 murid yang memutuskan tidak ikut,” ujarnya.

Pihak internal sekolah SMPN 1 Lasem yang enggan dikorbankan namanya saat dikonfirmasi menyebutkan jika  kegiatan study tour untuk tahun ajaran 2025/2026 belum dilaksanakan dan masih direncanakan berlangsung pada Februari.

Pihak sekolah membantah adanya paksaan dari atasan atau pengarahan dari dinas dan oknum aparat. Pemilihan biro dilakukan oleh panitia setelah adanya presentasi dari biro perjalanan.

”Mboten, saya tidak merasa dipaksa oleh atasan saya, di Ritula ada presentasi dari biro yang masuk, lalu panitia yang memilih,” terangnya.

Terpisah Kepala Sekolah SMPN 1 Sulang Kepala Sekolah SMPN 1 Sulang Sapto Eddy Kurniawanto mengakui jika sekolahnya berencana menggelar kegiatan "Outing class ke Jogja" dan penggunaan jasa NUT.

Pihak sekolah menegaskan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan tersebut bersifat tidak paksaan. "Sifat tidak paksaan dan ada persetujuan dan izin dari orang tua wali bagi yang ikut saja," jelasnya.

Pihak sekolah juga membenarkan bahwa siswa yang secara ekonomi tidak mampu diperbolehkan untuk tidak ikut kegiatan tersebut.

KBO Reskrim Iptu Widodo Eko Prasetyo sekaligus Kasi Propam Polres Rembang mengaku belum tau atas dugaan adanya keterlibatan oknum aparat kepolisian yang bermain pada proyek biro jasa study tour. “Belum mas” tandasnya. (ali)

Editor : Mahendra Aditya
#dindikpora rembang #inspektorat rembang #kejaksaan negeri rembang #pengkondisian biro jasa study tour di Rembang #polres rembang #study tour