Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sebulan Tiga Kasus Bundir di Rembang!. Kali Ini Bocah 15 Tahun, Diduga Depresi Tak Pegang HP

Ali Mahmudi • Kamis, 27 November 2025 | 21:44 WIB
NEKAT: Bocah berumur 15 tahun MK nekat bunuh diri diduga kuat karena depresi tak pegang ponsel.
NEKAT: Bocah berumur 15 tahun MK nekat bunuh diri diduga kuat karena depresi tak pegang ponsel.

REMBANG – Seorang pelajar Madrasah Aliyah (MA) di Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di rumahnya, Desa Jambangan, Sarang, pada Rabu malam (26/11).

Bocah berumur 15 tahun nekat mengakhiri hidupnya diduga kuat karena depresi tak pegang ponsel.

Kasus ini bunuh diri ini menjadi catatan kelam di Rembang. Sebab dalam kurun November ini sudah ada tiga kasus bunuh diri.

Pertama di 13 November 2025 (Kamis): Seorang wanita muda (berinisial TDS, 19 tahun, warga Pancur) ditemukan tewas gantung diri di sebelah timur Pantai Dasun, Kecamatan Lasem.

Kemudian ​15 November 2025 (Sabtu): Seorang pria (berinisial NS, 53 tahun, buruh harian lepas) ditemukan tewas gantung diri di sebelah rumah korban di Desa Mrayun, Kecamatan Sale.

Dan ​26 November 2025 (Rabu): Seorang remaja berinisial MK (15 tahun) ditemukan tak bernyawa akibat gantung diri di dalam rumah orang tuanya.

Korban berinisial MK (15 tahun), ditemukan pada sekitar pukul 21.25 WIB.

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh ayah tiri korban, Suladi (45), sekembalinya dari acara pernikahan di Desa Pelang, tak jauh dari rumahnya.

Saat tiba di rumah, Suladi melihat sepeda motor korban terparkir di luar. Ketika masuk ke dalam rumah untuk menyuruh korban memindahkan motor.

Suladi menemukan korban sudah dalam posisi tergantung di depan kamar mandi.

Korban gantung diri menggunakan tali kain berwarna krem bekas tali pakan kambing. Ketinggian simpul tali dari tanah dilaporkan berjarak 220 cm.

Melihat kondisi tersebut, sontak berteriak meminta tolong dan dibantu warga menurunkan korban dengan memotong tali menggunakan pisau dapur.

Kepala desa setempat kemudian menghubungi petugas Polsek Sarang dan Puskesmas.

Berdasarkan pemeriksaan medis yang dilakukan oleh petugas Puskesmas Sarang 2 ditemukan sejumlah tanda yang mengarah pada murni gantung diri.

Meliputi, luka lebam bekas jeratan tali di leher, lidah menjulur keluar, akral (ujung tubuh) sudah dingin dan nadi tidak teraba dan alat kelamin menegang, namun tidak mengeluarkan sperma.

Petugas medis memastikan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Laporan pelapor menyimpulkan bahwa korban murni meninggal akibat bunuh diri, yang dianalisis sebagai akibat dari depresi.

Subhan Kades Jambangan, Sarang, mengakui adanya insiden gantung diri di wilayahnya.

Korban sesuai dokumen kependudukan itu tercatat warga Selo-Pelang Tuban, namun domisili tempat tinggal saat di Jambangan bersama ibu dan ayah tirinya.

Subhan mengaku tidak tahu pasti penyebab korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Namun menurut keterangan dari orang tua itu gara-gara pagi itu HP korban disita sekolahan.

Dan orang tua disuruh mengambilkan orang tua. Namun, ponsel itu baru bisa diambil besoknya.

“Orang tuanya bilang HP nya disuruh nunggu besok. Habis bilang gitu pergi rewang ke saudara, orang tua pulang dari rewang ke rumah saudara tiba-tiba sudah gak ada ditemukan gantung diri,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Kudus.

Atas kejadian tersebut pihak keluarga menyatakan menerima musibah yang menimpa MK.

Dengan adanya pernyataan penolakan otopsi, jenazah korban kemudian diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. (ali)

Editor : Ali Mustofa
#pemkab rembang #harno hanies #bunuh diri akibat depresi #dinsos rembang #polres rembang #kabupaten rembang